Yayasan Dakwah Al-Ikhlas

Mengkaji Alquran dengan Pendekatan Ilmiah

gomuslim.co.id- Fakta Ilmiah dalam Alquran telah terbukti kebenarannya yang banyak ditemukan oleh para ilmuwan. Setiap Rasul yang diutus Allah SWT kepada manusia dibekali dengan keistimewaan-keistimewaan yang disebut mukjizat. Mukjizat ini bukanlah kesaktian ataupun tipu muslihat untuk memperdayai umat manusia, melainkan kelebihan yang Allah SWT berikan untuk meneguhkan kedudukan para Rasulnya dan mempertegas seruan (dakwah) mereka agar manusia beriman kepada Allah SWT dan tidak mempersekutukan-Nya (tauhid).

Sebagai contoh, terdapat firman Allah yang berbunyi “Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka...” (QS. Al Anbiya:31).

Sebagaimana terlihat, dinyatakan dalam ayat tersebut bahwa gunung-gunung berfungsi mencegah goncangan di permukaan bumi. Kenyataan ini tidaklah diketahui oleh siapapun di masa ketika Alquran diturunkan. Nyatanya, hal ini baru saja terungkap sebagai hasil penemuan geologi modern. Menurut penemuan ini, gunung-gunung muncul sebagai hasil pergerakan dan tumbukan dari lempengan-lempengan raksasa yang membentuk kerak bumi.

Ketika dua lempengan bertumbukan, lempengan yang lebih kuat menyelip di bawah lempengan yang satunya, sementara yang di atas melipat dan membentuk dataran tinggi dan gunung. Lapisan bawah bergerak di bawah permukaan dan membentuk perpanjangan yang dalam ke bawah. Ini berarti gunung mempunyai bagian yang menghujam jauh ke bawah yang tak kalah besarnya dengan yang tampak di permukaan bumi.

Kajian ilmu Alquran yang sejalan dengan ilmu pengetahuan ilmiah inilah yang menjadi landasan dari Yayasan Dakwah Al-Ikhkas. Yayasan ini sendiri didirikan oleh alumni pendidikan mubaligh Al Azhar yang berasal dari para masyarakat dari berbagai golongan yang setelah pensiun mengikuti kegiatan mubaligh tersebut.

Hal ini diutarakan oleh Fachri Amin, selaku Sekretris dari yayasan Dakwah Al-Ikhlas saat wawancara ekslusif dengan tim gomuslim di Jakarta (19/11).

“Kami dulu setelah pensiun, mengikuti pendidikan mubaligh di Al Azhar, kami berasal dari berbagai macam background pekerjaan yakni ada dari Duta Besar, ada mantan Bankir, ada mantan Guru, ada Dokter dan ada pengacara,”

Fachri menceritakan, untuk mengaplikasikan ilmu yang Ia dan rekannya dapatkan, maka didirikanlah Yayasan ini. “semula merupakan lembaga dakwah, ditingkatkan menjadi yayasan dakwah,”

Tujuan Komunitas Dakwah Al Ikhlas

Fachri menjelaskan bahwa tujuan dari didirikannya yayasan ini adalah untuk mengembangkan dakwah dengan mengkaitkan kepada ilmu ilmiah, sebab selama ini, badan atau lembaga dakwah yang ada hanyalah semata-mata karena dakwah dan soal keagamaan.

“tapi kami karena terdiri dari dokter, pengacara, ahli hukum, ahli matematika dan keinginan kami berdakwah itu tidak hanya semata-mata Al Quran tapi mengkaitkan apa yang ada di dalam Alquran dengan ilmu pengetahuan atau Science,” jelasnya.

Ia juga memaparkan sebelum mengadakan seminar tentang kajian Penyakit Jantung (Qolbu) yang ditinjau dari sudut medis dan Al-Quran, mereka juga pernah mengadakan kegiatan serupa dengan topik lainnya.

Selain mengadakan sebuah simposium, Yayasan Dakwah Al-Ikhlas juga sering mengadakan dakwah lewt Khutbah Jum’at, kemudian mengadakan program santunan untuk Anak Yatim Piatu dan Duafa, mengadakan tausyiah di penjara serta memberikan edukasi kepada kaum Dhuafa.

Ia juga menjelaskan semula keangggotaannya masih berjumlah sekitar 60 orang saja, namun ketika sudah menjadi yayasan yang mana yayasan tidak mempunyai anggota dan haya pengurus, yang berjumlah 25 orang sampai dengan saat ini yang diketuai oleh Dr. Saharawati.

“Kami para pengurus yang berasal dari berbagai background pendidikan seperti guru, saya sebagai mantan Bankir, hingga pengusaha yang membagikan ilmu yang kami dapatkan untuk kebaikan umat,” tambah Fachri.

Untuk diketahui, Yayasan Dakwah Al-Ikhlas sendiri melakukan kegiatan simposium ini sebanyak empat kali dalam setahun, yakni mereka melakukannya di tiap kuartal dalam setahun tentunya dengan tema yang beragam dan menarik untuk diikuti.

Ke depannya, meskipun mereka belum merencanakan ide untuk simposium selanjutnya, tapi mereka pasti akan melakukannya di tahun depan, mengenai tema sendiri, Fachri mengaku tema yang diambil untuk kegiatan simposium berdasarkan keinginan dari masyarakat.

Sementara itu, disinggung mengenai penggunaan media sosial sebagai sarana untuk memberikan informasi terkait kegiatan selanjutnya, Fachri mengatakan bahwa saat ini Yayasan Dakwah Al-Ikhlas belum melakukan hal tersebut, namun ke depannya tidak menutup kemungkinan untuk mengunakan sosial media, selama digunakan dengan baik dan tidak menyebarkan informasi terkait dengan propaganda dan hal negatif lainnya. (ari)

 Baca juga:

Ini Rahasia Penyakit Jantung (Qolbu) Ditinjau dari Sudut Medis dan Alquran


Back to Top