Spin off, Indikasi Masyarakat Mulai Melek Perbankan Syariah

Banda Aceh, (gomuslim). Sebentar lagi Bank Aceh akan melakukan konversi menjadi bank syariah. Hal ini ditargetkan terjadi bulan Agustus 2016 mendatang. Belakangan ini Bank Aceh sudah melakukan survey terhadap nasabahnya mengenai rencana konversi dari sistem konvensional ke sistem syariah. Direktur Syariah dan Sumber Daya Manusia Bank Aceh, Haizir Sulaiman, Senin pekan (23/5/2016) lalu menyampaikan laporan dari hasil survey di 13 kabupaten dan kota Aceh pada acara Launching lembaga CENTRIEFP (Centre for Training & Research in Islamic Economics, Finance & Public Policy) dan seminar ekonomi dan keuangan syariah di UIN Ar Raniry, Banda Aceh.

Sebanyak 97 persen nasabah menyatakan akan tetap setia menjadi nasabah jika bank BPD ini melakukan konversi ke sistem Syariah. "Ini artinya masyarakat yang selama ini menjadi nasabah bank berplat merah ini akan tetap mempercayakan uangnya pada bank versi baru yang menggunakan prinsip keuangan syariah secara utuh," ujarnya.

Dari perencanaan korporasi yang telah disusun, Bank Aceh Syariah diharapkan menjadi solusi keuangan bagi masyarakat yang mulai kurang menghendaki sistem perbankan berbasis riba. Selebihnya, diharapkan upaya spin off ini akan menjadi penguatan terhadap sistem keuangan syariah secara nasional maupun dalam skala regional.

Meski langkah ini tergolong bagus, tetapi fundamental perekonomian masyarakat aceh tetap perlu diutamakan.

"Yang tak kalah penting dari konversi Bank Aceh ini diharapkan dapat memperkuat fundamental perekonomian daerah dan masyarakat, serta dalam upaya untuk penerapan syariah Islam secara utuh dan menyeluruh di Aceh," tambah Haizir Sulaiman.

Untuk itu, demi penciptaan fundamental perekonomian yang maju dan dinamis, serta pengawasan secara mikroprudensial, Kepala OJK Aceh, Ahmad Wijaya Putra menyatakan, sebagai lembaga regulator, OJK punya kepentingan untuk mengawal proses konversi Bank Aceh ini sesuai regulasi yang berlaku. Sehingga konversi yang dilakukan Bank Aceh menjadi konversi yang istiqamah (konsisten) dan kaffah (integral).

Spin off atau proses pemisahan suatu unit usaha syariah (UUS) dari induknya, atau pun konvesri seperti dilakukan Bank Aceh itu, dapat dilakukan jika sudah memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan oleh UU No 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah. Ketentuan itu antara lain, unit usaha syariah bisa disapih dari induknya bila pertumbuhan asetnya sudah mencapai 50 persen dari total aset bank induknya. Atau telah beroperasi selama 15 tahun sejak diberlakukannya undang-undang.

Dalam catatan Murniati Mukhlisin, konsultan keuangan syariah keluarga yang memiliki perhatian terhadap perkembangan sistem perbankan syariah, saat ini sudah ada 8 unit usaha syariah (UUS) telah melakukan penyapihan sistem dari bank induknya. Sejak berdirinya Bank Muamalat Indonesia, sebagai bank syariah pertama, hingga awal 2016, OJK mencatat jumlah bank umum syariah (BUS) sudah mencapai 12 bank dengan jumlah kantor 1.970 kantor.  Bulan Agustus ini, jika konversi Bank Aceh ke Syariah terealisasi, maka akan menambah deret BUS di tanah air dari 12 menjadi 13 bank.

Total aset seluruh BUS dan UUS awal 2016 (Maret) mencapai Rp. 287 triliun, dan diperkirakan meningkat menjadi Rp. 348 triliun, atau secara otomatis diharapkan meningkat jadi Rp. 425 triliun di akhir 2016. Konversi Bank Aceh yang akan dilakukan di bulan Agustus ini akan berkontribusi pada besarnya harapan ini. (boz)  


Back to Top