Gala Premier Film Aisyah BKB (1)

Tatap Potret Sosial dan Toleransi di Indonesia Timur

Jakarta, (gomuslim). Senin (16/5/2016) pemutaran perdana film Aisyah Biarkan Kami Bersaudara dilakukan di Bioskop XXI Epicentrum Walk. Film bergenre drama ini mengambil area Indonesia Timur tepatnya di Dusun Derok. Dusun ini merupakan salah satu dusun yang terletak di Atambua, jarak dari Atambua ke Dusun Derok memakan waktu sekitar 1,5 jam sedangkan dari Atambua ke Kupang harus ditempuh selama 6 jam.

Dusun terpencil ini dihuni oleh mayoritas umat Katolik yang penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan. Mereka tinggal di daerah yang jauh dari akses layanan umum, di samping itu minimnya jumlah moda transportasi, membuat mereka harus berjalan kaki puluhan kilometer untuk menuju jalan yang dilalui angkutan. Untuk dapat menuju ke sekolah, anak-anak SD pun harus berjalan kaki sepanjang 10 km dari rumah mereka.

Kondisi sosial yang memprihatinkan ini, merupakan suatu kesenjangan yang tampak sangat kontras dengan beberapa wilayah di Pulau Jawa. Itulah sebabnya pendidikan di wilayah Timur Indonesia jauh tertinggal dengan wilayah Indonesia bagian Barat. Kondisi seperti ini akhirnya menggugah seorang Produser Film Hamdhani Koestoro  dan Herwin Novianto, untuk mengangkat kisah yang dituangkan dalam suatu film berjudul, Aisyah Biarkan Kami Bersaudara. “Saya ingin memproduksi film yang bagus untuk perfilman Indonesia, maka saya angkat kisah ini ke menjadi suatu film yang menyentuh unsur sosial dan agama,” ujar Hamdhani di sela-sela konferensi pers (16/5/2016).

Herwin selaku sutradara film ini mengaku bahwa film ini dibuat saat musim kemarau di bulan November 2015, “Proses pembuatan film ini dilakukan sejak November tahun lalu karena untuk mengambil moment saat musim kemarau agar kita tahu betapa sulitnya mereka mendapatkan air bersih,” pungkas sutradara ini.

Selain menggambarkan aspek kehidupan sosial masyarakat, film ini meceritakan tentang guru Muslimah bernama Aisyah yang mendapat tugas dari sebuah yayasan untuk mengajar di Dusun Derok. Aisyah yang diperankan oleh Laudya Chinthia Bella, berangkat dari kampungnya, Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, untuk mengajar di NTT. Ia seorang sarjana pendidikan yang bercita-cita menjadi guru yang ingin mewujudkan harapan almarhum ayahnya untuk mengajar. Namun sang Ibu merasa keberatan jika Aisyah mengajar di NTT, ia merasa khawatir dengan kondisi anak perempuan satu-satunya itu.

6iutyoi

Kendati sang ibu berat melepas kepergian Aisyah, namun akhirnya ia pun mengizinkannya karena ambisi Aisyah untuk mengajar sangat besar, selain itu Aisyah berusaha keras meyakinkan sang ibu agar hatinya luluh. Sesampainya di NTT, Aisyah terkejut melihat tandusnya tanah di daerah ini dan tak jarang hamparan debu menghempas ke wajahnya ditambah lagi teriknya sinar matahari telah membakar kulit. Kondisi seperti ini sangat jauh berbeda dengan keadaan di kampungnya yang dekat dengan perkebunan teh yang hijau dan sejuk.

Kedatangan Aisyah ke Dusun Derok disambut dengan tarian khas daerah bak tamu terhormat, kemudian disambut dengan ucapan Bapak Kepala Dusun “Selamat datang Suster Maria”. Mendengar ucapan itu Aisyah pun langsung pingsan, akhirnya masyarakat pun menggotongnya ke rumah kadus. Setelah siuman, Aisyah diajak menyantap jamuan makan malam yang sudah tersedia di pekarangan rumah.  Di antara menu hidangan yang disediakan, terdapat olahan daging babi yang dihidangkan di atas piring plastik.

Seketika seorang anak bernama Siku bersuara lantang mengatakan, “Ibu guru orang Islam dia nggak makan babi” mendengar ucapan itu masyarakat yang turut hadir menyaksikan acara malam itu langsung heran. Mereka pun bingung harus menyediakan apa untuk tamu terhormat ini, akhirnya ada yang berinisitif memasakkan mie instan untuk Aisyah.

Kedatangan seorang guru merupakan suatu anugerah bagi masyarakat, pasalnya pendidikan di dusun terpencil ini sangat jauh tertinggal, sedikit sekali tenaga pengajar yang bersedia ditempatkan di desa yang mayoritas penduduknya miskin ini. Atas dasar itulah, masyarakat Dusun Derok sangat senang dengan kedatangan Aisyah sebagai tenaga pengajar bagi anak-anak mereka.

Meskipun para orang tua senang dengan keberadaan Aisyah, lain halnya dengan seorang murid yang bernama Lordis Defam yang memahami bahwa keberadaan orang Islam di kampungya adalah untuk memerangi umat Kristen dan akan menghancurkan gereja-gereja mereka. Akhirnya akibat hasutan Lordis, murid-murid di kelas membenci Aisyah. Mereka enggan diajar oleh guru yang dianggapnya akan memusuhi dan memerangi keluarganya. Namun kelembutan hati Aisyah dapat menarik simpati murid-murid serta mematahkan tuduhan itu.

Aisyah mendapat dukungan dari kepala dusun yang mengajak masyarakat untuk tidak mempersoalkan perbedaan agama yang dianutnya karena keberadaan Aisyah adalah untuk mendidik putra putri mereka. Akhirnya para murid pun dapat menerima Aisyah sebagai guru mereka kecuali Lordis yang masih menyimpan dendam pada Aisyah karena agama yang dianutnya. Namun Aisyah membalasnya dengan kelembutan hati dan kepedulian pada Lordis ketika ia kecelakaan bahkan Aisyah yang membayar semua biaya perobatan Lordis. Dari sinilah Lordis dapat mengerti bahwa pandangannya terhadap umat Islam yang dianggapnya mengajarkan kekerasan ternyata hal itu adalah salah.

Masyarakat di desa ini tidak pernah mempermasalahkan perbedaan agama yang dianut oleh masing-masing individu. Mereka tetap rukun meskipun berbeda, namun perbedaan itu bukan ajang perpecahan di Dusun Derok, itulah sebabnya film ini mengangkat judul Aisyah Biarkan Kami Bersaudara.

Film berdurasi  90 menit ini, menyampaikan pesan moral tentang bagaimana kita menyikapi perbedaan di tengah masyarakat majemuk. Selain itu, film ini mengetuk hati kita ketika melihat sulitnya mereka mendapatkan kebutuhan pokok khususnya air bersih di musim kemarau. Hal semacam ini seolah terabaikan begitu saja dan luput dari perhatian jutaan jiwa, padahal mereka bagian dari Indonesia, negeri yang kaya sumber daya alamnya.

Banyak pelajaran yang dapat diambil dari kisah kehidupan masyarakat NTT di film ini. Meskipun menceritakan perjuangan minoritas namun film ini diselingi adegan kocak dari dua komika Indonesia, Ari Kriting dan G. Pamungkas,  untuk itu jangan lewatkan tayangan serentak di Tanah Air yang akan diputar pada (19/5/2016). (fh)

 


Back to Top