Saudi Lirik Kontribusi 'Income' dari Jemaah Haji Indonesia

Jakarta, (gomuslim). Sejak lama sebagian besar 'income' Saudi berasal dari jemaah haji, namun terbanting saat negeri ini menjadi petrodollar dari minyak. Kini, Kerajaan Arab Saudi tidak akan mengandalkan sepenuhnya pembiayaan-pembiayaan program pembangunannya pada minyak. Termasuk dalam membangun megapolitan Mekkah Almukaramah. Pemerintah Arab melihat sumber devisa yang disumbangkan jemaah haji dan umrah ini, terutama dari Indonesia yang mengirim jemaah relatif lebih besar. Menurut penulis sejarah Haji di Masa Kolonial berdarah Aceh, Prof Dr Dien Madjid, dari dulu Arab telah menarik manfaat dari kedatangan jemaah haji ke tanah suci.

dsdgf“Sebenarnya dari dulu Arab menarik manfaat dari kedatangan jamaah haji ke tanah suci ini, cuma tidak terlihat karena mereka masih banyak uang dari petrodolarnya. Tapi sekarang ketika uang belanja mereka defisit, mulailah mereka melirik agenda musiman haji ini sebagai sumber pendanaan baru untuk menutupi defisit anggaran,” ujarnya kepada gomuslim saat berbincang tentang pembahasan RUU PIHU dan sumbangan akademisi terhadap pembahasan tersebut di Kampus UIN Ciputat, Jakarta.

Sebelum ini, kontribusi jamaah haji pada pundi keuangan pemerintah Arab Saudi memang tak tampak karena pendapatan belanja negara dari hasil penjualan minyak begitu besar, apalagi ketika tahun 1980-an. Income per kapitas Arab Saudi masih begitu tinggi. Sehingga dana pemasukan dari pengelolaan ibadah haji tahunan tak dilirik, dan penggunanaan serta pemanfatannya terabaikan. Malah dengan dana petrodolar Arab dapat memakmurkan Haramain dengan pembangunan infrastruktur dan fasilitas bagi tetamu Allah. Saudi baru belakangan menimbang dana pengelolaan haji sebagai sumber alternatif bagi pembangunan kota Mekkah.

Melihat kondisi saat ini, Arab Saudi akan dinilai memiliki kebijakan progresif dan gagasan maju bila mengajak negara-negara Muslim ikut berkontribusi dalam memakmurkan Masjid Alharam dan Nabawi.

“Sebenarnya ide (mengajakan negara-negara Muslim berkontribusi untuk kemakmuran Haramain: red) itu menarik. Tetapi dilihat dari segi kemampuan Arab Saudi sendiri pungutan bantuan-bantuan dari luar negeri tidak lakukan pun tidak apa-apa. Tapi kalau secara politis itu bisa ditujukan untuk membangun perikatan persatuan umat Muslim sedunia, bahwa negara-negara muslim di luar Saudi pun ikut andil dalam melestarikan dan membangun Haramain itu. Jadi secara politik dapat mengikat persatuan umat. Kalau secara ekonomi mereka tidak perlu benar, tidak butuh,” kata Dien Madjid.  

Menurut guru besar sejarah Fakultas Adab dan Humaniora, Universitas Islan Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta ini, di zaman kolonial kontribusi itu sudah ada. Banyak muslim Jawi, sebutan untuk masyarakat muslim lokal Nusantara, miliki penginapan-penginapan. Antara lain ada orang-orang Makassar, mereka punya penginapan orang Makassar, sekelompok orang dari Aceh, mereka punya bangunan penginapan orang aceh dan lain sebagainya. Gedung-gedung atau bangunan pemondokan itu, menurutnya, ada yang didapat dengan mereka sewa dan ada yang merupakan hak milik.  

“Dulu sepengetahuan saya, di antara mereka itu ada yang punya hak milik, dan sebagian ada yang sewa. Mengikuti kekuatan finansial masing-masing. Bahkan sekarang pun masih ada yang seperti itu. Mulai melakukan hal seperti itu, seperti bikin hotel,” terangnya.

Dari situ, orang-orang Nusantara diduga ikut terlibat di dalam menata pembangunan kota Mekah, melengkapi pembangunan yang ada serta berkontribusi pada perekonomian saat itu. Menurut Dien Madjid, kontribusi Orang Nusantara ini mulai ada sejak dikeluarkannya Ordonantie 1859 Masehi, dan kini jumlah jemaah haji dan umrah dari Indonesia kembali menjadi incaran karena potensi 'income' yang disumbangkan sangat tinggi. (boz)

 


Back to Top