Kalam Kalam Langit (4)

Serentak Diputar Mulai Hari ini, KKL Ekspose Tabu Bertabur Ayat Suci

Jakarta, (gomuslim). Setelah mendapat sambutan hangat pada gala premier di Bioskop XXI Epicenterum Kuningan, Jakarta pada Selasa (12/04/2016), Kalam Kalam Langit (KKL) mulai diputar  serentak secara nasional di jaringan Bioskop XXI, Blitz, dan Cinemaxx.

KKL termasuk film yang berani mengungkap ‘tabu’ dalam ajang perlombaan seni membaca Alquran dan ‘tabu’ cinta segi tiga di sebuah pesantren. Tema ini belum pernah disentuh karena masih dinilai riskan melakukan ekspose tema cinta di lembaga pendidikan agama.

“Namun justru di tema tersebut kekuatan film ini,”ujar Menteri Tenaga Kerja RI H. Hanif Dakhiri, M.Si, saat menghadiri pemutaran perdana film ini, didampingi sejumlah tokoh NU. Hadir juga pengacara dan anggota DPR RI Nudirman Munir, fungsionaris PP GP Ansor, Komunitas Masyarakat NTB di Jakarta, sejumlah artis dan aktivis.

Dalam penjelasannya, Direktur Utama Putar Films Production HR Dhoni Ramadhan mengatakan, film KKL memang mengetengahkan drama dengan setting lokasi pesantren dan keindahan alam Kota Beribu Masjid Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), dengan balutan kisah cinta segi tiga. Cinta segi tiga antara Jakfar, seorang santri senior yang bersuara emas dan Ustadz Satori, lajang kaya, dihormati di pesantren yang sebelumnya sudah dikenal sebagai juara seni baca Alquran. Keduanya berebut cinta Azizah, putri Kiai pengasuh pesantren.

Dalam kajian tema film-film produksi dalam negeri, kisah cinta umumnya menjadi hal yang ditabukan di pesantren, namun sejak beberapa tahun terakhir bersamaan dengan munculnya film-film genre religi, tema-tema di sekitar pesantren mulai terkupas, termasuk tema cinta.

“Melakukan visualisasi kisah cinta di pesantren termasuk yang agak berat karena ada sejumlah kode etik yang tidak bisa diterobos. Itu pakem yang harus dipahami,”lanjut Dhoni.

Sementara itu, tabu kedua yang memadati klimak konflik dalam KKL adalah soal intrik di balik seleksi utusan (Kafilah) dari pesantren untuk mengikuti musabaqah atau lomba seni baca Alquran di luar pesantren. Seperti dalam kompetisi lain, rupanya ada pihak yang mencoba bermain kotor dengan menghadang calon lain dan membentangkan karpet merah untuk calon lainnya. Jakfar dihadang dengan berbagai alasan, bahkan hingga situasi yang membelit keluarganya yang miskin pun dijadikan modus untuk menggagalkan keikutsertaan Jakfar dalam seleksi tingkat pesantren hingga tingkat Nasional.

“Itu hal tabu, tetapi tidak jarang terjadi. Ini yang pernah saya rasakan dan alami sendiri dahulu ketika mengikuti MTQ di tingkat Kabupaten,”jelas Dhoni yang ternyata juga seorang qari’ itu.

Tidak heran, meski sarat dengan konflik cinta segi tiga dan intrik dalam sebuah ajang seleksi nasional pembaca Alquran, KKL dari awal hingga akhir bertabur lantunan ayat-ayat suci.

Bacaan merdu pengisi suara Jakfar dewasa adalah Ustadz Hariri, juara qari’ se-NTB, yang dalam film berperan sebagai Agil, sahabat santri. Sehari-hari, Ustadz Hariri yang berbadan tambun ini adalah pengajar ilmu hukum Islam di Pesantren Aziziah Kapek Lombok, tempat sunting KKL dilaksanakan,

Cinta Segi Tiga dan Taburan Ayat Suci dalam KKL direkomendasikan bagi semua kalangan dan umur, lebih disarankan nonton bersama keluarga, terutama untuk mendorong anak-anak makin cinta Alquran dan hidup selamat bersama Alquran. Gubernur Nusa Tenggara Barat Tuan Guru Zainul Majdi, Ketua Umum PBNU Prof Dr KH Said Agil Siraj, Mantan Menteri Agama Prof Dr KH Said Agiel Almunawwar yang tampil sebagai cameo memberi kekuatan tersendiri dalam film yang layak ditonton berkali-kali ini.  (mm)


Back to Top