BNI Syariah Pemacu Industri Perbankan Syariah Nasional

Jakarta, (gomuslim). Krisis moneter 1997 yang dulu pernah mengguncang negeri ini telah menguji ketangguhan sistem perbankan syariah. Prinsip Syariah dengan konsep 3 (tiga) pilarnya yaitu adil, transparan, dan kemaslahatan umum (maslahat ‘aammah) mampu menjawab kebutuhan masyarakat terhadap sistem perbankan yang lebih adil.

Data world economic outloook -IMF 2015 melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5.04 % lebih tinggi 1.04 % masih berada diatas rata-rata pertumbuhan ekonomi negara ASEAN sebesar 4.8-4.9 %. Dari sisi paket kebijakan ekonomi yang dikeluarkan pemerintah di tahun 2015 dapat mengontrol tingkat inflasi pada posisi 7.5 % sesuai dengan suku bunga yang dikeluarkan Bank Indonesia sejak Mei 2015.

Dari sisi pertumbuhan, perbankan syariah dalam lima tahun terakhir memiliki performa lebih baik dibandingkan dengan bank konvensional, tetapi sejak adanya krisis makro ekonomi juga berimbas pada performa beberapa perbankan syariah.

Namun dalam pemaparan April kemerin, Imam Teguh Saptono, Plt Direktur Utama BNI Syariah, sebagai salah satu negara di Asia yang mayoritas penduduk muslim tentu menjadi peluang besar untuk menarik para investor berinvestasi perbankan syariah di Indonesia. “Peluang investasi perbankan (syariah) di Indonesia saat ini cukup besar dengan jumlah mayoritas rata-rata muslim sebesar 85 %, sedangkan market share saat ini masih berkisar kurang dari 5%,” kata Imam Teguh Saptono di forum Islamic Finance News (IFN)-2016 April lalu. Belakangan CEO Tazkia College Univercity of Islamic Finance, Moch. Syafii Antonio, mengatakan market share pasar keuangan syariah sudah mencapai 5%, hal senada juga tercuat dalam laporan EY- World Islamic Banking Competitiveness Report 2016.

Partisipasi BNI Syariah dalam event-event show-bis syariah adalah sebagai bentuk dukungan terhadap rencana pemerintah dalam meningkatkan pangsa pasar syariah nasional termasuk di dalamnya mencari investor bagi bank syariah anak perusahaan BUMN. Akhir April kemarin, contohnya BNI Syariah juga turun dalam Expo iB Vaganza Bekasi 2016. Ia menjadi bagian dari bank syariah yang ikut membukukan transaksi keuangan dan perbankan syariah hingga 13 miliar dalam empat hari.

Dalam laporan kinerja tahun 2015 asset perbankan syariah di Indonesia mencapai US$ 23 Miliar dengan pertumbuhan 8.8 % (YoY). Dan berdasarkan data statistik OJK Desember 2015, total aset industri sebesar Rp 296.26 Triliun dengan rata-rata pertumbuhan asset sebesar 8.78% atau Rp 23.92 Triliun, dari sisi DPK industri perbankan syariah sebesar Rp 231.17 Trilun dengan pertumbuhan DPK industri sebesar 6.11 % atau Rp 13.32 Triliun, dan dari sisi pembiayaan pada tahun 2015 industri menyalurkan Rp 212.99 Triliun dengan pertumbuhan sebesar 6.86 % atau Rp 13.67 Triliun dengan NPF sebesar Rp 4.34 %. Sepanjang tahun 2015, industri mencetak laba sebesar Rp 1.79 Triliun dengan pertumbuhan sebesar 3.06 % atau Rp 53 Miliar.

 

Asal Muasal BNI Syariah dan Kinerjanya di Awal 2016

 

Semula bank ini adalah Unit Usaha Syariah BNI, sebagai anak perusahaan PT Bank Negara Indonesia, Persero (Tbk). Dengan berlandaskan pada UU No. 10 tahun 1998, tanggal 29 April 2000 didirikan Unit Usaha Syariah (UUS) BNI dengan kantor cabang di Yogyakarta, Malang, Pekalongan, Jepara, dan Banjarmasin. Selanjutnya UUS BNI terus berkembang menjadi 28 Kantor cabang dan 31 Kantor Cabang Pembantu.

Nasabahnya juga dapat menikmati layanan syariah di kantor cabang BNI konvensional (office chanelling) dengan lebih kurang 1500 outlet yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Di dalam pelaksanaan operasional perbankan, BNI syariah tetap memperhatikan kepatuhan kepada aspek sayariah (syariah compliance). Dengan Dewan Pengawas Syariah (DPS)yang saat ini diketuai oleh KH. Ma’ruf Amin, semua produk BNI Syariah telah melalui pengujian dari DPS sehingga telah memenuhi aturan syariah.  Sejak 2010, Unist Usaha Syariah BNI berubah menjadi bank umum syariah bernama PT BNI Syariah.juga Berdasarkan Keputusan Gubernur Bank Indonesia Nomor 12/41/KEP.GBI/2010 tanggal 21 Mei 2010 mengenai pemberian izin usaha kepada PT Bank BNI Syariah.

Di dalam Corporate Plan-nya, UUS BNI tahun 2000 ditetapkan bahwa status UUS bersifat temporer dan akan dilakukan spin off tahun 2009. Rencana tersebut terlaksana pada tanggal 19 Juni 2010 dengan beroperasinya BNI Syariah sebagai Bank Umum Syariah (BUS). Realisasi waktu spin off bulan Juni 2010 tidak terlepas dari faktor eksternal berupa aspek regulasi yang kondusif yaitu dengan diterbitkannya UU No.19 tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dan UU No.21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah. Disamping itu, komitmen Pemerintah terhadap pengembangan perbankan syariah semakin kuat dan kesadaran terhadap keunggulan produk perbankan syariah juga semakin meningkat.

BNI Syariah termasuk bank umum syariah (BUS) yang memiliki kinerja baik di tahun ini. Triwulan pertama tahun 2016, di tengah kondisi ekonomi global yang melambat juga turut mempengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional, BNI Syariah malah membukukan pertumbuhan kinerja yang baik. Di awal 2016 tersebut kinerja BNI Syariah ini cukup baik, dengan ditandai peningkatan profitabilitas naik 64,62% dari tahun sebelumnya. Tahun lalu Maret 2015 berada di capaian Rp 45,67 miliar menjadi Rp 75,18 miliar di Maret 2016.

Alhamdulillah, walaupun tahun 2016 kondisi ekonomi belum menunjukkan perbaikan yang cukup berarti karena masih dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi global yang melambat, tahun ini kinerja BNI Syariah dibuka dengan cukup baik. Hal ini ditunjukkan oleh beberapa indikator yang berjalan sesuai rencana. Profitabilitas triwulan pertama 2016 tercapai sebesar Rp 75,18 Miliar atau naik sebesar 64,62% dibanding tahun sebelumnya Maret 2015 sebesar Rp 45,67 Miliar. Pertumbuhan laba tersebut disokong oleh ekspansi pembiayaan yang didukung dengan kualitas pembiayaan yang terjaga serta rasio dana murah yang lebih baik, di sisi lain operasional efisiensi juga terus membaik”, tutur Imam T. Saptono.

Pertumbuhan aset BNI Syariah pun meningkat 20,35% dari Maret 2015 sebesar Rp 20,50 Triliun menjadi 24,67 Triliun. Pertumbuhan aset ini didorong oleh pertumbuhan pembiayaan sebesar 14,95% dan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 20,07% dari tahun sebelumnya pada periode yang sama. Dari total pembiayaan sebesar Rp 18,04 Triliun sebagian besar merupakan pembiayaan konsumtif 53,18%, disusul oleh pembiayaan produktif/SME 22,2%, pembiayaan komersial 16,75%, pembiayaan mikro 5,69%, dan pembiayaan kartu Hasanah Card 2,15%.

Untuk pembiayaan konsumtif tersebut sebagian besar portofolio pembiayaan adalah BNI Griya iB Hasanah sebesar 85,99%. Pencapaian kinerja bisnis tersebut tetap memperhatikan kualitas pembiayaan dimana NPF triwulan pertama 2016 tetap terjaga di level 2,77%. (boz)

 

 

 

 

 

Visi BNI Syariah adalah “Menjadi bank syariah pilihan masyarakat yang unggul dalam layanan dan kinerja”

Misi BNI Syariah
• Memberikan kontribusi positif kepada masyarakat dan peduli pada kelestarian lingkungan.
• Memberikan solusi bagi masyarakat untuk kebutuhan jasa perbankan syariah.
• Memberikan nilai investasi yang optimal bagi investor.
• Menciptakan wahana terbaik sebagai tempat kebanggaan untuk berkarya dan berprestasi bagi pegawai sebagai perwujudan ibadah.
• Menjadi acuan tata kelola perusahaan yang amanah.

 

Kegiatan Usaha

:

Bergerak di Bidang Usaha Perbankan Syariah sesuai dengan Anggaran Dasar BNI Syariah No. 160 tanggal 22 Maret 2010

 

Jaringan


 

- 67 Kantor Cabang/Branch Offices
- 165 Kantor Cabang Pembantu/Sub-branches
- 17 Kantor Kas/Cash Office
- 8 Kantor Fungsional/Functional Office
- 22 Mobil Layanan Gerak/Mobile Services Vehicles
- 20 Payment Point/Payment Points
- 202 Mesin ATM BNI/BNI ATM Machines
- 1500 Outlet/Outlets

 

Penghargaan

The Best Web site for Indonesian Syariah Bank Company – issued Jakarta, 25 February 2016 

 


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top