Investasi Syariah

‘Moslems Awarness’ Mulai Dilirik Manajer Investasi Global

Jakarta, (gomuslim).Gaya hidup islami yang dibarengi kesadaran akan produk-produk halal dan syariah belakangan ini telah mengatraksi berkembangnya bisnis berbasis syariah. Institusi manajer investasi global tak ketinggalan membuat produk syariah untuk memanfaatkan trend pasar syariah di tanah air. Salah satuhnya Aberdeen Asset Management dalam pekan ini meluncurkan satu produk reksadana syariah berbasis mata uang dolar Amerika (USD Fund).

Muhammad Teguh, anggota Bidang Pasar Modal Dewan Syariah Nasional MUI, mengatakan produk syariah utilitasnya tinggi dan bisa memenuhi semua golongan. Produk syariah dari industri keuangan dan perbankan syariah itu tidak hanya untuk orang muslim, tapi juga bisa dimanfaatkan oleh non-muslim. “Ibarat nasi goreng halal boleh dimakan siapa saja. Tetapi nasi goreng yang ada babinya tidak boleh dimakan muslim,” katanya kepada gomuslim sambil memberi pengandaian, saat peluncuran produk reksadana syariah Aberdeen Asset Manajemen di Jakarta (12/04/2016).

Sebenarnya menurut Teguh produk syariah industri keuangan dan perbankan bukan soal pantas bagi non-muslim dan muslim. Tetapi apakah portofolio yang bisa dibeli itu dapat memberikan equitas yang besar juga menentramkan bagi muslim dan aman atau long term investment bagi non muslim. Di sini, utilitas produk lebih layak dibicarakan dan dipertimbangkan oleh investor. Namun, bagi seorang investor muslim utilitas itu tentu harus memenuhi kriteria kepatuhan syariah (syariah compliance) dan kalau bisa memenuhi indeks maqasid syariahnya.

“Sekarang ini bukan masalah untuk muslim dan non muslim. Tetapi pada pembatasan (kriteria syariah compliance) portofolio perusahaan yang bisa dibeli, bahkan dengan ada ratio pendapatan non-halal maksimal 10%, core business dan rasio hutang maksimum 33%, berarti perusahaan yang akan ditaruh portofolio itu pinjamannya lebih sedikit, equitasnya lebih kuat. Berarti cash-flow nya bagus, perusahaannya sehat. Perusahaan begini yang disasar investasi reksadana syariah,” katanya.

Ia menambhkan investasi syariah lebih diasosiasikan berorientasi pada investasi bisnis etis. Bukan pada bisnis yang berorientasi pada keuntungan belaka tetapi menimbulkan hal-hal mudlarat (kerusakan), baik pada lingkungan dan manusia, misalnya perusahaan rokok, minuman keras, dan sejenisnya.  (bos)


Back to Top