41st Annual Meeting - IDB Group

Keterlibatan Pemuda Dalam Pembangunan Makin Diharapkan

Jakarta, (gomuslim). Langkah IDB melibatkan kaum muda lebih jauh dalam pembangunan telah dilakukan sejak 2011 sebagai kebijakan strategis untuk memperbaiki taraf hidup kaum muda, dan membuka akses keuangan kepada mereka. Intervensi IDB -Group di segmen anak muda umumnya difokuskan pada tiga bidang utama diantaranya Pendidikan, Ketenagakerjaan, dan Kewirausahaan.  

Dalam sorotan IDB, saat ini sekitar 201 juta orang tidak bisa mengakses lapangan pekerjaan. Angka ini sebanding dengan jumlah orang yang tidak dapat mengakses permodalan pada institusi-institusi keuangan, sehingga mengalami pengangguran. Sepertiga dari angka itu adalah anak muda yang menghuni negara-negara muslim yang berkembang. Sementara sekitar 62% penduduk dunia menikmati akses perbankan, dan hanya 32% dari jumlah itu terdiri dari populasi kaum muda.

Tema seminar “Youth in Development: Innovative Solutions for financial Inclusion” kemarin (16/05/2016) banyak memberikan pencerahan dan wawasan baru bagi anak muda untuk melihat peluang-peluang yang ditimbulkan oleh kecanggihan teknologi, yang mana memiliki sisi disruptif. Peserta diajak membicarakan kembali peluang dan tantangan pengembangan kapasitas di masa depan, dengan memanfaatkan keterbukaan dan teknologi informasi yang belakangan ini banyak mengubah cara pandang manusia.

dasfws

Tetapi persoalan yang tersisa sekarang, untuk kasus  dalam negeri saja, institusi keuangan belum ramah terhadap proposal-proposal permodalan yang diajukan oleh enterpreneur muda. Seorang pengusaha pemula untuk bisa mengajukan modal kerja ke sistem perbankan disyaratkan memiliki jaminan aset senilai 120% dari modal yang diajukan. Selain itu, ia harus mempunyai laporan neraca keuangan selama 3 tahun dan rekening koran sekurangnya 6 bulan. Tentu ini masih menjadi kendala dalam memacu keterlibatan anak muda dalam pembangunan.

Keuangan syariah inklusif yang menjadi salah satu topik dalam seminar ini, secara konseptual kedepan akan merespon kendala-kendala ini sebagai upaya pelibatan anak muda—sebagaimana arah visi kebijakan IDB kedepan, dalam mendorong pembangunan dan mengurangi kemiskinan.

Satu hal yang menarik dan dikupas oleh satu atau dua panelis ialah minimnya akses terhadap keuangan dan permodalan yang dialami kaum muda di negara-negara berkembang, terutama komunitas muslim, merupakan tantangan yang hendak dipecahkan secara bersama oleh negara-negara anggota IDB.

Seminar Pemuda ke-11 IDB kali ini antara lain menyoroti peluang yang relatif besar yang disediakan oleh kecanggihan teknologi. Konektivitas anak-anak muda terhadap teknologi jaringan seperti media sosial, blog, micro blogging, web, dan lain sebagainya dapat ditingkatkan menjadi peluang usaha dan kegiatan ekonomi kreatif lainnya. Tren ini menjadi sorotan perusahaan-perusahaan yang belakangan ini menyoroti keterpautan anak muda dan teknologi yang bergelut di bisnis start-up dan kelasnya masih UKM (SME).

Untuk tujuan itu, pengenalan Keuangan Inklusif yang sesuai dengan syariah (Syariah complaint) serta solusi inovatif kepada kelompok-kelompok enterpreneur muda ini memberi harapan besar begi tujuan-tujuan pembangunan manusia kedepan yang lebih adil, manusiawi dan mengangkat martabat, sesuai visi IDB saat ini.

Topik dalam Youth Development Seminar (YDS) ini makin menarik ketika satu persatau para panelis, Ahmed Moor, Nabila Alsagoff, Chowdhury menyampaikan pandangannya dengan dimoderatori oleh seorang jurnalis muda Inggris dan komentator politik, Mehdi Hasan yang lihai memberikan umpan balik atas tema dan perspektif yang dibawakan oleh mereka. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI Anies Baswedan memberikan clossing remark atas diskusi kaum profesional muda, para ahli global dan regional serta inovator dalam rangkaian Sidang Tahunan IDB Grup ke-41 ini. (boz)

 cdw


Back to Top