Kritisi Perdana Menteri, Mahasiswi Gelar Demo Sehari Berhijab di Kampus Ternama Paris

Paris, (gomuslim). Acara ‘Hijab Day’ di Institut Ilmu Politik Paris (Sciences Po) memang sudah selesai pada Rabu (20/04/20016) lalu, namun polemik tentang acara tersebut masih berlanjut hingga Senin hari ini (25/04/2016).  Seperti dikutip gulfnews.com, tidak sedikit masyarakat kampus yang memberi dukungan, tetapi tidak menutup celah pihak yang apatis hingga agresif menyerang.

Hijab Day yang diadakan mahasiswa di kampus ternama tersebut adalah sebagai bentuk keprihatinan atas meningkatnya fenomena Islamofobia di Prancis belakangan ini.  Dalam aksi tersebut, mereka mengajak para sahabat mahasiswi di universitas itu untuk mengenakan jilbab selama satu hari penuh, baik yang muslimah maupun non-muslimah.

Ajakan sehari mengenakan hijab ini dikampanyekan untuk merasakan berhijab di kota Paris yang cenderung makin phobia terhadap simbol-simbol Islam. Itu semacam untuk mendapatkan “experience the stigmatisation experienced by veiled women in France”, demikian kampanye mahasiswa di kampus elit tersebut.


“Jika Anda memang berpandangan bahwa semua wanita memiliki hak untuk mengenakan busana yang mereka inginkan, maka hormatilah pilihan mereka itu. Tidak ada alasan Anda melarang mereka mengenakan busana tertentu, termasuk hijab,” ungkap kelompok mahasiswa yang terlibat dalam aksi tersebut, lewat pernyataan resmi mereka, seperti dilansir dari World Bulletin, Jumat, (22/04/2016).


Para aktivis di kampus itu juga mendesak para perempuan untuk terlibat secara langsung dalam Hijab Day yang terdiri dari beberapa kegiatan. Menurut mereka, hal itu bertujuan untuk memberikan pemahaman bahwa pandangan feminisme haruslah berlaku universal, bukan parsial.

“Jangan sampai di satu sisi Anda membolehkan wanita memakai rok mini, tapi di sisi lain malah melarang orang lain mengenakan kerudung. Feminisme semestinya independen tanpa membeda-bedakan kelas sosial, agama, dan ras mana pun,” ujar para mahasiswa Sciences Po lagi.

“Ini untuk meningkatkan kesadaran publik juga meningkatkan pemahaman, karena itu ada program debat terbuka bagi mereka yang selama ini membaca dari luar tetapi belum mendengar sendiri dari pengguna,” ujar Laetitia Demaya, salah seorang panitia seperti dikutip dailymail.co.uk.


Acara ini juga dimaksudkan untuk mengerem laju opini negatif yang digulirkan sebagian masyarakat Paris.  Bahkan, Perdana Menteri Manuel Valls pada awal bulan April ini pernah melontarkan pernyataan kontroverisal dengan menuding jilbab sebagai lambang ‘perbudakan perempuan’ atau “enslavement of women”. Kegiatan di kampus ini untuk menepis anggapan negatif yang provokatif tersebut.

Potensi konflik antarumat beragama di Prancis saat ini menjadi sorotan lantaran terus  meningkatnya Islamofobia di negeri itu. Ada sebagian pihak yang menyerang simbol-simbol keislaman seperti hijab di ruang publik. Meski memantik kontroversi, dengan adanya ‘Hijab Day’ ini, masyarakat akan merasakan sendiri dan mengetahui betapa indah dan damainya Islam beserta simbol keislaman yang selama ini ditakuti itu. (mm)


Back to Top