Terbukti Tangguh, IDB Akan Kembangkan BMT di Negara Muslim

Jakarta, (gomuslim). Baitul Mal wat Tamwil atau BMT menjadi salah satu “best practice” dalam inovasi keuangan inklusif yang menjadi sorotan dalam Sidangan Tahunan ke-41 Islamic Development Bank Group (IDBG) pertengahan Mei 2016 lalu. BMT merupakan lembaga keuangan mikro yang didasarkan pada prinsip syariah yang dinilai kuat memiliki aspek sosial. Di BMT ada pemberdayaan sosial dan pengembangan usaha mikro yang dapat mengentaskan kemiskinan. BMT ini dikenal sebagai model micro-finance Indonesia yang berkembang di tengah masyarakat muslim dan komuntas-komunitas pemberdayaan islami.

Sebegaimana diketahui, BMT banyak membantu pengusaha-pengusaha mikro menciptakan peluang untuk mengakses permodalan dan lebih dari itu BMT membuat mereka dapat meningkatkan taraf hidup, memperbaiki pendidikan, dan peningkatan kapasitas usaha.

Saat peran yang dimainkan BMT ini diangkat ke forum Sidang Tahunan, terutama dalam topik Upaya Mencari Inovasi Keuangan Inklusif Islami, BMT menjadi model yang disorot dan dianggap dapat direplikasi oleh negara-negara anggota. Apalagi BMT dikenal sebagai lembaga keuangan yeng memiliki tujuan untuk menyediakan akses ke kesejahteraan kepada pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). BMT mengedukasi masyarakat untuk menabung dan mengelola keuangan, dan untuk mengembangkan produk usaha yang halal, syar’i dan memiliki dampak sosial.

Keberadaan lembaga keuangan mikro ala BMT ini sebenarnya bagus untuk dikembangkan sebagai  inklusi keuangan, dan seperti dibahas saat itu, BMT di tanah air memiliki peran pemberdayaan ekonomi rakyat kecil. Prof Alhabsy, dari The International Center for Education in Islamic Finance (ICEIF), pernah meneliti bahwa peran inklusi keuangan memainkan peran dalam menumbukan ekonomi dan mengentaskan kemiskinan di negara-negara berkembang. Terbukti juga Inklusi keuangan dapat membantu pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) karena mendorong pertumbuhan keuangan mikro.

“75% penduduk di negara-negara muslim tidak menggunakan jasa keuangan formal, dan 20% - 40% di antaranya tidak menggunakan keuangan mikro konvensional untuk menghindari riba,” uangkapnya.

Inklusi keuangan yang diperankan BMT tak lain adalah bagaimana upaya menciptakan akses keuangan bagi komunitas atau masyarakat itu dilakukan bersama-sama (‘ala jama’ah bil jama’ah), bukan menciptakan peluang-peluang monetasi yang menguntungkan lembaga. Inklusi keuangan yang sebenarnya ialah yang mampu menjangkau kelompok-kelompok sosial yang di bawah, dan ini hanya bisa dilakukan oleh lembaga keuangan mikro yang memadukan antara peran pemberdayaan sosial dan pengembangan usaha kecil.

Model inklusi keuangan ala BMT ini masuk dalam sorotan IDB saat para negara anggota di bawah organisasi ADFIMI mendiskusikan tentang perkembangan dan masa depan Inklusi keuangan di Asia Tenggara yang diselenggarakan di Jakarta (17/05/2016). ADFIMI adalah organisasi internasional otonom dan independen yang pernah didirikan IDB pada Sidang Tahunan ke-11 di Amman (Maret 1986). Organisasi ini memiliki perhatian pada isu-isu inklusi keuangan dan inovasi yang berkembang di negara-negara anggota. ADFIMI sendiri kepanjangan dari Association of National Development Finance Institutions in Member Countries of the Islamic Bank Development. (boz)


Back to Top