Industri Keuangan Sayariah

Meski Lambat, Prospek Pertumbuhan Industri Keuangan Syariah Besar

Jakarta (gomuslim) – Industri keuangan syariah dan bisnis syariah sebagai derivasinya memiliki peluang besar di tanah air. Bank syariah terutama memiliki koridor spesial dari pada bank konvensional. Berbagai produk dan transaksi syariah di koridor keuangan syariah membuahkan pertumbuhan tertinggi bagi industri perbankan syariah dibading perbankan konvensional.

Akhir Maret lalu, Lukman Hakim Handoko, seorang analis keuangan dan perbankan syariah, memberikan opini bahwa, pertumbuhan keuangan syariah cukup tinggi, mencapai 139 persen year on year (yoy) sejak 2010 dibandingkan konvensional yang hanya 42 persen sejak 2010.  

Market share bank syariah pada tahun 2015 masih berada pada kisaran 4,87 persen dari total industri perbankan, reksa dana syariah juga masih 4,5 persen. Sukuk sebagai salah satu alternatif investasi juga masih 3,2 persen. Sedangkan, industri keuangan non-bank (IKNB) hanya berkontribusi 3,1 persen. Perbankan syariah berkontribusi terbesar untuk keuangan syariah (50 persen), diikuti oleh sukuk 44 persen. Asuransi syariah dan reksa dana hanya 65 persen.

Tetapi market share yang masih berada di kisaran 4,8 persen ini berada jauh di bawa market share Malaysia yang meraih 23% di tahun yang sama. Dukungan pemerintah mereka di sektor keuangan syaraiah berbeda jauh dengan dukungan pemerintah Indonesia yang terkesan sekedarnya. Padahal jelas populasi penduduk muslim yang mayoritas dan lebih besar dibanding Malaysia ini menjanjikan prospek

yang bagus.

Beruntung, untuk meraih prospek bagus dari peluang itu Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Bappenas, Sofyan Djalil, menyatakan pemerintah akan proaktif mengeluarkan regulas-regulasi yang lebih kondusif. Kalau perlu akan melakukan sejumlah deregulasi dan pemberian insentif jika diperlukan.

Selain itu, pemerintah sedang menggodok pembentukan Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS).

"Kita sedang membuat kelembagaan, KNKS, sekarang dalam perumusan peraturan presiden. Dengan adanya komite ini, maka pemerintah akan mempunyai peranan yang lebih proaktif untuk mendorong. Karena selama ini keuangan syariah di Indonesia ini lebih (didorong: red) oleh inisiatif private center atau swasta. Peran pemerintah masih sangat terbatas. Dengan komite yang dipimpin langsung oleh presiden, maka peran pemerintah akan lebih proaktif, dengan itu kita harapkan pertumbuhan ekonomi syariah lebih cepat," kata Sofyan, di Hotel Shangri-La, Jakarta, Rabu (6/4/2016) kemarin seperti dikutif detif.finance.

Pemerintah, katanya, juga nanti akan meminta OJK memberi usulan soal regulasi yang lebih kondusif bagi pengembangan industri keuangan syariah kedepan. Kehadiran ekonomi syariah secara umum, menurut Sofyan, akan berdampak positif pada perekonomian nasional karena bisa memberikan alternatif investasi pembiayaan bagi dunia usaha.

Bank Indonesia (BI) sebagai salah satu penyokong sistem infrastruktur keuangan syariah mulai terpikir untuk tidak membiarkan industri keuangan syariah berkembang sendiri. BI mengaku sudah menyiapkan strategi untuk mendorong pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia. Sebagaimana hal ini telah disampaikan oleh Agus D.W. Martowardojo saat peluncuran Islamic Finance Country Report fo Indonesia, pertengahan Maret lalu di Jakarta.

Strategi itu antara lain;

  1. Mendorong inovasi instrumen likuiditas dan keuangan syariah dalam semangat pendalaman pasar keuangan syariah. Upaya pendalaman keuangan syariah ini juga didukung oleh penerbitan aturan terkait transaksi hedging syariah yang mendukung efisiensi pasar dan pengelolaan volatilitas;
  2. Peningkatan kapasitas SDM dengan memperkuat kompetensi dan pengetahuan sumber daya manusia di industri keuangan syariah di dalam rangka mengoptimalkan alokasi sumbery daya;
  3. Memperkuat kerangka kebijakan dan kerangka pengawasan terintegrasi dari ekonomi dan keuangan syariah. Koordinasi menjadi kunci utama, di mana otoritas terkait didorong untuk menyampaikan pandangan membangun dalam pengembangan produk untuk instrumen pasar keuangan syariah dan juga harmonisasi regulasi lintas sektor keuangan maupun sektor sosial;
  4. Membangun struktur industri yang efisien dengan pastisipasi aktif dalam formulasi arsitektur sistem keuangan syariah yang efisien, mendorong pasar untuk mengembangkan sektor riil melalui formulasi model pembiayaan syariah yang optimal, dan merancang sistem informasi Islamic Economic Super Corridor;
  5. Membangun aliansi strategis dengan pemangku kepentingan terkait untuk terus meningkatkan pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia.

Saat ini sistem dan infrastruktur keuangan syariah didukung oleh tiga otoritas, yaitu BI yang berfokus pada aspek makroprudensial keuangan syariah, dan OJK yang memiliki otoritas pada kebijakan mirkoprudensial. Satu lagi Dewan Syariah Nasional MUI yang akan menjadi wasit penjaga kesyariahan semua produk turunan sekaligus sistem yang ada dalam keuangan syariah.(boz)

 


Back to Top