Makin Ramai KPR Syariah, Miliki Rumah Tanpa Terjerat Riba

Jakarta, (gomuslim). Tren Properti Syariah tidak hanya mencuat di bidang perhotelan. Saat ini tengah ada beberapa pengembang real estate yang memasuki bisnis perumahan dengan sistem penjualan akad syariah, Istisna’ namanya. Akad kepemilikan rumah ini murni tidak menggunakan bank. Sebab jika akad masih melibatkan bank itu akan menggugurkan kadar kesyariahaannya. Perbedaannya pun jauh antara harga dan hasil kesepakatan antara KPR konvensional dan KPR syariah.

“Bedanya skema KPR syariah itu jelas nilai akhirnya dan disebutkan dalam kontrak serta dengan skema angsuran flat sampai dengan lunas. Sedangkan KPR kovensional tidak disebutkan nilai akhir dan jika denda (akibat menunggak atau gagal bayar: red) dikenakan biaya tambahan serta angsuran fluktuatif,” kata seorang pengembang properti syariah Puput menerangkan untuk gomuslim, di Bogor, Ahad. (24/04/16).

Setiap bahasa promo bisnis properti/KPR syariah selalu dalam bahasa promo seperti ini “kredit rumah tanpa ribet.. Tanpa KPR bank & BI checking.. Tanpa riba.. Tanpa denda.. Tanpa sita..”. Semua bahasa promo ini saat dikonfirmasikan ke beberapa manajer developer perumahan syariah semua mengiyakan. Meskipun ada buyer yang hendak memiliki rumah menggunakan jasa pembiayaan bank, meski tak langsung berhubungan dengan pengembang, hal itu tetap dianggap bukan lagi akad KPR Syariah.

“Pada intinya KPR syari'ah hanya melibatkan dua pihak yaitu penjual dan pembeli. Maka jika ada KPR syariah tapi masih menggunakan pihak ke-3 yaitu bank sebagai perantara, artinya belum syariah, hanya mencatut label syariahnya saja,” ujar Kalwati Dewi, salah seorang kepala pemasaran properti KPR Syariah kepada gomuslim, di Bogor, Ahad, (24/04/16).

Lalu bagaimana jika ada gagal bayar atau tertunggak? Menurut Kalwati yang saat ini membawahi pemasaran Algira properti syariah ada dua cara; pertama buyer ditanya baik-baik komitment untuk melanjutkan akad, kedua bila buyer tidak melanjutkan, dibuatlah kesepakatan bersama dua belah pihak (penjual dan pembeli) untuk menjual kembali (release) rumahnya dengan mengikuti harga kekinian, sehingga kedua pihak sama-sama masih diuntungkan.

Hal senada juga dijelaskan Puput, biasanya jika ada ketidaksanggupan bayar dari konsumen akan ada kebijakan dari penjual/developer si pembeli diberi jeda waktu 90hari untuk kesanggupannya membayar cicilan kembali.

“Setelah 90 hari masih belum sanggup bayar maka akan dimusyawarahkan, hendak dijual bersama atau dibeli oleh pemilik,” jelasnya.

Dari sisi keamanan gagal bayar KPR Syariah ini ternyata ada mekanisme yang scure dan unik, serta masih tergolong syariah—yakni musyawarah. Sistem ini rupanya mengedepankan aspek kekeluargaan tinimbang sistem rigid dan kaku sebagaimana dalam perjanjian jual-beli kredit/bertempo lainnya. Rasanya di zaman sistem kapitalistik saat ini jarang sekali ditemukan akad atau transaksi yang mengedepankan kekeluargaan dan musyawarah dalam menyelesaikan perkara dan menemukan solusinya.

Dalam pantauan sekilas, sekurangnya ada beberapa pemain properti syariah yang menyediakan program kepemilikan rumah rakyat yang mulai berkibar, antara lain Algira, Afara group, De’Alexandria, Green Mufiid Development, dan mungkin masih ada yang belum terbaca. Rata-rata pemain property real estate syariah ini sudah berjalan dalam kurun 3-4 tahun, malah ada yang lebih. Algira sendiri sudah menyelesaikan 8 proyek pengembangan rumah dengan sistem KPR Syariah di Bogor. Hampir semua pengembang yang disebut ini bergerak di wilayah Jabodetabek, menyasar kaum urban yang mulai sadar produk halal dan syariah. Di luar Jabodetabek sebanarnya masih ada, sebut saja satu pengembang Gardenia Group yang menjual kavling dan properti dengan konsep akad syariah, di Pekalongan Jawa Tengah.

Dengan berbendera PT Gardenia Group, manajemennya dibangun seislami mungkin. Setiap karyawan wajib sholat dhuha dan tak lupa shalat wajib berjamah, juga mendaras Al Quran berjuz-juz hingga khatam dalam beberapa pekan. Kini sudah ada 5 proyek yang diselesaikan. “Lalu nikmat apalagi yang kamu dustakan,” kata CEO-nya, Ahmad Masruri sambil menyitir salah satu ayat Al Quran.  (boz)


Komentar

  • Tonis

    25 April 2016

    properti syariah

    ALHAMDULILLAH...properti sisitim syariah berkembang


    Reply






















  • Awee

    25 April 2016

    Revisi

    Penulisannya bukan Al Gira..tapi Algira..dikenal dengan Algira Properti..perumahannya laku keras, sangat membantu konsumen, apalagi yg beli cash dikasih diskon besar banget dibanding harga kredit. Bisa mampir ke web nya nih rumah2lantai.com


    Reply






















  • Tulis Komentar


    Back to Top