KPR Syariah

KPR Syariah Bank Umum, Masihkah Juga Riba?

Jakarta, (gomuslim).  Perbedaan KPR Syariah yang difasilitasi oleh bank umum syariah (BUS) dengan KPR Syariah yang langsung disediakan oleh pengembang (penjual) kepada pembeli menjadi wacana menarik kajian bisnis syariah dalam properti. Rupanya di dalam KPR Syariah yang difasilitasi BUS terdapat ikhtilaf (perbedaan pandangan). Sebagian mengatakan tetap akadnya jatuh ke hukum riba, sebagian lain menganggap bukan lagi riba. Karena akadnya dianggap sudah sesuai dengan prinsip syariah. Sebagai mana hal ini pernah dijelaskan oleh Dr. Ardito Bhinadi, M.si, Anggota Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat MUI, di rubrik MusmagzSyariah.

Menurutnya, skema jual-beli rumah dengan KPR Syariah yang ditawarkan BUS menggunakan akan murabahah. Murabahah adalah akad jual beli dengan menyebutkan harga dasar (nett) dan margin keuntungan (rubhun) yang dikehendaki oleh bank. Pembeli memperoleh kemudahan (rubhun dalam bentuk lain) dalam hal membayar angsuran yang tetap (flate), tidak ada bunga (riba). Misalnya sebuah rumah dibeli oleh bank umum syariah dari pengembang seharga 300 juta, lalu dijual ke konsumen seharga 400 juta. Maka 300 juta adalah harga perolehan bank syariah dan 100 juta sebagai margin keuntungan bank. Si pembeli mengangsur KPR dengan sejumlah cicilan yang telah ditetapkan (fixed) dalam jangka waktu (tenor) tahun yang juga sudah ditetapkan dalam kesepakatan akad.

Pada praktiknya di lapangan, rupanya ada akad lagi, yaitu akan wakalah—yaitu bank syariah mewakilkan kepada pembali untuk membeli sebuah rumah yang dikehendakinya, tentu dengan harga yang sudah pasti, dan harga dalam kesepakatan antara kedua belah pihak. Pembayaran pembelian ini menggunakan dana dari bank syariah. Hal ini mengacu pada dalil nash QS. Al Kahfi: 19, sehingga adanya akad wakalah ini diperbolehkan. Baru setelahnya akad murabahah bisa dilakukan, setelah sebuah unit rumah atau kavling tersebut menjadi milik (milku tamm) bank syariah.

Jika dipahami akad KPR Syariah yang terjadi antara pengembang dan konsumennya, dengan akadnya yang bernama istishna’ sama sekali berbeda. Di antara kedua belah pihak hanya ada satu akad transaksional yaitu istinsya itu.

Masyarakat luas dengan adanya perbedaan ini akan menilai dan menemukan pola bagaimana caranya memiliki rumah dengan prinsip yang lebih syar’i. Semua kembali ke argumentasi illat (rasioning) di belakang prinsip akad yang digunakan, selama itu masih dianggap akad syariah kenapa tidak. Tetapi bagi sebagian orang yang lebih menekankan sisi compliance-nya, tentu akan memilih akad yang lebih syariah.

 

Lalu Riba itu Yang Mana?

Secara sederhana untuk mengetahui transaksi riba pada akad KPR konvensional bisa dilihat dalam contoh pembelian sepeda motor dengan cara kredit berikut ini—sebagai analogi. Sepeda motor harga 10 juta, dijualbelikan dengan harga 10 juta, tenor cicilan 12 x 1 juta sebulan bunga 20% dalam setahun; maka total harga menjadi 12 juta. Inilah RIBA, karena harga akhir tidak dapat diketahui secara pasti oleh pembeli. Berbeda dengan transaksi akad murabahah syariah, harga motor 10 juta dijualbelikan dengan harga 12 juta, dengan margin  keuntungan 2 juta. Maka pembayaran diangsur 1 juta per bulan selama 12 bulan akan menghasilkan harga akhir 12 juta.  

Perbedaannya, transaksi yang pertama tidak ada kepastian harga akhirnya. Jika seandainya buyer kesulitan mencicil dan akhirnya tertunggak hingga 15 bulan, hitungan bunganya bukan lagi 20% tapi sudah 25%. Harga motor pun berubah jadi 12,5 juta. Sementara transaksi yang kedua harga akhir sudah tetap (fixed) dan disebutkan dalam kesepakatan. Seandainya terjadi kesulitan mencicil, dan akhirnya tertunggak hingga 15 bulan, hitungan keuntungan penjual tetap 2juta, harga motor tetap 12 juta.

Begitulah, agama memang menghadirkan seperangkat aturan untuk mempermudah urusan umat manusia bukan untuk membebani di luar kemampuannya—tetapi agama juga tidak serampangan memudahkan atau menghalalkan perkara yang sudah jelas (bayyinun) aspek hukum keharamannya. Rupanya mengamalkan agama dengan jalan pengetahuan (bil ‘ilmi) selain menambah keimanan juga memberikan kebijaksanaan dalam mengurai persoalan. Islam itu ternyata mudah, bukan masalah. (boz)


Back to Top