Lebih Dekat dengan IDB dan Peran dalam Pembangunan Dunia Islam

Jeddah, (gomuslim). Awalnya, Islamic Development Bank (IDB) berdiri didorong semangat untuk menyediakan pembiayaan pembangunan ekonomi dan sosial bagi negara-negara anggota dan komunitas muslim di luar negara anggota yang sesuai prinsip syariah Islam. Institusi keuangan Islam internasional ini dibentuk oleh konferensi menteri keuangan negara-negara muslim yang merilis 'Declaration of Intent' tentang pembentukan Islamic Development Bank di Jeddah, Desember 1973.

Ada tiga matra yang jadi sasaran-antara pembangunan, pertama pengembangan dan pengolahan sumber daya yang begitu melimpah di negara-negara muslim tetapi terbelit oleh sistem ketidakadilan finansial global, kemiskinan, keterbelakangan pendidikan dan teknologi sehingga negara terkait tidak berkembang. Kedua pengentasan kemiskinan itu sendiri yang terjadi sistemik akibat minimnya akses pada sistem keuangan global dan pasar yang terbatas. Negaranya boleh kaya, tetapi penduduknya jadi miskin akibat tak mampu mengelola aset dan kekayaan alam dan menciptakan pasar. Ketiga mengembalikan kehormatan manusia (human dignity) yang hilang akibat ketidakmampuan mengolah sumber daya alam dan kemiskinan.  

IDB memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan dana negara-negara Islam untuk pembangunan dan secara aktif memberi jaminan bebas bunga berdasarkan partisipasi modal negara anggotanya. Di samping itu, keberadaan IDB juga memotivasi banyak negara lain untuk mendirikan lembaga keuangan syariah. Akhir periode 1970-an dan awal dekade 1980-an, lembaga keuangan syariah bermunculan di Mesir, Sudan, negara-negara Teluk, Pakistan, Iran, Malaysia, dan Turki.

Lembaga keuangan Islam internasional ini sejak berdiri hingga pada 1974 masih terbilang sederhana. Lalu IDB berkembang menjadi kelompok enam entitas yang terdiri dari Islamic Development Bank (ISDB atau the Bank), Islamic Research & Training Institute (IRTI), Islamic Corporation for Development of the Private Sector (ICD), Islamic Corporation for Insurance of Investment and Export Credit (ICIEC), International Islamic Trade Finance Corporation (ITFC) and Islamic Solidarity Fund for Development (ISFD).

Dari tahun ke tahun anggota IDB makin bertambah, kini sudah ada 56 negara yang bergabung. Berdasarkan laporan IDB 2015 (Oktober), 86,54% saham dipegang oleh sepuluh negara yaitu: Arab Saudi (23,52%), Libya (9,43%), Iran (8,25%), Nigeria (7,66%), United Arab Emirates (7,51%), Qatar (7,18%), Egypt (7,08%), Kuwait (6,92%), Turkey (6,45%) dan Algeria (2,54%).

Adapun jenis pendanaan IDB terdiri dari terdiri, pertama, Ordinary Capital Resources. Sumber pendanaan ini berasal dari komitmen penyertaan negara-negara anggota yang bersedia memberikan dananya untuk modal operasional IDB.

Selian itu, berasal dari Islamic Bank Portfolio (IBP). IBP ini merupakan dana sindikasi antara IDB selaku Mudharib, yaitu lembaga yang dipercaya untuk mengelola dana pihak lain, dengan mitra usaha. Mitra usaha ini terdiri dari 20 lembaga keuangan syariah di negara-negara anggota IDB selaku shohibul mal. Shohibul mal inilah pihak penyandang dana yang mempercayakan dananya untuk dikelola oleh pihak lain dalam bentuk IBP.

Pendanaan lainnya dari Export Financing Scheme (EFS). EFS merupakan sumber pendanaan yang bertujuan untuk meningkatkan volume perdagangan antar negara anggota IDB. Namun, tidak semua negara anggota bisa memanfaatkan dana ini karena dana ini hanya dapat dimanfaatkan oleh negara anggota EFS yang sampai saat ini masih berjumlah 23 negara.

Jenis pendanaan yang lain berasal dari Fund of the Islamic for Corporation of the Investment and the Insurance of Export Credit (ICIEC). ICIEC merupakan sumber pendanaan untuk penjaminan kerugian dalam investasi maupun perdagangan bagi negara anggotanya.

Dan yang lainnya adalah Waqf Fund. Sumber dana ini berasal dari bunga atas dana IDB yang dalam aktivitasnya tidak dapat dihindari terdeposit pada bank-bank konventional. Pemanfaatannya hanya digunakan untuk grant/hibah bagi korban bencana alam dan bantuan program beasiswa.

 

Peran dan Manfaat Bagi Indonesia

Tidak dapat dipungkiri, Indonesia selalu ikut aktif berperan dalam aktivitas IDB, baik dalam hal memberikan dukungan moral, finansial, maupun yang berkaitan dengan peningkatan sumber daya manusia. Dukungan moral, antara lain terhadap masuknya beberapa negara menjadi anggota baru IDB, bantuan pendanaan pada negara Palestina, dan negara anggota lain khususnya di kawasan Afrika yang mengalami bencana alam, serta bantuan pembangunan daerah Mindanau, Filipina selatan.

Sementara dukungan finansial, antara lain Indonesia berkontribusi dalam permodalan IDB (ordinary capital resources), juga ke dalam modal Export Financing Scheme (EFS)-IDB, dan penyertaan ke dalam modal The Islamic Corporation for the Insurance of Investment and Export Credit (ICIIEC).

Dukungan yang berkaitan dengan peningkatan sumber daya manusia dapat dilihat dari adanya dukungan terhadap penempatan national agency di Indonesia yang dibutuhkan oleh IDB sebagai channeling, line atau executing agent IDB di Indonesia. Tujuan penempatan national agency tersebut adalah untuk memperlancar operasional IDB dalam hubungan bilateral, korespondensi, komunikasi, pertukaran data dan informasi, pencairan dana dan pembayaran kembali.

Meskipun kepemilikan saham tidak terlalu besar, Indonesia telah memperoleh manfaat yang cukup besar dari keberadaan IDB. Sejak 1975 hingga 2016 (Januari), total pinjaman Indonesia ke IDB mencapai US$3.761,10 juta. Adapun sektor terbesar yang mendapatkan pinjaman IDB terbesar adalah pertanian, pendidikan, keuangan dan transportasi. Sedangkan untuk sektor-sektor lainnya pada umunya sangat kecil. Adapun sektor terbesar yang mendapatkan pinjaman IDB terbesar adalah pertanian (37,30%), pendidikan (22,94%), keuangan (6,54%) dan transportasi (2,67%).

Baru-baru ini IDB mengestimasi bantuan pendanaan sekitar US$ 3-5 miliar yang bisa dimanfaatkan sebagai pembiayaan bagi pembangunan infrastruktur nasional Indonesia, dan pemantaban inklusi keuangan syariah di tanah air yang sudah mulai bertumbuh. Dalam 10 tahun terakhir  industri perbankan syariah berkembang signifikan, total aset naik hampir 14 kali lipat. Dari Rp 21,5 triliun di tahun 2005 meningkat jadi Rp 296,2 triliun pada tahun 2015. (boz)


Komentar

Tulis Komentar


Back to Top