Hingga 10 Tahun ke Depan, Haji Dilaksanakan Pada Puncak Suhu Terpanas

Diperkirakan hingga 10 tahun ke depan musim haji jatuh pada bulan-bulan dengan suhu terpanas. Data terbaru yang diterbitkan Lembaga Antariksa Amerika Serikat (NASA) menunjukkan bahwa Februari 2016 lalu mengalahkan semua rekor bulan terpanas selama lebih dari satu abad pencatatan rekor global, dan suhu akan naik 4-6 derajat celsius pada Juli-Juli-Agustus-September. Pada suhu terpanas inilah kloter pertama jemaah haji 2016 dari tanah air akan terbang ke tanah suci, tepatnya pada 8 Agustus, dan wukuf di Arafah pada 9 September 2016.

Data NASA tersebut ini diperkuat analisis penelitian Pusat Riset Haji dan Umrah Masjid Haramain (the Custodian of the Two Holy Mosques Institute of the Hajj Research -CTHMIHR), bahwa musim haji selama sepuluh tahun ke depan bertepatan dengan cuaca terpanas di Arab Saudi. Dilansir dari Al-Arabiya, Senin (22/3), pada bulan-bulan panas September, Agustus, Juli, dan Juni dalam sepuluh tahun mendatang akan menjadi waktu datangnya jemaah haji dari berbagai negara.

Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Djuwita Moeloek, meminta petugas kesehatan haji untuk lebih proaktif menghadapi dampak perubahan iklim ketika pelaksanaan ibadah haji bulan September 2016 mendatang. Suhu rata-rata di negara ini mencapai 43-50 derajat Celcius, dengan kelembaban kurang dari 30 persen.

"Siklus panas di Arab Saudi terjadi pada Mei hingga Oktober, dan puncaknya tertinggi pada Juli sampai Agustus. Suhu dan kelembabannya jauh berbeda dengan Indonesia dan akan berdampak pada kesehatan haji akibat perubahan iklim,” kata Menkes usai melantik pengurus Perhimpunan Kedokteran Haji Indonesia (PERDOKHI) di Kantor Kemkes, Jakarta , awal Maret lalu.

Terkait hal tersebut, jauh dari sebelum keberangkatan, jemaah calon harus diharapkan sudah mengetahui perubahan iklim yang ekstrim tersebut, terlebih di sekitar Masjid Nabawi dan Masjdil Haram saat ini masih terus dilakukan pembangunan baik di area masjid maupun di sekitar masjid. Di daerah yang dahulu dikenal masyarakat Indonesia dengan sebutan Pasar Seng, kini disiapkan superblock, perhotelan dan perbelanjaan, yang berakibat makin tebalnya debu disertai angina kencang.

“Pusat Kesehatan Haji umumnya mengantisipasi hal tersebut dan menyampaikan kepada petugas jemaah haji, bahwa cuaca diperkirakan ekstrim. Biasanya di kisaran 40-50 derajat celcius. Kalau sedang panas-panasnya, berada di padang Arafah yang terbuka dengan terik matahari penuh, kita berasa 15 cm saja dari kompor. Oleh karena calon jemaah kita juga banyak yang sepuh-sepuh maka menyiapkan fisik dan mental menghadapi hal tersebut perlu dilakukan sejak awal. Antara lain dilakukan sosialisasi cara menghadapinya saat bimbingan manasik,” demikian disampaikan Dr dr Fidiansyah Mursjid Ahmad, mantan Ketua Pusat Kesehatan Haji RI yang kini aktif sebagai Ketua Satgas Amar Ma’ruf di Pengurus Pusat Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia, kepada gomuslim, Rabu (23/02/2016).

Sebagaimana dikutip dari Australia Plus (15/3/2016), data yang membandingkan tiap bulan di tahun 1880 dengan suhu rata-rata antara 1951-1980, menegaskan analisis sebelumnya bahwa Februari adalah bulan terpanas sepanjang sejarah.  Beberapa bulan ke depan suhu akan tetap jauh di atas rata-rata jangka panjang, dan 2016 mungkin melampaui 2015 sebagai tahun terpanas dalam catatan pembukuan global.

“Bulan terpanas  sebelumnya adalah Juli 2015. Pada bulan Juli, Agustus dan September diperkirakan cenderung lebih memanas 4 derajat Celcius dari Januari dan Februari, mirip puncak El Nino 1997-98,” jelas meteorolog Dr. Jeff Masters.  

Melihat hal itu, penelitian tersebut memperingatkan calon jemaah haji dalam sepuluh tahun ke depan untuk bersiap-siap menghadapi musim panas yang tidak biasa. Terlebih paparan panas sinar matahari sering menjadi penyebab gangguan kesehatan bagi para peserta haji.

Para periset memperingatkan peserta haji untuk menyiapkan berbagai hal-hal penting untuk berjaga-jaga menghadapi musim panas selama berhaji. Potensi serangan panas mendadak (heat stroke) yang menjadi ancaman serius bagi jemaah haji Indonesia beberapa tahun terakhir.

Tahun lalu, penelitian itu juga mencatat peningkatan cukup tinggi kasus korban gelombang panas matahari selama musim haji. Di India pada bulan yang sama bahkan dilaporkan ada puluhan orang meninggal dunia akibat suhu terlampau panas.

Petugas kesehatan juga perlu melakukan upaya promotif dan preventif, antara lain memetakan jemaah usia lanjut dengan penyakit degeneratif, kurang gizi serta potensi gangguan jiwa ketika di Arab Saudi. Begitu pula dengan pemakaian obat tertentu oleh jemaah haji yang harus diawasi.

Sebab, kata Menkes, tahun lalu sebanyak 60,09 persen jemaah memiliki risiko tinggi. Karena itu sejak tahun lalu dimulai dengan pemeriksaan rutin berdasarkan daftar jemaah dari Kementerian Agama.

Sementara itu, Dirjen Penyelenggara Haji dan Umrah Kementerian Agama, Prof Abdul Djamil, memberikan apresiasi kepada petugas kesehatan haji yang penuh empati pada jemaah. Ia berharap kehadiran Perdokhi menjangkau pelayanan kesehatan jemaah haji dengan lebih responsif. (mm)


Back to Top