Keuangan Syariah Disiapkan Bantu Buka Peluang Emas Enterpreneur Pemula

Jakarta, (gomuslim). Sebuah negara dikatakan maju bila jumlah wirausahanya mencapai minimal 2% dari seluruh total populasinya. Indonesia dengan jumlah penduduk sekira 250 juta jiwa, jumlah wirausahawannya masih 1,5%. Atau setara dengan 3,7 juta jiwa. Padahal untuk bisa dikatakan sebagai negara maju, 5 juta penduduk Indonesia mestilah seorang pengusaha atau enterpreneur, bukan orang gajian atau pekerja informal non-industrial.

Kondisi ini diperparah oleh sistem perbankan yang belum ramah terhadap proposal pengajuan pinjaman modal dari calon pengusaha baru kita. Bayangkan untuk mengajukan kredit modal pengusaha kita diharuskan memiliki jaminan aset 120% dan neraca keuangan selama tiga tahun, serta rekening koran sekurangnya 6 bulan. Tentu saja tak mungkin seorang mahasiswa yang baru lulus yang mulai berwirausaha sudah memiliki aset sebanyak 120%. Bisa ditebak, bakalan tidak mudah bagi wirausaha untuk tumbuh di negeri ini. Karena itu, pemerintah terdorong untuk menginisiasi kebijakan keuangan inklusi. Sistem keuangan dan perbankan syariah pun tak ketinggalan untuk mendukung kebijakan ini. Kini sudah mulai muncul Islamic Financial Inclusion. Alias keuangan syariah inklusif.

Di acara Sidang Tahunan IDB ke-41 kali ini, yang digelar di Jakarta, tema Keuangan Syariah Inklusif menjadi salah satu topik utama. Infrastruktur dan sistem perbankan syariah dipandang perlu didorong untuk merespon kebutuhan terciptanya peluang usaha baru atau munculnya para wirausaha yang bermodal kreativitas tinggi. Hadirnya keuangan syariah inklusif ini akan membantu mereka tumbuh kembang, sekaligus menaikkan kelas Indonesia menjadi negara maju.

Pakar keuangan dan ekonomi syariah yang juga anggota Dewan Syariah Nasional MUI, Muhammad Syafii Antonio,  memberi tanggapan atas Topik Keuangan Syariah Inklusif pada Annual Meeting 41st Islamic Development Bank kali ini. Menurutnya keuangan syariah inklusif hadir untuk ikut serta mendorong pertumbuhan industri start up di tanah air yang mulai menjamur. Belakangan wirausaha muda dengan kemampuan kreatif yang tak kalah dengan negara terbilang maju banyak bermunculan.

“Sesungguhnya keuangan syariah itu datang untuk mendorong enterpreneurship (warga), ketika dia akan mulai (berwirausha), akan naik kelas. Kan orang yang enggak punya modal sama sekali itu kan enterpreneurship-nya yang mudah dilakukan ‘kan berdagang? Berdagang bisa pakai uang bisa juga tidak pakai uang. Kalau dia bisa mendagangkan (produk) orang lain dia enggak pernah akan pakai uang. Jadi hanya menyambungkan saja, lalu dapat komisi. Atau dapat kredit barang dari seseorang atau perusahaan yang kemudian dia jual. Bagi hasil, lalu terus begitu. Kalau punya sedikit tabungan, lalu dia ada sebagian uang muka, dagang lagi terus. Tetapi ketika dia akan membangun usaha yang lebih besar beli yang lebih besar, atau import, berarti dia butuh modal kerja,” katanya.

Saat warga ini butuh modal kerja, artinya kapasitas bisnis dia sudah mulai membesar, meski tidak besar-besar amat. Di situlah peran keuangan syariah inklusif membantu perkembangan wirausaha dalam negeri.

“Nah di situlah fungsi perbankan (syariah nanti). Meski di lapangan, orang masih cenderung ke konvensional, sekitar 95% masih lari ke konvensional,”  ujar Syafii Antonio yang pernah diendorse sebagai nominee IDB Prize oleh Kementerian Keuangan RI 2002.

Syafii Antonio menyarankan wirausaha yang perlu didorong itu menurutnya ialah wirasusaha yang memiliki orientasi pada pengembangan produk dalam negeri. Sebab produk dalam negeri dengan sumber daya alam dan bahan baku masih melimpah dan belum terolah dengan baik. Dalam hal ini ia mencontohkan pertanian. Wirausaha di bidang pertanian dan produk pangan atau olahannya masih belum banyak ada yang menyentuh.   

“Negara besar seklipun seperti Prancis, Jepang. Di situ petaninya benar-benar dijaga (ada pembinaan enterpreneurship-nya: red). Jepang untuk beberapa produk makanan minuman, umbi-umbian, sayuran-sayuran tertentu, mereka petaninya mendapatkan pembinaan dari pemerintah dengan sangat intens,” katanya.

Para petani di sana, katanya, diberi kesempatan untuk tumbuh berkembang serta diajak berkompetisi secara kreatif antar sesamanya. Sehingga produknya dapat bersaing di tingkat global. (boz)

  

 


Back to Top