Sekali Lagi, Tentang 'Agama' Kartini di Mata Para Akademisi

Jakarta, (gomuslim). Hari ini diperingati sebagai ‘Hari Kartini’ bagi bangsa Indonesia. 'Penguasa jagad dan langit dunia', yaitu Google pun ikut memeringati Hari Kartini dengan mengeluarkan ‘logo’ seorang wanita berkebaya dan konde Kartini meski tidak berparas Jawa.

Bahwa RA Kartini adalah seorang bangsawan yang harum namanya karena membuka mata dunia tentang pentingnya menjaga martabat dan mendorong perempuan mendapatkan kesempatan yang sama dalam hal pendidikan dan pekerjaan, itu semua orang sudah sepakat. Tetapi di kalangan akademis masih simpang siur tentang ‘agama’ Kartini. Ada yang menyebut ia adalah penganut aliran kebatinan, theosofi, Islam Sinkretis dan lainnya.

Sejarawan LIPI Prof Dr Asvi Warman Adam dalam sebuah artikelnya berjudul “Agama Kartini” menyimpulkan bahwa setelah tarik menarik pendapat tentang agama dan pandangan kebatinannya, tak penting apa agama Kartini, yang penting adalah gagasan dan ide dia tentang emansipasi. Pendapat ini tentu janggal, karena agama dan keyakinan seseorang jika benar-benar dihayati dan diamalkan sangat mempengaruhi pemikiran, perilaku, gagasan-gagasan, dan lain sebagainya. Karena itu, sangat penting mengungkap lebih dalam tentang agama dan keyakinan serta orang-orang yang berada di sekeliling Kartini, karena dari latarbelakang itulah gagasan-gagasannya muncul dan disebarluaskan.

Mr. Conrad Theodore van Daventer, tokoh Politik Etis yang juga penggagas Kartini Fonds, menulis tentang apa sesungguhnya Tuhannya Kartini. Daventer menulis dalam Majalah De Gids, September 1911, berikut ini: “Kalau orang hendak tahu tentang Tuhannya Kartini, ya, dialah yang Tertinggi tanpa batas, yang menyebabkan orang-orang Islam, Kristen, dan Yahudi, bersaudara satu dengan yang lain, yang menyebabkan juga orang-orang Brahma, bahkan juga orang kafir dijiwai dan bahwa kebajikan dan cinta merupakan ketentuan-ketentuan yang terutama.Kepercayaan kepada Tuhan itulah yang terutama baginya, keibadahan hanya soal tradisi. Sebagai seorang yang terdiri secara Islam, ia (Kartini, red) ingin tetap menjadi Islam, sekalipun ia tidak buta terhadap beberapa kelemahan ajaran itu, karena bentuk kepercayaan itu baginya akhir-akhirnya adalah soal kedua, dan setiap bentuk itupun punya kelemahan sendiri…” (hal. 263-264).

Van Daventer ingin menggambarkan bahwa Kartini memperhatikan aspek Ketuhanan Yang Satu antara setiap agama, yang disebut dengan aspek batin (esoteris), sedangkan soal ibadah lahir (eksoteris) hanyalah tradisi yang berbeda-beda antar setiap agama. Keyakinan ini juga sama persis dengan apa yang ditulis oleh Kartini dalam surat tertanggal 31 Januari 1903, yang berbunyi, “Agama yang sesungguhnya adalah kebatinan, dan agama itu bisa dipeluk sebagai Nasrani, maupun Islam, dan lain-lain…”

Kenyataan itu memang terekspresi dalam tulisan RA Kartini sendiri. Ada yang menyebut pandangan keagamaan RA Kartini berubah dari kebatinan-sinkretis ala Theosofi ke keyakinan Islam yang sesungguhnya karena pertemuannya dengan Kiai Shaleh Darat di Demak. Meskipun tak ada keterangan pasti mengenai seberapa intim interaksi RA Kartini dengan Kiai Soleh Darat,  namun yang pasti, Kartini mengaku bertemu Kiai Soleh Darat pada 1903, dan pada tahun yang sama kiai tersebut meninggal dunia. Kartini sendiri meninggal dunia setahun kemudian, pada 1904. (selengkapnya baca: http://www.gomuslim.co.id/read/tokoh/2016/04/19/221/-habis-gelap-terbitlah-terang-ternyata-cuplikan-dari-alquran.html).

Tidak dipungkiri memang ada pandangan yang terasa beraliran kebatinan Jawa, tetapi dari surat-suratnya yang dikenal dengan Habis Gelap Terbitlah Terang (Door Duisternis tot Licht), ternyata RA Kartini tidak hanya menentang adat, tetapi juga menentang politik Kristenisasi dan Westernisasi. Dari surat-surat RA Kartini terbaca tentang nilai Islam di mata rakyat terjajah saat itu. Islam dalam pandangan Kartini adalah martabat peradaban bangsa Indonesia. Sebaliknya, Kristen dinilai merendahkan derajat bangsa, karena para gerejawannya memihak kepada politik imperialisme dan kapitalisme.

Ketika Ny. Van Kol mengajaknya untuk masuk agama Kristen, Kartini menolaknya, seraya mengatakan, “Yakinlah Nyonya, kami akan tetap memeluk agama kami yang sekarang ini (Islam).” Selanjutnya, Kartini berbalik mengingatkan Ny. Van Kol agar Barat dapat bertoleransi terhadap agama Islam.

Kekaguman pada Alquran

Terlepas dari kritik dan analisis kalangan akademisi yang menyebut alam pemikiran Kartini sangat bercorak Theosofi, sebuah organisasi kebatinan Yahudi yang keberadaannya sempat dilarang oleh pemerintah RI, setidaknya apa yang diungkap sejarawan Muslim Ahmad Mansur Suryanegara adalah sisi lain sosok Kartini benar-benar memperjuangkan anak bangsa agar memperoleh kesempatan pendidikan. Kebangkitan juangnya sangat dipengaruhi oleh ajaran Alquran. Lingkungan kehidupan Kabupaten Jepara merupakan medan persemaian tumbuh kembangnya ajaran Islam di kalangan Bupati yang berpikiran maju sejalan dengan gerakan kaum muda.

Sikap Kartini yang istiqamah, tampak setelah ia membaca Tafsir Alquran. Kekagumannya terhadap nilai ajaran Alquran dituturkan kepada E.C Abendanon: “Alangkah bebalnya, bodohnya kami, kami tiada melihat, tiada tahu, bahwa sepanjang hidup ada gunung kekayaan di samping kami”.(15 Agustus 1902). RA Kartini menilai Alquran sebagai gunung kekayaan yang telah lama ada disampingnya. Akibat pendidikan Barat, Alquran menjadi terlupakan. Namun, setelah Tafsir Alquran dibacanya, Kartini melihat Alquran sebagai gunung keagungan hakikat kehidupan.

Oleh karena itulah, sejak menemukan pemahaman yang lebih komprehensif tentang Islam dari Alquran melalui Kiai Shaleh Darat yang sangat terkenal di Panturan Jawa itu, ia kemudian menulis gagasan dan pemikiran mencerahkannya dengan landasan pemahaman baru, keluar dari kegelapan menuju pencerahan. (mm)


Back to Top