Inilah Kriteria Usaha Ala Rasulullah SAW

Bogor, (gomuslim). Banyak mahasiswa bercita-cita untuk menjadi karyawan, usai lulus dari bangku kuliah mereka harus bersaing dengan ribuan sarjana untuk mendapatkan posisi di perusahaan yang diinginkannya. Namun pada kenyataan yang ada saat ini,  jumlah sarjana tidak berbanding lurus dengan lapangan kerja yang tersedia, kondisi seperti ini merupakan tantangan besar bagi generasi muda. Jika tidak dapat berkreasi dan memberanikan diri untuk berjuang maka angka pengangguran akan terus meningkat setiap tahunnya.

Pada Kamis (5/5/2016), seorang akademisi sekaligus ahli dalam ilmu ekonomi khususnya ekonomi syariah, Dr. Muhammad Syafii Antonio, menyampaikan pemikirannya, bahwa saat ini banyak mahasiswa jurusan ekonomi yang berpikir hanya ingin menghitung uang bukan memiliki uang. Mereka merasa senang dan bangga jika dapat bekerja di bank terlebih jika diposisikan di bank pemerintah. “Banyak mahasiswa di sini yang berpikirnya hanya ingin menghitung uang di bank bukan bagaimana memiliki uang,” ujarnya dalam seminar yang diadakan di Kampus Tazkia Bogor, Kamis (5/5/2016).

Selain itu, mantan tokoh  Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), Sutrisno Bachir, menjelaskan bahwa semestinya dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), pemuda Indonesia harus siap bersaing dalam segala hal khususnya wirausaha. Menurutnya, di negeri ini angka persaingan pengusaha sangat rendah dibanding dengan negara tetangga seperti Malaysa. “Angka persaingan usaha kita hanya 1,5%, jauh sekali dengan Malaysa yang mencapai 6%, apalagi Jepang sudah sekitar 13%,” jelasnya ketika menjadi pembicara di acara seminar yang bertema Young Moslempreneur Days Out.

Seminar yang diadakan sekali dalam setahun ini, merupakan ajang pembekalan para mahasiswa Tazkia agar memiliki kemampuan dan keinginan untuk menjadi pengusaha Muslim. Syafii berharap para mahasiswa di kampus ini, dapat meneladani Rasulullah SAW yang juga seorang pedagang. Beliau pun menjelaskan bahwa, terdapat 3 ciri perdagangan Rasulullah SAW, yakni; perdagangan besar, jauh dan banyak. “Jadi jangan salah paham, yang dimaksud berdagang yang sesuai sunnah itu bukan menjual peci, tasbih dan siwak di masjid. Karena perdagangan yang dilakukan Rasulullah itu adalah perdagangan besar memakan waktu lama dan menempuh perjalanan jauh. Barangkali kalau diibaratkan saat ini adalah perdagangan antarnegara (ekspor-impor),” tandasnya.

 hjfjhg

Menurut Syafii, jika seorang mahasiswa berkeinginan untuk menjadi seorang pengusaha, maka terlebih dahulu yang disiapkan adalah mentalnya. Karena bagi seorang entrepreneur harus memiliki jiwa petarung yang tangguh serta harus memiliki sifat hemat. Dia harus merasa memiliki uang sedikit, karena uang yang ada padanya disalurkan untuk pengeluaran gaji karyawannya serta menutupi biaya operasional usaha.  Beliau pun menyampaikan agar seorang pengusaha jangan sampai salah dalam mengatur keuangan, karena hal ini sangat rentan terhadap keberlangsungan usaha.

Pada sisi lain, Sutrisno sebagai pengusaha dan politikus, membagikan pengalamannya terkait entrepereneur. Menurut Sutrisno, terdapat 3 faktor yang mendorong seseorang menjadi pengusaha, yakni; faktor keturunan, faktor lingkungan dan faktor pelatihan. Dari aspek keturunan, Sutrisno menjelaskan jika orang tuanya seorang pengusaha maka hal itu sudah merupakan modal baginya, karena sudah pasti ia akan mendapat kemudahan dalam mencari informasi dan hal lainnya terkait usaha. Kemudian jika seseorang berteman dengan praktisi usaha, maka ia akan sering mendengarkan obrolan tentang bisnis sehingga terdorong untuk andil dalam dunia wirausaha. Selain 2 faktor tersebut, seseorang akan mencoba untuk usaha setelah mengikuti pelatihan-pelatihan.

jhfj

Sutrisno pun menandaskan bahwa banyak akademisi yang selalu mempertimbangkan banyak hal ketika ia hendak terjun ke dunia bisnis, padahal menurutnya, hal ini tidak boleh muncul dalam diri seorang pengusaha. “Pengusaha tidak boleh terlalu banyak pertimbangan, jangan karena dia seorang Doktor lantas selalu mempertimbangkan masalah-masalah. Masalah itu tidak ada habisnya tapi mindset kita yang harus diubah,” jelasnya.

Selain itu mantan Ketum PAN ini berharap agar para pemuda Islam dapat membangun peradaban baru khususnya dalam bidang ekonomi syariah. Sekarang ini banyak pengusaha kelas kakap yang didominasi oleh kaum non-Muslim yang asetnya mencapai ratusan triliun rupiah dan tersimpan di bank luar negeri. Padahal menurutnya, menjadi kaya adalah salah satu syarat untuk menjadi khalifah fil ardl, “Saya memahami bahwa untuk menjadi khalifah fil ardl itu ada 3: aghnia (orang-orang kaya), memilki kuasa dan berilmu,” tandasnya.

Terkait 3 fator tersebut, Sutrisno menjelaskan, bahwa ajaran Islam tidak membenarkan meminta-minta maka kita harus kaya agar dapat memberi. Kemudian seorang khalifah harus memiliki kekuasaan dalam mengambil keputusan dan pengetahuannya harus luas, karena jika pengetahuannya sempit maka ia akan tertinggal dan kalah seiring berjalannya waktu.

Pria kelahiran Pekalongan, 10 April  1957 ini, telah menyadari akan pentingnya mengembangkan ekonomi syariah di tanah air karena sebagai Muslim harus menghindari riba, “Saya pengusaha tapi tidak pakai bank konvensional, kalau dulu saya pakai (bank) konvensional tapi sejak diberitahu Ustadz Syafii, sekarang ini saya pakai bank syariah dan membuka Lembaga Keuangan Syariah.” Ujarnya.

Dengan demikian seminar yang diadakan di Kampus Tazkia ini, diharapkan dapat  memotivasi para mahasiswa dan pemuda Muslim agar dapat berkreasi membuka lapangan pekerjaan bukan mencari lapangan pekerjaan. (fh)

 

 


Back to Top