Kalam Kalam Langit (3)

Meledak, Tayangan Perdana Dibanjiri Ribuan Penonton

Jakarta, (gomuslim). Pemutaran perdana film ‘Kalam-Kalam Langit’ di Bioskop XXI Epicentrum Kuningan, Jakarta, Selasa (12/04/2016) menarik perhatian publik. Film bergenre religi ini menceritakan dilema seorang qari’ (pembaca Alquran) yang harus berhadapan dengan suami mantan pujaan hatinya dalam ajang final Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ). Sejak pemutaran pertama pukul 15.30, kedua pada pukul 19.00 dan ketiga pada pukul 21.00 WIB,  dua studio dipadati penonton yang datang dari berbagai lapisan masyarakat, antara lain dihadiri Menteri Tenaga Kerja RI Hanief Dakhiri, sejumlah tokoh dan artis Ibukota.

Film Kalam Kalam Langit  (KKL) yang dibintangi oleh Dimas Seto, Elyzia Mulachela, Meriza Febriani, Ibnu Jamil, Mathias Muchus, dan Henidar Amroe, adalah film yang berani mengungkapkan tentang intrik di balik MTQ serta menyampaikan pesan moral tentang membaca Al Quran dan mematuhi orang tua. “Memang film ini berani menampilkan sebuah cerita kecurangan di balik MTQ, karena saya sendiri pernah merasakan hal itu dan memang ada oknum yang melakukannya,“ ujar produser film, Doni Ramadhan.  

Sutradara film KKL, Tarmizi Abka, mengklaim bahwa ini adalah film pertama bertema Alquran. “Saya menghitung ada 15 kali suara lantunan Al Quran dalam film ini, tidak ada film yang menampilkan pembacaan Alquran sebanyak ini,“ ujar Tarmizi saat Pers Conference di Bioskop XXI, Epicentrum, Jakarta, kemarin.

Cerita film bernuansa pesantren dan Alquran ini sarat nilai keagamaan yang hampir diabaikan, hal ini diakui oleh aktor senior, “Saya mau ikut bergabung dalam film ‘Kalam-Kalam Langit‘ ini karena satu kalimat, ‘Bacalah karena Tuhanmu!‘ tidak karena honorarium, tidak karena yang lain, tapi hanya karena Allah.“ Ujar Matias Muchus yang berperan sebagai ayah dari Jakfar.

Pemeran utama, Dimas Seto pun turut berkomentar, “Film ini berbeda karena mengangkat tema Alquran yang sebelumnya belum pernah diangkat dalam film sejenis, namun tetap saja ada bumbu romansa di KKL dengan balutan konflik batin di dalamnya,“ pungkasnya. Dalam film berdurasi 100 menit ini, menghadirkan pemain cilik penghafal 20 Juz Alquran, Nasron Azizan dan Amira Syakira yang berperan sebagai Jakfar kecil dan Anisa kecil. Keduanya merupakan cucu dari  TGH Mustafa Umar Abdul Aziz, pimpinan Ponpes Al Azizah Kapek Lombok.

Sutradara dan produser KKL melibatkan Ketua Umum PBNU KH. Said Agil Siradj sebagai cameo di film ini, beliau melakukan akting dialog dalam menasihati Jakfar dewasa agar turut serta dalam MTQ dan menjelaskan mengenai niat dari mengikuti perlombaan itu. Juga tampak Prof Dr Said Agiel Almunawwar, mantan Menteri Agama RI, tampil saat pembukaan MTQ di Lombok.

Film religi terbaru ini akan diputar secara serentak di seluruh Indonesia pada Kamis, (14/04/2016) karena bertepatan dengan 21 tahun berdirinya Putaar Films. Saat dilakukan pemutaran pertama di Bioskop XXI Epicentrum pada Selasa, (12/04/2016) masyarakat terlihat begitu antusias. Loket bioskop ramai dengan antrian para pengunjung dari berbagai kalangan, dari artis sampai pejabat negara sekelas menteri.

Dalam film ini, Jakfar (Dimas Seto) seorang qari’ yang sedari kecil telah menjuarai perlombaan MTQ di tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI) memiliki semangat untuk dapat menjadi penerus ibunya. Ibunya seorang qari‘ah ternama menginginkan Jakfar menjadi seorang qari'. Ia menerima pelajaran tentang metode membaca Alquran dari ibunya, namun ayahnya keberatan jika Jakfar mengikuti Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) dengan alasan banyak yang melakukan kecurangan demi menggapai predikat juara. Ayah Jakfar menginginkan agar anaknya melantunkan ayat suci Al Quran semata-mata karena Allah saja, dan ayahnya pun khawatir Jakfar menjual ayat-ayat Al Quran.

Setelah dewasa, Jakfar yang mondok di pesantren Cirebon diminta oleh ustadznya untuk mewakili pesantren sebagai peserta MTQ, karena suaranya yang merdu dan cara membaca Al Quran yang baik, maka dinilai layak untuk mengikuti MTQ. Kyai sepuh pengasuh pesantren pun mendukungnya sampai KH. Said Aqil Siradj memberikan saran padanya agar Jakfar mau mengikuti MTQ. Akhirnya Jakfar mengalami gejolak batin karena sering terngiang pesan dari ayahnya yang melarangnya untuk terlibat sebagai peserta MTQ.

Sedangkan di pesantren, Jakfar yang seorang santri harus bersaing dengan seorang ustadz bernama Satori yang kerap menjuarai MTQ dari tahun ke tahun. Satori yang menjadi saingannya ini menyukai Azizah putri kyai sepuh yang disukai juga oleh Jakfar. Terpilihnya Jakfar menjadi peserta MTQ adalah adalah suatu kendala bagi Satori terlebih kyai sepuh langsung yang melatihnya. Maka ketika ayah Jakfar mengalami sakit yang mengharuskan untuk dioperasi, Satori meminjamkan uang untuk biaya rumah sakit asalkan Jakfar mengundurkan diri dari peserta MTQ.

Jakfar akhirnya dibalut perasaan bimbang dan dilema, lantas apakah Jakfar akan mengikuti MTQ sesuai dengan harapan ibunya, atau mengabaikan pesan dari ayahnya semasa kecil, mungkinkah Jakfar akan mengundurkan diri dari peserta MTQ demi keselamatan ayahnya? Saksisakan cerita seru film ini di bioskop-bioskop kesayangan anda, mulai Kamis, (14/04/2016). (fh)


Back to Top