Milad ke-90 Pondok Modern Gontor

Indonesia Butuh Seribu Gontor Lagi, Tidak Lulus Ujian Masuk Saja Jadi Profesor

Jakarta, (gomuslim). Indonesia patut bersyukur ada lembaga pendidikan Islam Pondok Modern Gontor yang melahirkan sejumlah teladan umat seperti mantan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi, Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr Din Syamsuddin, Cendikiawan Dr Nurcholis Madjid (alm), Budayawan Emha Ainun Najib, Menteri Agama Lukman Hakim, sejumlah pengasuh pesantren besar di tanah air, toko-tokoh kaliber nasional maupun internasional serta ribuan guru, pengusaha dan tokoh yang berbaur di tengah masyarakat.

Gontor sendiri pada Sabtu pagi ini (28/05/2016) sedang menggelar 'Sujud Syukur' di Masjid Istiqlal atas usianya yang ke-90 Tahun. Hadir sejumlah alumni yang menjadi tokoh-tokoh besar, menteri dan Wakil Presiden H Jusuf Kalla.

iutu

Tidak heran Pondok Modern Gontor dirindu banyak calon santri, bahkan seorang calon santri yang gagal ujian masuk Gontor saja kini menjadi seorang doktor lulusan Amerika dan professor di perguruan tinggi Islam ternama, pada hari jadi PM Gontor masih merindu Gontor. Andai dulu lulus ujian masuk Gontor, demikian gumam Prof Dr Bachtiar Effendy, yang setelah tidak lulus ujian masuk Gontor masuk ke Pesantren Pabelan Magelang, yang didirikan alumnus Gontor KH Hammam Dja'far.

Gontor yang meluas kiprahnya dari tahun ke tahun, ternyata didirikan oleh tiga kakak beradik yang saat itu masih muda belia. Tiga pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor itu adalah

  1. KH. Ahmad Sahal berumur 25 tahun.
  2. KH. Zainuddin Fanani berumur 18 tahun.
  3. KH. Imam Zarkasyi berumur 16 tahun.

Sulit dibayangkan dalam usia sebelia itu, alam pikirannya sudah melampaui zaman dan lingkungan tempat tinggalnya yang jauh dari perkotaan dan informasi. Bahkan begitu pondok yang didirikannya itu sudah mulai membesar, pondok itu justru diwakafkan kepada umat Islam secara resmi pada tahun 1958. Artinya, para pendiri dan keturunannya tidak bisa mengklaim lagi bahwa pondok adalah aset kekayaan mereka. Mungkin inilah makna ‘zuhud’ yang benar-benar sulit dinalar kecuali bagi mereka yang dikarunia kejernihan kalbu-susah payah mendirikan pondok dengan uang pribadi dan warisan keluarga, tapi setelah bertambah besar dan terkenal, pondok tersebut justru langsung diwakafkan.  Pada titik inilah kita benar-benar mendapat teladan hidup yang sesungguhnya.

Syeikh Hasan Al-Baquri (Menteri wakaf Mesir tahun 1952), saat beliau datang ke Gontor dan mengatakan yang menjamin kelestarian pondok bukanlah gedung-gedung yang megah, santri-santri yang banyak, guru-gurunya yang hebat tetapi falsafahnya.

Maka tidak heran jika Syeikh Syaltut (Rektor Al-Azhar tahun 1958) pernah mengatakan supaya di Indonesia ini muncul 1000 Gontor lagi.

Lalu, apa itu falsafah hidup TRIMURTI, Pendiri PONDOK MODERN DARUSSLAM GONTOR? Berikut adalah beberapa nasehat sekaligus falsafah hidup beliau:

  1. Bondo, bahu, pikir, lek perlu sak nyawane pisan. (KH. Ahmad Sahal)
  2. Indonesia Omahku, Asia tegal sawahku, Amerika Pelanconganku. (KH. Ahmad Sahal)
  3. Yen wanio ing gampang, wedi ing pakewuh, sebarang or kelakon, jer besuki mowo beo. (KH. Ahmad Sahal)
  4. Andaikata muridku tinggal satu, akan tetap kuajar, yang satu ini sama dengan seribu, kalaupun yang satu ini tidak ada, aku akan mengajar dunia dengan pena. (KH. Imam Zarkasyi)
  5. Ya Allah SWT daripada aku melihat bangkai Pondokku, pundutlah (matikanlah) aku lebih dahulu. (KH. Ahmad Sahal)
  6. Satrio Panindito, sugih tanpo bondo, ngulurug tanpo bolo, digdoyo tanpo aji-aji, menang tanpo ngasorake. (KH. Ahmad Sahal)
  7. Kalau saya punya santri mau berjuang ke desanya,  membina dakwah dalam desa itu, anak seperti itu cukup besar bagi saya. (KH. Imam Zarkasyi)
  8. Hei, Anak-anak KH. Idam Khalid dan kawan-kawan setelah kamu tamat dari sini, kelanjutanmu ke Salim Nabhan Surabaya. (KH. Imam Zarkasyi)
  9. Dalam menjalankan tugas (pengabdian) ananda agar berpegang teguh: Toto, titi, tatag, tutug. (KH. Ahmad Sahal)
  10. Sebesar keinsyafanmu sebesar itu pula keuntunganmu. (KH. Imam Zarkasyi)
  11. Hati-hati: harta, tahta dan wanita. (KH. Ahmad Sahal)
  12. Pondok ini supaya tetap berpegang: "Berdiri di atas dan untuk semua golongan". (TRIMURTI)
  13. Pondok supaya tetap berpegang teguh pada Panca Jiwa Pondok, yaitu Keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan. (TRIMURTI)
  14. Hidup sekali hiduplah yang berarti. (KH. Imam Zarkasyi)
  15. Jadilah Ulama yang intelek, bukan intelek yang tahu agama. (KH. Imam Zarkasyi)
  16. Sesudah keluar atau bebas dari tawanan PKI Pak Sahal, mengatakan: "Nyawa saya, nyawa turahan (sisa) yang paling nikmat adalah shalat di masjid saya. (KH. Ahmad Sahal)
  17. Patah tumbuh hhilang berganti. (KH. Imam Zarkasyi)
  18. Motto pendidikan: "Berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, berpikir bebas. (TRIMURTI)
  19. Berjasalah tapi jangan minta jasa. (KH. Imam Zarkasyi)
  20. Berani hidup tak takut mati, takut mati jangan hidup, takut hidup mati saja. (KH. Ahmad Sahal)
  21. Anak-anakku jangan sekali-kali punya sifat "adigang adigung adiguna". (KH. Ahmad Sahal)
  22. Bila kamu menjadi pejabat (pemimpin) jangan bersifat ojo dumeh (merasa hebat, tinggi dan merendahkan orang lain. (KH. Ahmad Sahal)
  23. Wong urip, marani pati, jerone urip, toto pirantine. (KH. Ahmad Sahal)
  24. Kalau kamu pergi, pergilah yang jauh yang dekat terlalui. (KH. Imam Zarkasyi)
  25. Ojo suko pari suko, olo watake wong suko, nyudo kaprayitaning batin. (KH. Ahmad Sahal)
  26. Bahwa pondok ini telah diwakafkan resmi pada tahun 1958. (TRIMURTI)
  27. Untuk meneruskan dan memperjuangkan pondok perlu ada program, maka rumuskanlah Panca Jangka Pondok Modern Gontor pada akhir tahun 1948, yaitu: 1) Pendidikan dan Pengajaran, 2) Khizanatullah, 3) Pergedungan dan Peralatan, 4) Kaderisasi, 5) Kesejahteraan Keluarga Pondok. (TRIMURTI)
  28. Dasar Pemikiran diadakannya Pekan Perkenalan adalah Janganlah kehilangan tongkat yang kedua kalinya (peristiwa 19 Maret 1967). (KH. Imam Zarkasyi)
  29. Mengenai calon isteri kader/Guru, Calon isteri yang akan kesini itu ngarewangi opo ngurusi. (KH. Ahmad Sahal)
  30. Dalam mengembangkan Pondok ini, supaya selalu berhati-hati. (KH. Imam Zarkasyi)
  31. Pondok ini perpaduan/sintesa empat unsur; al-Azhar, Syanggit, Santiniketan, dan Alighar. (TRIMURTI)
  32. Tidak boleh lengah dalam urusan Administrasi, harus selalu waspada setiap detik, (KH. Imam Zarkasyi)
  33. Administrasi yang rapi, muthlak perlu (wajib) untuk menjaga kepercayaan. (KH. Imam Zarkasyi)
  34. Ada uang bisa membangun, ada uang tidak bisa membangun berarti tidur nyenyak, tidak bekerja, uang habis, tidak ada bangunan sama dengan korupsi. (KH. Imam Zarkasyi)

Dengan falsafah itulah Gontor bermunculan di mana-mana. Para alumninya mendirikan pesantren-pesantren dengan sistem yang sama. Tidak heran, Prof Dr Bachtiar Effendy yang pada tahun 1970 mendaftar masuk Gontor namun gagal, pada hari ini secara khusus memberi hormat dan mengucapkan selamat:

“Pondok Modern Gontor Ponorogo: selamat bertasyakur yg ke 90. Lembaga pendidikan Islam ini pantas mensyukuri apa yg sdh dilakukannya selama ini dalam mencerdaskan masyarakat Indonesia. Jauh sebelum kegiatan ini dibakukan oleh para pendiri republik dalam mukadimah uud 1945, tanpa gembar-gembor, jauh dari pamrih dan pencitraan, tiga serangkai pendiri pondok dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan, dg penuh tanggung jawab dan intergritas yg mereka amanahkan kepada diri mereka sendiri, memulai menjalankan tugas mulia mendidik warga. Beliau-beliau itu adalah pahlawan yg sesungguhnya. Republik ini patut berterima kasih kepada Gontor -- sayangnya hal tersebut gagal ditunjukkan dalam kerangka keikhlasan yg penuh. Selamat bertasyakur dan terimakasih kami kpd para pendiri dan penerusnya.” -- Prof Dr Bachtiar Effendy, Mantan calon santri yang tidak lulus ujian masuk tahun 1970.

(mm)


Komentar

  • Husen

    4 September 2016

    Cabang pesantren

    Agar ada cabang pesantren gontor di jawa barat...atau daerah jawa tengah yg dekat ke jabar


    Reply






















Tulis Komentar


Back to Top