Komunitas Pendaki Muslim: Berpetualang untuk Syiar dan Dakwah Islam

gomuslim.co.id- Kegiatan mendaki gunung akhir-akhir ini menjadi sebuah hobi yang banyak digemari kalangan muda di Tanah Air. Betapa tidak, aktivitas menantang di alam memberikan suguhan berbeda. Karena selain berolahraga, para pendaki dapat menikmati keindahan yang tiada duanya.

Belakangan bahkan muncul beragam perkumpulan yang mewadahi mereka yang punya hobi cukup ekstrem ini. Komunitas-komunitas ini hadir mewarnai dunia petualangan.  Salah satunya termasuk Komunitas Pendaki Muslim (KPM).   

Kepada gomuslim, Rais Am KPM, Dean Raharjo mengatakan bahwa KPM ini diawali dengan adanya pertemuan beberapa aktivis kelestarian lingkungan dan para pegiat alam berbasis muslim saat erupsi Gunung Merapi tahun 2009. Mereka datang dari berbagai daerah seperti Jabodetabek, Bandung, Jogja, Solo, Kebumen, Sumbar, Semarang, Malang, Madiun, Poso, Sumbawa dan masih banyak lagi.

Para aktivis ini ikut turun aksi dalam membantu para korban akibat erupsi Merapi sebagai relawan tanpa bendera apapun. Kemudian ada beberapa posko lembaga-lembaga dakwah yang mempersilahkan poskonya untuk kepentingan koordinasi relawan tersebut.

“Karena kami terdiri dari perkumpulan dengan hobi yang sama yaitu mendaki gunung dengan menyebarkan syiar keislaman kepada masyarakat sekitar. Kemudian para da`i yang menyaksikan kegiatan kami menjuluki kami dengan "Syiar Pendaki Muslim". Julukan ini berlanjut dalam setiap acara dan kami turut serta membantu dalam berbagai bencana yang terjadi di Indonesia,” ujarnya.

Pria kelahiran Jakarta 7 Desember 1977 ini menambahkan pada 2013, perkumpulan ini kemudian berkomunikasi secara kolosal dalam grup Facebook dengan nama KPMI yaitu Komunitas Pendaki Muslim Indonesia. Namun, ketika itu ada pendaki muslim yang berada di luar teritorial Indonesia diantaranya Malaysia, Jepang, dan beberapa negeri tetangga, mengatakan bahwa KPMI lebih dikenal oleh publik sebagai komunitas pengusaha muslim indonesia yang sudah mashur dikalangan pebisnis muslim.

“Untuk mencari sebuah nama komunitas ini berlanjut dalam beberapa grup Whatshapp yang pada akhirnya melahirkan kesepakatan bersama yaitu dengan identitas nama KPM atau "Komunitas Pendaki Muslim",” jelasnya.

Menurut Dean, KPM ini terbentuk dari rasa keprihatinan beberapa "relawan ukhuwah" atas cibiran kepada komunitas pegiat alam yang berbasis islam dibeberapa media sosial. Ia menyebutkan, dengan gerilya, para relawan ukhuwah ini melahirkan sebuah "wadah komunikasi antar pendaki berbasis islam", dimana semua komunitas yang terakses dapat melakukan upaya menjalin silaturahim dalam bingkai ukhuwah.

“Jadi, ini bukan sebuah grup yang akan "menandingi" grup-grup adventure berbasis islam yang sudah ada, tetapi KPM adalah wadah silaturahmi antar komunitas,” kata Dean yang juga menjadi Praktisi Bekam itu.

Lebih lanjut, Dean menuturkan ciri khas dari komunitas ini adalah adanya syiar dan dakwah Islam dalam setiap kegiatannya. Mereka berupaya memberikan keteladanan dalam hal menjaga akidah dan ibadah menjadi seruan dalam setiap langkah mereka.

Dean menjelaskan bahwa anggota KPM ini beragam. Tidak memandang gender maupun usia. Bahkan, beberapa perempuan bercadar turut serta dalam pendakian dan kegiatan relawan KPM.

Ia mengakui hadirnya rekan-rekan perempuan apalagi yang berhijab dan bercadar mendapatkan banyak cibiran melalui media sosial maupun secara langsung saat pendakian.  “Mereka menganggap pakaian teman-teman perempuan kami membahayakan. Bahkan, dianggap sikap fanatisme yang sempit dalam kegiatan alam bebas,” ungkapnya.

Namun, hal itu justru memacu pendaki muslimah untuk terus mensyiarkan agama Islam melalui kegiatan pendakian dan aksi relawan. Para pendaki muslimah tersebut terus mendakwahkan bahwa berhijab merupakan hal wajib dan tidak membatasi ruang gerak setiap muslimah yang ingin beraktivitas.

“Teman-teman memberikan edukasi melalui tulisan di media sosial bahwa hijab syar`i yang di pakai adalah ketentuan langsung dari Allah. Justru dapat memberikan perlindungan,” ujarnya.

Selain mendaki, kegiatan yang dilakukan KPM lainnya adalah membantu saudara-saudara yang tertimpa bencana. Seperti bencana gempa di Pidie Jaya, Aceh, puting beliung di Pemalang, longsor di Ponorogo, banjir di Jabodetabek, banjir bandang di Bima, NTB, serta masih banyak lagi.

Dean menuturkan, hingga kini jumlah anggota KPM terus bertambah. Di media sosial membernya mencapai 30 ribu lebih. “Setiap pekan bahkan setiap hari terus bertambah, dan terbuka untuk setiap Muslim yang ingin bergabung dan berkontribusi dalam melanjutkan syiar kegiatan alam serta dakwah tentang Islam,” katanya.

Ia mengatakan, meskipun komunitas ini ada nama "Pendaki", bukan berarti semua anggota adalah seorang pendaki gunung. Beberapa dari mereka juga ada yang hanya fokus beraktivitas dalam kegiatan Sosial, Kemanusiaan dan Kelestarian Lingkungan.

“Kami belum ada kesepakatan terkait usia anggota, tetapi kami terbuka dalam kegiatan apapun sesuai kepantasan usia. Tentunya, personil laki-laki lebih banyak walaupun dalam beberapa kegiatan di dominasi oleh perempuan seperti edukasi generasi dan kegiatan sosial,” jelasnya.

Saat ini anggota yang terakses dalam wadah bersama KPM sekitar lebih dari 700 orang yang aktif dan tersebar di berbagai grup adventurenya. Semua grup yang terakses dalam wadah komunikasi dan silaturahmi ini memiliki konsep dan prinsip yang berbeda sesuai ciri khasnya masing-masing.

“Dalam forum media sosial seperti grup Facebook mencapai hampir 30.000 member. Setiap bulan, setiap pekan bahkan setiap hari terus bertambah, dan tentunya kami terbuka untuk setiap Muslim yang ingin bergabung dan berkontribusi dalam melanjutkan Syiar Islam dalam kegiatan alam bebas yang telah berjalan dan bersinergi,” tandasnya. (njs)


Back to Top