Koridor Bisnis Hotel Syariah Makin Terbuka Lebar

Jakarta, (gomuslim). Sejak bisnis syariah mulai tumbuh, usaha di bidang properti syariah juga mulai bergeliat. Salah satunya adalah perhotelan syariah. Bisinis properti yang menyediakan hunian berlabel syariah dalam kurun waktu hampir lima tahun talah menunjukkan giginya. Ceruk di bidang usaha properti ini terbuka lebar. Belum lagi usaha properti syariah kepemilikan rumah yang hadir dengan konsep KPR Syariah atua non-bank konvensional.

Untuk usaha hotel syariah saat ini ada seratusan lebih yang tengah menunggu setifikasi syariah dari MUI. Tiga tahun belakangan ini sudah ada 25 hotel syariah di seluruh Indonesia, mulai dari kelas melati hingga bintang 4. Pasar hotel syariah ini tetap luas meski terlebeli syariah, tidak saja kalangan muslim yang bisa menginap tetapi juga non-muslim bisa menikmati pelayanannya.

Sebut saja Warlan Hotel Syariah, yang berdiri di jalan Sedati Agung No. 1 Betro-Sedati, Sidoarjo didirikan sejak tahun 2012. Pemiliknya semula ingin mendirikan hotel konvensional, tapi sepulang berumrah ia berubah pikiran. Konsep pembangunan yang sudah berjalan 50 persen diubah, ia minta arsiteknya mendesign ulang. Unit ruang yang tadinya untuk karaoke diubah jadi mushala. Semua layout ruangan berubah ala konsep hotel syariah.

Yang dilakukan pemilik Walan Hotel, sepertinya tidak keliru. Beberapa tahun yang lalu, langkah yang sama dilakukan oleh Riyanto Sofyan, komisaris utama Sofyan Hotels, memutuskan mengubah Sofyan Hotel berkonsep syariah. Tahun 1989, ia bersama ayahnya Sofyan Ponda mendirikan PT Sofyan Hotels, namun pada 1992 konsep hotel konvensional yang ia dirikan diubah jadi hotel syariah. Keputusannya ini katanya untuk menyongsong bisnis yang lebih berkah. Rupanya benar, tingkat okupansi rata-rata mencapai 70% hingga 80%, angka penjualan malah meningkat. Pemberian label syariah dan halal bukannya membatasi pasar, tetapi membuka peluang semakin lebar. Sebab orang untuk bermalam semakin nyaman tidak lagi waswas. Apalagi bagi muslim yang ingin bermalam di hotel yang selama ini diidentikkan tempat yang kurang pantas.  Hotel konvensional bagi muslim secara prilaku dan akhlak masih tercampur syubhat. Meski berusaha tetap menjaga diri, tapi di sana ada makanan dan minuman yang belum terjamin kehalalannya dan pergaulan yang cenderung bebas bergelimang maksiat.

"Sejak itu, di hotel kita tidak mengadakan bar lagi, nggak ada lagi, kita tutup bar dan saat itu penjualan justru naik 19%, tutup diskotik penjualan juga malah naik 13%. Sebenarnya masalahnya itu ternyata paradigma. Orang masih banyak mikir kalau hotel itu harus ada kesan hura-hura dan segala macam padahal tidak," akunya.

Langkah Sofyan Hotel ini membuahkan berkah lebih besar, pihaknya mampu melebarkan sayap bisnisnya. Sudah ada 8 hotel syariah yang beroperasi dengan memakai bendera Sofyan Hotels. 7 hotel lainnya masih dalam pengembangan.  Semua tersebar di beberapa kota besar.

"Hotel Sofyan total ada 17 tapi baru 8 yang beroperasi, ada di Padang, Lampung, Bogor, Jakarta ada 2 di Menteng sama Tebet. Dan terbesar di Semarang itu 142 kamar dengan ballroom 700-800 orang. 5 lantai. Bintang 3 tarifnya Rp 450 ribu per malam. Yang di Jakarta juga bintang 3 sekitar RP 500-600 ribu per malam. Yang bintang 5 nanti di Lombok sama Makassar. Nanti tarifnya sekitar Rp 750-800 ribu per malam," papar dia. Kini Sofyan Hotels sudang identik dengan hotel syariah.

Untuk mengembangkan 8 hotel yang sudah beroperasi itu, Riyanto mengaku telah membelanjakan uang Rp 400 miliar. Sedangkan untuk pengembangan hotel-hotel selanjutnya ia butuh pendanaan investasi sekira Rp 300 miliar. Hotel syariah ini bakal jadi ceruk baru bagi pasar keuangan syariah.

Pengembangan hotel syariah jika tidak didukung dengan sistem dan infrastruktur keuangan syariah akan berat bagi pelaku bisnisnya. Hotel syariah terklasifikasi kelas melati saja di kota pariwisata DI Yogyakarta merasakan pentingnya aspek keuangan syariah ini. Pihak hotel menyarankan untuk bertransaksi menggunakan syariah banking, atau model pembayaran syariah—bukan kartu kredit.

 

Pasar Hotel Syariah

Jika hotel konvensional memberi pelayanan serba bebas, baik makanan, minuman, dan hiburan, hotel syariah memberi pelayanan dibatasi. Makanan, minuman, dan restoran harus bersertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Bahkan, ada seleksi tamu dalam pelayanan hotel syariah ini.

Berkaca pada Sofyan Hotels sebagai hotel syariah pertama yang mendapat sertifikasi halal dan syariah dari MUI, setiap rest room atau kamar kecil harus menyediakan air yang cukup untuk bersuci, baik untuk buang air kecil maupun besar (istinja’) bahkan mandi.  

Kemudian lingkungan harus mendukung pola kehidupan islami, yaitu tidak ada bar, night club, dan sejenisnya. Atau segala jenis hiburan yang mengandung hedonisme/hura-hura, minuman beralkohol, seks bebas, narkotika dan hal-hal yang diharamkan secara syar’i. Sebaliknya fasilitas untuk ruang beribadah dan penunjangnya seperti mukena, baju/sarung, al Quran disediakan oleh hotel sebagai bagian dari paket pelayanan.

Dalam hal makanan dan minuman (food & beverage) bebas dari najis, alkohol, daging & lemak babi dan unsur yang diharamkan secara syar’i.

Bagi tamu yang ingin bermalam, jika berpasangan lain jenis, dipastikan adalah muhrim atau suami-istri. Syariah Hotel Solo dan Sofyan Hotels menerapkan hal ini dengan menyeleksi ketat tetamu sejak di resepsionis. Setiap tamu yang datang, kata Riyanto, diperiksa secara seksama dan hati-hati. Meski setiap tamu berpasangan tidak diminta menunjukkan Buku Nikah, tetapi menurutnya bisa diamati dari gestur/gerak tubuh.

"Dia nggak bawa apa-apa, biasanya check in sendirian tapi di belakangnya dia bawa cewek, jadi mereka (petugas) sudah paham, bahasa tubuhnya sudah tau, dari identifikasi KTP nya itu sudah jadi dasar hukum, dan bukan lihat surat nikah karena nggak ada orang bawa-bawa surat nikah ke mana-mana," terangnya.

Tetapi ada hotel syariah kelas melati di DI Yogyakarta yang mencantumkan syarat untuk menginap bagi pasangan suami istri untuk menunjukkan Buku Nikah atau KK. KTP saja rupanya belum dianggap cukup. (boz)

 

Standar Fasilitas & Kriteria

  1. Fasilitas Musala atau Masjid wajib ada.
  2. Wajib ada kumandang azan di setiap sudut atau lantai jika Hotel tersebut luas atau bertingkat, terdapat praying time reminder/pengingat jadwal shalat setiap waktu-waktu Shalat.
  3. Mencantumkan di dalam anggaran dasar/rumah tangga Hotel sebagai Hotel Syariah, serta memberikan ketentuan dan aturan sebagai Hotel Syariah.
  4. Tidak mengizinkan pertemuan antara tamu yang bukan Muhrim dengan tamu yang menginap, pertemuan bisa dilakukan di area umum seperti Lobby atau di luar Hotel.
  5. Tidak menyediakan minuman beralkohol ataupun makanan tak halal sebagai konsumsi tamu.
  6. Tidak mengizinkan Hotel sebagai sarana penggunaan Narkoba, judi, dan seks bebas.
  7. Untuk urusan perbankan, Hotel Syariah harus memiliki rekening sesuai dengan syariah sebagai contoh dengan menggunakan Bank Syariah.
  8. Tidak menempatkan ornament/Hiasan lukisan ataupun patung dari mahkluk bernyawa di area luar dan dalam Hotel.
  9. Memiliki sertifikat Halal dari MUI ( Majelis Ulama Indonesia) di setiap resto yang disediakan.

 


Back to Top