Ki Hajar Dewantara, Santri Cilik Yang Terhapus dari Sejarah Pendidikan Indonesia

Jakarta, (gomuslim). Khalayak ramai mengenal tanggal 2 Mei sebagai ‘Hari Pendidikan Nasional’ atau Hardiknas. Keputusan Negara soal Hardiknas ini diambilkan dari hari lahir seorang tokoh bangsa bernama Raden Mas Suwardi Suryaningrat yang lahr pada tahun 1888 di Pakualaman, Yogyakarta. Untuk menghapus jejak kebangsawanannya, Ia berganti nama pada 1922 menjadi Ki Hajar Dewantara (KHD) dan kita mengenalnya sebagai orang tokoh pendidikan nasional, menteri Pendidikan RI pertama.

Demi menghormati jasa Ki Hajar dalam dunia pendidikan di tanah air, sudah sepantasnya pemerintah memperingati tanggal 2 Mei menjadi hari pendidikan nasional. Kiprah dan perjuangan Ki Hajar berjuang mencerdaskan anak bangsa lewat pendidikan dengan mendirikan perguruan taman siswa merupakan terobosan awal pada masa kolonial Belanda yang sampai hari ini masih dapat dirasakan dampak positifnya.

Dalam buku "Indonesia dalam Kajian Sarjana Jepang" diulas bahwa perkembangan taman siswa dinilai sebagai keberhasilan pergerakan nasional yang membuat pemerintah kolonial pada akhirnya mendapat perlawanan sengit di masa berikutnya. MC Ricklefs, seorang sejarawan berkebangsaan Australia dalam bukunya "Sejarah Indonesia Modern 1200-2008", menjelaskan bahwa taman siswa dengan cepat tersebar ke luar Yogyakarta. Bahkan pada tahun 1932, Perguruan Nasional Taman Siswa telah mempunyai 166 sekolah dan 11.000 murid. Itu merupakan prestasi luar biasa. Dalam Taman Siswa pula kita mengenal sosok jenius yang dikagumi dunia, yaitu Sosrokartono, kakak RA Kartini, yang akhirnya menjadi guru Taman Siswa di Bandung.

Namun ada luput dari perhatian publik selama bertahun-tahun, bahwa Ki Hajar ketika kecil adalah seorang santri. Benarkah Ki Hajar adalah seorang santri? Seperti Pangeran Diponegoro, Husein al-Mutahhar, Ki Hajar Dewantara juga seorang  santri tulen, bertahun-tahun Raden Mas Suwardi kecil dikirim orang tuanya ke pesantren. Dalam buku terbitan internal Taman Siswa, dikilas sekelumit latar belakang pendidikan Ki Hajar yang pernah nyantri. Demikian juga tersebut dalam buku karya Zainul Milal Bizawie,"Masterpiece Islam Nusantara: Sanad dan Jejaring Ulama-Santri 1830-1945" menegaskan bahwa Ki Hajar adalah santri.

Dalam dua buku tersebut dijelaskan bahwa salah satu guru ngaji Ki Hajar adalah Kiai Sulaiman Zainuddin Abdurrahman, pengasuh pesantren di Kalasan Prambanan. Diceritakan, santri Kiai Zainuddin memang banyak, salah satunya adalah Suwardi Suryaningrat yang kemudian menjadi tokoh pendidikan nasional. Ki Hajar belajar Alquran hingga mahir membaca dan memahami isinya dari Kiai Sulaiman.

Sebuah catatan tentang Ki Hajar kecil juga disampaikan KH Achmad Chalwani, pengasuh pesantren di Purworejo. Ia menulis mengenai Ki Hajar Dewantara seperti ini:

“ Maka bisa dilihat yang jadi santri-santrinya Kyai, menjadi penggerak di Indonesia ini. Coba dilihat, di Jogja ada seorang Kyai namanya Kyai Sulaiman Zainuddin, berada di Kalasan Prambanan. Mempunyai putra santri banyak, salah satunya beliau mempunyai santri namanya Suwardi Suryaningrat. 

Santri yang bernama Suwardi Suryaningrat tadi akhirnya menjadi Bapak Pendidikan Nasional yang terkenal dengan nama Ki Hajar Dewantara. Ki Hajar Dewantara itu dulu belajar Al-Qur’an, dia seorang santri. Tapi sayang sejarahnya Ki Hajar Dewantara dulu belajar Al-Qur’an tidak pernah diterangkan oleh guru-guru di sekolah. 

Ki Hajar Dewantara itu ngaji Al-Qur’an dan yang mengajar adalah Kyai Sulaiman Zainuddin.  Ayo kita buka sejarah Taman Siswa, anak didik supaya tahu utuh, sejarah jangan dipotong-potong, kalau anda memotong sejarah pada saatnya nanti sejarah Anda akan dipotong oleh Allah SWT.

Yang mengatakan Kyai Sulaiman Zainuddin mempunyai murid Suwardi Suryaningrat mengaji di sana itu, saya baca di Sejarah Taman Siswa dan dari cerita para sesepuh di desa.” Demikian Kiai penyambung informasi ini untuk disampaikan kepada masyarakat, bahwa orang yang terkenal dengan konsep pendidikan  "ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani" itu ternyata dulunya seorang santri. Lahir dari rahim pendidikan seorang Kiai.

Tidak heran kemudian konsep ini selaras dengan konsep pendidikan yang islami (selengkapnya lihat: http://www.gomuslim.co.id/read/tokoh/2016/05/02/316/korelasi-dan-relevansi-konsep-ki-hajar-dan-pendidikan-islami.html)

Setelah tamat pendidikan agama di Pesantren Kiai Sulaiman di Prambanan dan pendidikan dasar, Ia melanjutkan pendidikan di STOVIA, namun tidak selesai karena sakit. Akhirnya, Ia bekerja menjadi seorang wartawan di beberapa media surat kabar, seperti De Express, Utusan Hindia, dan Kaum Muda.

Seperti dikutip dalam National Geographic Indonesia, selama era kolonialisme Belanda, ia dikenal karena berani menentang kebijakan pendidikan pemerintah Hindia Belanda pada masa itu, yang hanya memperbolehkan anak-anak kelahiran Belanda atau kaum priyayi yang bisa mengenyam bangku pendidikan.

Kritiknya terhadap kebijakan pemerintah kolonial menyebabkan ia diasingkan ke Belanda bersama dua rekannya, Ernest Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo. Ketiga tokoh ini kemudian dikenal sebagai “Tiga Serangkai”.

Setelah kembali ke Indonesia, ia kemudian mendirikan sebuah lembaga pendidikan Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa.

Ki Hajar telah lama pergi meninggalkan bangsa Indonesia. Tokoh yang pernah menjadi santri itu meninggalkan amal jariyah yang tidak ternilai bagi pendidikan karakter bangsa Indonesia. “Sesuai yang diajarkan Ki Hadjar Dewantara, nilai-nilai pendidikan di Tamansiswa bukan hanya mencerdaskan otak, tapi kita namakan jiwa merdeka,” Kata Ketua Harian Majelis Luhur Taman Siswa, Ki R Suharto, Senin 2 Mei 2016, di Yogyakarta saat memberi sambutan peringatan Hardiknas. (mm)


Back to Top