Kalam Kalam Langit (2)

PBNU Keluarkan Surat Edaran untuk Film Kalam-Kalam Langit, Ada Apa?

Tidak biasa, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengeluarkan surat edaran kepada seluruh warga NU di Nusantara untuk menonton Film Kalam-Kalam Langit (KKL) di bioskop daerah masing-masing. Film ini diproduksi Putaar Films Production dan sedang tayang secara nasional di jaringan Bioskop XXI, Blitz, dan Cinemaxx mulai 14 April 2016. Dua lembaga di bawah PBNU juga memberi dukungan penuh dan terlibat dalam produksi, yaitu Lesbumi PBNU dan JQH (Jam’iyyatul Qurra wal Huffazh,- organisasi penghafa Alquran) PBNU.

“Ini merupakan dukungan kongkret PBNU untuk dakwah melalui industri film. NU sebagai organisasi umat Islam Indonesia dengan anggota dan pengikut terbesar sedunia, berkepentingan mendorong umat menikmati tontotan yang layak menjadi tuntunan. Ini sudah eranya kembali digalakkan berdakwah melalui media-media modern seperti film,”ujar Pengurus Pusat Lembaga Seni Budaya NU (Lesbumi) Viddy AD Dery kepada gomuslim, Selasa (22/03/2016) di Jakarta.

Dalam Surat Edaran PBNU dengan nomor 428/C.I.34/03/2016, tertanggal 28 Jumadil Awwal 1437 H/ 8 Maret 2016, Perihal tentang Edaran Nonton Film “Kalam-kalam Langit” yang ditujukan kepada PWNU/ PCNU se-Indonesia, PBNU menyerukan kepada seluruh Nahdliyyin untuk menonton film Kalam-Kalam Langit. NU yang didirikan sejak tahun 1926, telah mendarah-daging di tanah air. Kepengurusannya tidak hanya sampai di kecamatan seluruh Indonesia, bahkan masuk ke desa-desa sejak sebelum kemerdekaan. NU memiliki badan otonom seperti IPNU-IPPNU (pelajar), Fatayat, Muslimat, GP Ansor dan memiliki lembaga-lembaga seperti Lembaga Pendidikan Ma'arif dengan ribuan sekolah juga RMI (pesantren) dengan anggota ribuan institusi pesantren.

Ada dengan apa dengan film KKL hingga PBNU yang tidak pernah memerhatikan dunia film tiba-tiba mengeluarkan surat rekomendasi?

Menurut Direktur Utama Putar Films Production HR Dhoni Ramadhan, film KKL menarik karena tidak melulu bercerita tentang kisah cinta remaja di pesantren, tetapi juga untuk pertama kalinya mengetengahkan adegan persaingan prestasi dalam lomba membaca dan memahami kitab suci Alquran.

“Sajian lain yang memikat adalah daya tarik setting lokasi pesantren dan keindahan alam Kota Beribu Masjid Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB),”jelasnya.

Kisah berawal ketika seorang anak bernama Ja'far yang sejak kecil telah dididik membaca tilawah Alquran oleh ibunya yang mantan juara pembaca Alquran (qariah). Namun, di luar dugaan, sang ayah justru menentang keras Ja'far mengikuti ajang lomba Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) dengan alasan bahwa ajang tersebut hanya jual beli ayat-ayat Allah saja.

Saat Ja’far belajar sebagai santri di sebuah pesantren di Cirebon, ada dua santriwati yang sama-sama mencuri perhatian Ja'far. Anissa adalah santriwati teman Ja'far sejak kecil dan Azizah, putri Kiai Khumaidi, pemilik pesantren tempat Ja'far menimba ilmu Alquran. Ja'far lebih menyukai Azizah, sang putri Kiai, namun ibunda Azizah justru lebih condong ke Syatori, seorang santri priyayi yang tak terkalahkan dalam tiap perlombaan MTQ. Syatori pun bertekad untuk mendapatkan cinta Azizah walau dia tahu Ja'far menjadi rival utamanya.
Skenario KKL dikemas elegan oleh Faozan Rizal yang juga seorang Director of Photografi (DOP) yang berpengalaman menggarap film nasional berkualitas seperti : Ayat Ayat Cinta, Sang Pencerah dan Faozan juga menyutradarai film terlaris "Habibie Ainun".

KKL adalah debut pertama sutradara Tarmizi Abka, yang juga jebolan pesantren di Cirebon, setelah 15 tahun lebih menekuni bidang lighting. Film ini dibintangi oleh Dimas Seto, Mathias Muchus, Henidar Amroe, Elyzia Mulachela, Ibnu Jamil, dan Meriza Febriani. Film KKL juga menghadirkan pemain cilik penghafal 20 juz Alquran asal Lombok, Nasron Azizan dan Amira Syakira. Film ini pesan dengan pesan agama, mengenalkan kompetisi sehat di usia remaja, dan oleh karena itulah NU yang diikuti mayoritas penduduk muslim di negeri ini memberi endorsement.
Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) TGB Zainul Majdi juga memberi dukungan penuh bahkan bersama Ketua Umum PBNU Prof Dr KH Said Agil Siraj ikut bermain sebagai cameo. Alumnus al-Azhar Mesir ini memang ingin sekali ada film dengan latar belakang Pulau Lombok seperti halnya Laskar Pelangi yang berlatar belakang Belitong, dan KKL sudah memberi jawaban. Akankah KKL menyusul sukses Film Laskar Pelangi? Let’s See! (mm)


Back to Top