Indonesia Nomor Urut ke-6, Inilah 10 Negara Tujuan Wisata Halal Paling Diminati

Jakarta, (gomuslim). Muslim traveler saat ini menjadi incaran para pengembang pariwisata karena tumbuh paling cepat dalam industri pariwisata global. Berdasarkan laporan tahunan pada tahun 2015, diperkirakan ada 117 juta wisatawan muslim yang melakukan perjalanan ke berbagai negara. Jumlah ini diperkirakan terus tumbuh hingga mencapai 200 juta lebih pada tahun 2020, dengan total pengeluaran sebesar USD 200 Miliar.

Wisata halal di Indonesia memang hal baru, karena itu belum banyak juga yang memahami segmen ini. Pariwisata halal adalah bagian dari idustri pariwisata yang ditujukan untuk wisatawan Muslim. Pelayanan wisatawan dalam pariwisata halal merujuk pada aturan-aturan Islam.

Salah satu contoh dari bentuk pelayanan ini misalnya soal hotel yang tidak menyediakan makanan ataupun minuman yang mengandung alkohol. Hotel juga harus memiliki fasilitas kolam renang serta fasilitas Spa yang terpisah untuk pria dan wanita. (Soal hotel syariah, lihat: http://www.gomuslim.co.id/read/korporasi/2016/04/11/190/shs-sabet-kategori-halal-perhotelan-syariah-terbanyak.html -- lihat juga: http://www.gomuslim.co.id/read/news/2016/04/12/194/koridor-bisnis-hotel-syariah-makin-terbuka-lebar.html).

Selain hotel, transportasi dalam industri pariwisata halal juga memakai konsep Islami. Penyedia jasa transportasi wajib memberikan kemudahan bagi wisatawan muslim dalam pelaksanaan ibadah selama perjalanan. Kemudahan ini bisa berupa penyediaan tempat sholat di dalam pesawat, pemberitahuan berupa pengumuman maupun adzan jika telah memasuki waktu sholat selain tentunya tidak adanya makanan atau minuman yang mengandung alkohol dan adanya hiburan Islami selama perjalanan.

Pasar wisata halal berkembang sejak 10 tahun terakhir. Sebagaimana dilansir dalam sebuah laporan ‘World Travel Market’ di London pada tahun 2007 disebutkan bahwa ada potensi yang sangat besar bagi pariwisata halal dari sisi ekonomi dan pada tahun 2016 ini prediksi tersebut terus terbukti. Bahkan diyakini makin berkembang.

Tulisan lain dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh situs portal ‘The Economics’ juga menyebutkan adanya prospek yang cukup besar bagi indsutri pariwisata halal, tidak hanya berhubungan dengan produk halal seperti makanan ataupun minuman non-alkohol tetapi juga pelayanan yang halal terutama yang berhubungan dengan interaksi antara wisatawan laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom.

Hingga 2015, pertumbuhan industri pariwisata halal dapat dikatakan sebagai pertumbuhan terbesar dibandingkan dengan jenis pariwisata lainnya. Bahkan organisasi konferensi Islam (OKI atau organization of Islamic conference, OIC) telah membuat peringkatisasi negara-negara OIC sebagai tujuan wisata halal terdepan, yaitu:

Peringkat 10 besar negara destinasi wisata halal yang tergabung dalam OKI atau OIC:

  1. Malaysia
  2. Turki
  3. Uni Emirat Arab
  4. Arab Saudi
  5. Qatar
  6. Indonesia
  7. Oman
  8. Yordania
  9. Maroko
  10. Brunei Darussalam

 

Peringkat 10 besar negara destinasi wisata halal yang tidak tergabung dalam OKI atau OIC:

  1. Singapura
  2. Thailand
  3. Inggris Raya
  4. Afrika Selatan
  5. Perancis
  6. Belgia
  7. Hong Kong
  8. Amerika Serikat
  9. Spanyol
  10. Taiwan

Indonesia di antara negara-negara anggota OKI atau OIC tergolong baik di peringkat ke-6, padahal belum terlalu dikembangkan. Dengan program pemerintah yang mulai melirik segemen pasar pariwisata halal ini, diharapkan Indonesia dapat naik peringkat lagi. (mm)


Back to Top