Yang Tersisa dari Sidang Tahunan IDB: Ternyata, Sukuk Indonesia Jadi Acuan Negara Anggota

Jakarta, (gomuslim). Dalam urusan Sukuk atau obligasi syariah, pasar keuangan syariah Indonesia lebih baik di kawasan ASEAN. Bahkan dalam data Blumberg, seperti dicatat M. Teguh Anggota DSN-MUI Bidang Pasar Modal, Sukuk Indonesia berdenominasi dolar AS termasuk nomer satu di dunia. Untuk Sukuk Ritel saja, Menteri Keuangan RI Bambang P.S. Brodjonegoro juga mencatat ada kenaikan siginifikan, pada 2008 nilainya Rp. 5,5 triliun pada tahun ini berkembang jadi Rp. 31,5 triliun. Sukuk ritel ini menyasar para investor individu. Jumlah keseluruhan Sukuk Ritel Negara yang diterbitkan pemerintah sekarang sudah mencapai delapan seri. Dan total jumlah investor sudah mencapai 48.444 individu pada 2016. Mereka datang dari berbagai status sosial dan ragam pekerjaan, juga letak geografis yang berbeda.

Sukuk ritel tak ubahnya sebagai inovasi inklusi keuangan yang dapat membuka kesempatan bagi pengusaha kecil untuk mengakses permodalan. Sukuk ini bisa mengurangi kesenjangan dengan adanya akses yang setara, adil terhadap instrumen keuangan bagi masyarakat kecil menengah, dan berdampak pada penguatan kapasitas usaha. Investor juga akan memiliki akses langsung terhadap pasar keuangan dan masyarakat, dengan instrumen investasi yang aman.

Dalam pesf wrrtemuan tahunan Islamic Develoment Bank (IDB) Group pertengah sasi kemarin di Jakarta, penerbitan Sukuk baik untuk ritel atau pembiayaan infrastruktur dinilai sebagai inovasi keuangan yang manarik untuk dikembangkan di negara-negara anggota (member countries of IsDB). Terutama Sukuk Ritel yang memiliki dampak pada aspek ekonomi sekaligus sosial. Sukuk ini tak lain adalah inovasi ampuh untuk mendorong inklusi keuangan syariah di Indonesia. Apalagi terbukti, Sukuk Indonesia masih tergolong tertinggi di kawasan negara-negara Muslim.

 

Meningkatnya minat masyarakat dan investor terhadap sukuk ini menjadi indikasi bahwa trust pasar terhadap instrumen keuangan dan penanaman modal berkelamin syariah ini cukup tinggi juga. Selain aman, instrumen ini dianggap dapat mendorong kesetaraan dan memperkecil kesenjangan.

“Penerbitan sukuk ritel dianggap sebagai inovasi yang efektif untuk mendorong inklusi keuangan syariah, juga bisa mengurangi tingkat kesenjangan dan mendorong adanya kesetaraan yang sesuai dengan prinsip keuangan syariah. Dengan karaktertistik prinsip keuangan yang mendorong inklusifitas, kesetaraan, kerja sama dan keadilan itu bisa membantu pengurangan kesenjangan di antara negara berkembang,” jelas Menteri Bambang Brodjonegoro di sela acara Seminar Sukuk untuk Pembiayaan Infrastruktur, Side Event – 41st Annual Meeting IDB, di Jakarta.

Semula, penerbitan Obligasi syariah pertama diinisasi oleh private center, bukan pemerintah. Ketika pemerintah melihat ada peluang bagus untuk mendorong kontribusi masyarakat dalam penyertaan modal pembangunan, pemerintah menerbitkan Sukuk melalui dikeluarkannya terlebih dahulu UU tentang SBSN (Surat Berharga Syariah Negara). Kini Indonesia jauh lebih siap untuk mendapatkan sumber pembiayaan, termasuk pembangunan infrastruktur jadi program utama pemerintah, dengan mengandalkan sistem keuangan syariah ini. Tidak hanya negara-negara anggota IDB, dunia internasional saat ini pun melirik inovasi keuangan yang dilakukan negara Muslim terbesar Asia Tenggara ini.

“Tadinya sukuk ini berbasis aset, sekarang sudang menuju ke project financing (pembiayaan proyek infrastruktur: red) dan Sukuk ritel. Artinya instrumen sukuk sudah berkembang jauh lebih baik dari pada awalnya,” ungkapnya. (boz)


Back to Top