Olahragawan Abad Ini, Muhammad Ali Wafat dalam Usia 74 Tahun

Arizona, (gomuslim). Innalillahi wa inna ilaihi raajiun. Haji Muhammad Ali, muallaf yang menjadi seorang muslim taat ini, wafat dalam usia 74 tahun pada Sabtu pagi ini atau Jumat malam (03/06/2016) di kota Phoenix, Arizona, Amerika. Kabar tersebut dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru dunia. Sejak dikabarkan kritis beberapa hari terakhir, empat dari enam anaknya langsung terbang ke sebuah rumah sakit di Phoenix, Amerika Serikat untuk menemaninya sampai menghembuskan napas terakhir, termasuk Laila Ali yang juga menggeluti dunia tinju profesional.

Ucapan duka deras berhamburan di media-media internasional, hingga akun-akun media sosial tokoh dunia. Penyandang gelar 'olahragawan abad ini' tersebut pernah ke Indonesia pada tahun 1973 untuk bertanding dengan petinju Belanda Ruddy Lubbers dan pada 1996 diterima Menteri Penerangan Harmoko. Ali menunaikan ibadah haji pada tahun 1973, setelah itu beberapa kali berumrah karena rindu Baitullah dan Rasulullah. Keislamannya menginspirasi banyak orang hingga banyak yang mengikuti menjadi muallaf taat sepertinya.

Selama 40 tahun terakhir hampir semua penduduk dunia mengenal mantan petinju kelas berat Muhammad Ali yang sebelumnya bernama Cassius Marcellus Clay Jr. Ali yang banyak dikagumi dunia dari generasi ke generasi itu tiga tahun terakhir berkawan dekat dengan mantan petinju kelas berat lainnya, yaitu Haji Malik Abdul Aziz yang sebelumnya terkenal dengan julukan si leher beton Make Tyson. Bahkan beredar foto-foto keduanya sedang belajar Alquran bersama di rumah Muhammad Ali.

Muhammad Ali lahir di Kentucky, Amerika Serikat tiga tahun sebelum NKRI merdeka. Setelah merajai pemberitaan sejak tahun 1960-an sebagai orang terkuat, pada tahun 1999, Ali dianugerahi “Sportsman of the Century” atau ‘olahragawan abad ini’ oleh Sports Illustrated. Berkat dakwah dan tabligh di Amerika, tahun 1965 Clay masuk Islam kemudian berganti nama menjadi Muhammad Ali.

Reputasi Clay sebagai manusia terkuat di atas ring tinju setara dengan popularitas kepala negara Amerika. Ketika belum genap berusia 20 tahun, Clay sudah memenangkan pertandingan kelas berat di Olimpiade Roma tahun 1960. Lima tahun kemudian berhasil merebut juara dunia kelas berat dari Sony Le Stone dalam pertarungan paling pendek, karena hanya beberapa menit berhasil mengakhiri pertandingan dengan cemerlang.

 “Di tengah tepuk riuh massa dan kilatan-kilatan kamera, saya berdiri di depan jutaan penonton yang mengelilingi ring dan kamera TV, saya mengucapkan dua kalimat syahadat dan mengganti nama menjadi Muhammad Ali Clay. Untuk memulai sebuah peperangan baru melawan kebatilan yang menghalangi pengumuman ke-Islaman-ku semudah ini,”ujarnya berapi-api. Cara Ali mengumumkan keislamannya ini mengguncang dunia dan menjadi syiar luar biasa karena sebelumnya selalu ditutupi dan dihalangi media.

 

 

Muhammad Ali berhaji ke Mekkah tahun 1973 dan berkali-kali melaksanakan ibadah umrah serta berziarah ke Rasulullah di Madinah Al-Munawwarah. Sejak itu  Ali memanfaatkan sepanjang waktunya sebagai seorang da’i dan pemimpin keluarga muslim. Dia memberi nama puteri-puterinya dengan nama-nama Islami antara lain, Muhammad, Maryam, Rasyidah, Khalilah, Jamilah, Hana dan Laila. Mereka mempelajari Islam dengan taklim harian dan senantiasa pergi ke masjid untuk untuk menjalin hubungan abadi dengan Tuhan dan menjalin persaudaraan bersama muslim lainnya. Di usianya yang sudah senja, ia tetap berdakwah dan tabligh sambil menjalani terapi hidup sehat melalui shalat tahajud. Semoga almarhum mendapat maghfirah dan rahmat Allah, husnul khatimah dan mendapatkan tempat di Surga Allah SWT. (mm)


Back to Top