1 Juni

Ternyata, Ada Kiai Ini di Balik Perumusan Lima Sila

Jakarta, (gomuslim). 1 Juni dikenal sebagai ‘Hari Lahir Pancasila’ karena pada tanggal 1 Juni 1945, istilah ini pertama kali disebut oleh Ir. Sukarno dalam sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Sebelum menjadi lima sila seperti yang resmi digunakan, ada proses pematangan yang melibatkan tokoh-tokoh umat Islam, antara lain KH Abdul Wahid Hasyim, sejawat Sukarno yang paling sering dijadikan tempat bertanya.

Sebagaimana tersebut dalam sejarah, proses penyusunan dasar negara Pancasila dan konstitusi negara UUD 1945 mengakomodasi kemerdekaan seluruh anak bangsa, bukan hanya Islam yang merupakan umat mayoritas. Ada Tim Sembilan perumus dasar negara terdiri dari Sukarno, Mohammad Hatta, KH A. Wahid Hasyim, Abdul Kahar Muzakkir, Abikusno Tjokrosujoso, H. Agus Salim, Ahmad Subardjo, Muh. Yamin, dan A.A. Maramis. Mereka merumuskan Piagam Jakarta yang kemudian menjadi Pancasila dengan tolerasi pada sila pertama, “Ketuhanan, dengan Kewajiban Menjalankan Syari’at Islam Bagi Pemeluk-pemeluknya” menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa.

Naskah tersebut disebutkan dalam Pembukaan/Muqaddimah (Preambule)  dan disahkan pada tanggal 17 Agustus 1945.  Sila Ketuhanan Yang Maha Esa mencerminkan pandangan Islam akan keesaan Allah, yang dikenal juga dengan sebutan tauhid. Berkat rumusan para ulama di Tim Sembilan tersebut, kita memiliki lima sila yang mengagumkan dunia itu.

Hal ini diperkuat lagi dengan adanya pencantuman anak kalimat “ Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa” pada pembukaan Undang-Undang dasar 1945, juga menunjukkan kuatnya wawasan keagamaan dalam kehidupan bernegara kita sebagai bangsa.

Tokoh ulama yang berperan menegaskan konsep ketuhanan yang tegas secara vertikal dan akomodatif secara horizontal itu adalah KH Abdul Wahid Hasyim, putra Pendiri NU KHM Hasyim Asy’ari, yang juga tak lain ayah Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Dalam tulisan-tulisan Gus Dur yang tersebar di Majalah Aula NU tahun 1990-an, ditegaskan bahwa, “Ketuhanan Yang Esa” merupakan konsep tauhid dalam Islam sehingga tidak ada alasan bagi umat Islam untuk menolak  Pancasila. Artinya, dengan konsep tersebut, umat Islam mempunyai hak menjalankan keyakinan agamanya tanpa mendiskriminasi keyakinan agama lain. Di titik inilah, menjalankan Pancasila sama artinya mempraktikan Syariat Islam dalam konsep hidup berbangsa dan bernegara.

Gus Dur menyebut pada titik ini pula Indonesia berada di atas angin dibanding negara-negara lain yang tidak dapat meletakkan secara sempurna idelogi negara dan agama rakyatnya yang majmuk. Ini artinya negara Indonesia bukanlah negara sekuler dan bukan pula negara Islam, melainkan negara yang berupaya mengembangkan kehidupan beragama dan keagamaan (Einar Martahan Sitompul, 2010: 91). Jika saat ini ada sebagian kelompok Islam yang menolak Pancasila, bisa dikatakan dengan tegas bahwa mereka tidak ikut berjuang merumuskan berdirinya pondasi dan dasar negara ini.

Peran Kiai Wahid Hasyim bukan hanya mampu menjabarkan Pancasila secara teologis dan filosofis terhadap rumusan awal yang diajukan oleh Sukarno pada 1 Juni 1945, tetapi juga menegaskan bahwa umat Islam Indonesia sebagai mayoritas menunjukkan sikap inklusivitasnya terhadap seluruh bangsa Indonesia yang majemuk sehingga Pancasila merupakan dasar negara yang merepresentasikan seluruh bagian bangsa Indonesia. Oleh karena itu, ketika ada kewajiban untuk menerima asas tunggal Pancasila, tidak ada masalah karena alasan-alasan tersebut. Ternyata ada nilai tauhid alam sila pertama Pancasila dan ada KH Wahid Hasyim dalam perumusannya. (mm)


Back to Top