Komunitas Punk Muslim, Ajak Anak Punk Lebih Dekat dengan Islam

gomuslim.co.id- Setiap orang punya titik balik hidupnya di mana hidayah akan menggerakan hati untuk berubah. Kalimat ini bisa menjadi gambaran bagi Komunitas Punk Muslim yang tengah menggencarkan dakwahnya di kalangan Anak Punk.

Bagi sebagian orang, istilah Punk identik dengan hal yang kurang baik. Hal inilah yang akhirnya diubah oleh Punk Muslim. Sebuah komunitas punk yang menerapkan Islam sebagai pola kehidupan sehari-hari. Wadah yang mewakili anak muda yang gemar melawan kemungkaran serta mengajak atau berdakwah dalam melakukan hal-hal positif untuk lebih dekat dengan Islam dan hijrah.

Keberadaan Punk Muslim berawal dari Jakarta pada tahun 2007 binaan Ahmad Zaki sedangkan Punk Muslim di Surabaya binaan Aditya Abdurrahman yang mengawalinya di tahun 2014.

Kegiatan Punk Muslim

Saat ditemui gomuslim, pembina Punk Muslim Surabaya, Aditya atau yang akrab disapa Aik mengatakan Punk Muslim Surabaya sendiri memiliki kegiatan mingguan yang berkaitan dengan keislaman adalah halaqah ‘PunKajian’, yakni kegiatan mingguan di mana anggota akan bertemu, sharing, dan mengkaji suatu pembahasan tertentu yang kaitannya dengan Islam. “Yang penting kita ketemu, saling ngobrol untuk bahas suatu hal yang ada kaitannya dengan pengetahuan Islam,” ujar Aik.

Sedangkan, kegiatan bulannya meliputi koloborasi antara komunitas, salah satunya kegiatan yang diberi nama ‘Ngaji After Futsal’ yakni kegiatan mengaji setelah bermain futsal di tengah lapangan.

Aik menambahkan saat bulan Ramadhan Punk Muslim juga rutin mengadakan kegiatan buka puasa bersama, dan itikaf. Selain kegiatan internal, adapun kegiatan online meliputi dakwah di sosial media, dan kegiatan offline turut berkolaborasi antar komunitas dan membagi-bagikan buku panduan Ramadhan saat bulan puasa kepada masyarakat umum dan mengajak anak punk yang lain untuk bergabung.

Keanggotaan

Dikatakan Aik, tidak ada persyaratan khusus keanggotaan jika ingin bergabung dengan Punk Muslim, sampung dia, yang terpenting adalah komitmen dalam menjalankan kegiatan di kota masing-masing. “Tapi Punk Muslim tidak bisa sembarang dibuat, karena rawan dengan hal-hal yang negatif jika tidak istiqomah dalam menjalankannya. Harus ada izin dan pembinaan dari pusat,” tambah Aik.

Punk identik dengan sesuatu yang negatif sedangkan Muslim identik dengan sesuatu yang baik dan suci yang bertolak belakang. “Karena itu kami khawatir akan ada persepsi yang berbeda dari masyarakat, karena itu harus ada pendampingan yang intens agar tidak bertentangan dengan ideologi Punk Muslim,” kata Aik yang juga penulis buku Melawan Arus yang membahas pemikiran subkultur Punk Islam di Indonesia.

Aik mengatakan saat ini sudah ada puluhan pemuda yang berhijrah dan memiliki kontribusi dengan Punk Muslim di setiap kegiatan-kegiatannya baik online dan offline yang tersebar di Jakarta, Surabaya dan Bekasi.

Salah seorang anggota Punk Muslim yang sudah berhijrah, Arga Rizki menuturkan selama mengenal Punk Muslim hidupnya berubah. Awalnya ia hidup dalam lingkungan kelam seperti tato, khamar dan pergaulan negatif lainnya. Kini ia berhijrah, aktif mendalami agama dan turut berkontribusi berbagi pengalaman dan kisah inspiratifnya di Punk Muslim.

“Dalam hidup ini apa lagi yang kita cari selain kenikmatan duniawi, mumpung masih muda, masih dikasih kesehatan dan kesempatan. InssyaAllah kalo udah ada niat hijrah akan berjalan lancar,” ujar Arga dalam video yang diunggah di akun instagram @punkmuslim. (nat)


Back to Top