Bisnis Syariah & Keberlangsungan Sumber Daya

Jakarta, (gomuslim). Produk perbankan syariah sebenarnya memiliki utilitas tinggi dan memberi prospek yang menjanjikan. Semua jasa keuangan dan produk perbankan syariah bisa memenuhi semua golongan tidak hanya muslim yang belakangan mulai aware dengan produk halal dan syariah. Ibarat makanan halal ia bisa dimanfaatkan oleh non-muslim. Nasi goreng halal bisa dimakan siapa saja, tetapi nasi goreng mengandung babi tidak bisa dikonsumsi muslim.

Tetapi selama ini, upaya mengenalkan sistem perbankan syariah ke masyarakat awam selalu menyertakan “ancaman” dengan dalil-dalil nash yang telah teruji kesahihannya. Mengapa tidak dikedepankan aspek kemaslahatannya: Kabar gembira, yang hampir menyentuh semua kebajikan dalam hidup manusia secara umum. Bahwa memakan harta orang lain dengan cara “tidak wajar”, misalnya mengurangi kadar timbangan, hitungan curang, fraud, mencuri nilai desimal dari kalkulasi, adalah memiliki efek ketidakseimbangan alam, merusak harta dan sumber daya, serta lingkungan, karena itu dilarang dalam agama. Dan, secara universal menyalahi prinsip-prinsip etika kemanusiaan. Tetapi berbuat adil (Al Iqtisath fil mizan) dan jujur dalam transaksi dapat membawa berkah, yaitu kesinambungan usaha (sustainable business) dan keberlangsungan sumber daya (sustainability of resource).

Riba dalam hutang atau jual-beli dengan harga bertempo, sudah jelas dalam Islam dilarang—baik dalam rupa-rupa jenis dan bentuk transaksi. Selama ada aspek riba dan ghurur, transaksi yang demikian itu dianggap cacat (illat) sehingga dikatakan bathil dalam Islam. Sebab di dalamnya terdapat mafsadat (corrupcy)—bukan maslahat (sustainability).

Mekanisme transaksi dan pola jual-beli dalam pasar modern sekarang mulai kompleks. Hukum mu’amalah syariah harus segera menguji aspek-aspek transaksional (Aqa’id) dari berbagai jenis jual-beli itu. Maka perbankan syariah dituntut untuk menguasai ilmu pengetahuan syariah dan dinamika transaksional pasar dalam setiap penerbitan produk syariah demi syariah-compliance (kepatuhan kepada syariah). Karena itu Indeks Maqasid Syariah yang mencakup 5 aspek mendasar kemaslahatan umum hidup manusia harus menjadi banch-mark industri dan rambu-rambu yang dipenuhi.

Sudah saatnya masyarakat awam tidak hanya dikenalkan bahwa riba itu haram, tetapi juga kenalkan aspek mafsadat dari sistem yang ditimbulkan terhadap manusia dan lingkungan. Juga aspek maslahat/sustainability sistem non-riba terhadap kelangsungan harta benda dan sumber daya. Sehingga masyarakat jadi mengerti rasioningnya kenapa diharamkan. Biasanya sistem ekonomi yang diselimuti riba menimbulkan efek samping negatif terhadap keberlangsungan alam (sumber daya)—meski dianggap kecil—tidak hanya terhadap harta dan jiwa saja. Karena itu agama membahasakannya dengan istilah “tidak berkah” (unblessing party).

Oleh karena itu, portofolio atau produk apapun yang sudah ditakar dengan kadar Syariah dapat memberikan manfaat ekonomis, juga menentramkan bagi muslim dan tentu saja aman bagi non muslim. Di sinilah utilitas produk itu lebih pantas dikampanyekan dari pada mengedepankan ancaman-ancaman (indzarat)—karena di sana ada keuntungan (ribahat) yang jadi kabar gembira.

Aspek lain sismtem perbankan dan pasar keuangan syariah yang perlu juga didesiminasikan ialah aspek keberpihakan bisnisnya dalam berinvestasi yang lebih berorientasi pada bisnis etis—bukan kepada hal-hal yang dicela (makruhat), main-main (lagw), dan tipuan (ghurur), apalagi diharamkan oleh Syariah. (boz)



Back to Top