Verona Collection

Pelopor Hijab Modern di Amerika

 

Jakarta, (gomuslim). Lisa Volg Hamid, perempuan cantik yang kini sudah menjadi mualaf dengan kesabaran dan keberaniannya kini dapat berdakwah dengan meyakinkan, yakni memudahkan para wanita untuk senantiasa mengenakan hijab sambil tetap terus fashionable melalui butiknya, Verona Collection.

Wanita berusia 33 tahun ini dahulu adalah seorang fotografer dan perancang busana yang pernah mengenyam pendidikan di Chatham College, Pittsburgh, Negara Bagian Pennsylvania, Amerika Serikat. Setahun pertama berkuliah, ia lantas memilih cuti selama satu tahun. Ia sempat magang di beberapa tempat, antara lain, Disney World, sembari bekerja di tempat lain.

Dari uang yang ia kumpulkan, sosok yang besar di East Lansing, Michigan, AS, ini melancong ke berbagai wilayah dunia untuk mengenal aneka budaya. Tak disangka, perjalanan yang dilakukan sulung dari enam bersaudara ini tak hanya meninggalkan kesan tentang budaya bangsa lain, tapi juga cahaya Islam di hatinya.

Perempuan yang memiliki motto hidup "Perdamaian dimulai dengan tersenyum" ini memulai ketertarikannya dengan Islam ketika ia memilih untuk menulis tentang perempuan di media dan eksploitasi mereka di masyarakat Barat, guna memenuhi syarat kelulusan studi B.A-nya. Dari sanalah ia kemudian memiliki perspektif tersendiri tentang wanita dan bagaimana mereka harus dipandang oleh masyarakat.

Setelah itu, kemudian ia berpikir bahwa budaya Islam melalui nila-nilai yang  terkandung dalam hak-hak perempuan dan jilbabnya sangatlah sempurna. Islam mengerti bagaimana cara menghormati dan menghargai kaum wanita. Dengan semangat itulah yang mendorongnya untuk turut andil dalam membantu saudari-saudarinya sesama muslimah yang kesulitan untuk mencari pakaian yang sesuai dengan identitasnya sebagai muslimah. Terlebih hidup di negara mayoritas non-muslim.

Sejak tahun 2013 lalu, ia memutuskan untuk mendirikan butik Verona Collection di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Florida, Amerika Serikat. Dengan hadirnya butik muslimah pertama di pusat perbelanjaan, ia berharap dapat mengubah stereotip bahwa hijaber itu tertekan, terpaksa untuk mengenakannya, dan tak berpendidikan. Kehadiran butik muslimah juga diharapkan dapat mengurangi Islamophobia yang berkembang dengan pesat di Amerika. Namun, kebencian mereka terhadap Islam, justru membuat mereka mencari tahu tentang Islam. Dan tidak sedikit dari mereka yang pada akhirnya masuk Islam. Baik warga kulit hitam maupun kulit putih.

Volg yang kini tinggal di Las Cruce, Negara bagian New Mexico, AS, masih tidak percaya bahwa industri fashion muslimah adalah salah satu industri fashion terbesar di dunia. Sama seperti perempuan pada umumnya, perempuan berhijab juga ingin tampil cantik dan mengikuti tren fashion sehingga kebutuhan mereka akan butik-butik khusus muslimah sangatlah tinggi.

Terbukti, berdasarkan data yang dihimpun dari Kementerian Perdagangan, pasar pakaian muslim pada tingkat global diprediksi bakal mencapai angka USD327 miliar pada tahun 2020. Tak heran jika banyak pihak tertarik berkecimpung di bisnis busana muslim.

Tak hanya pengusaha seperti Vogl, namun juga jenama besar yang sudah terlebih dahulu merilis koleksi hijab dan busana muslim lain. Sebut saja DKNY, Oscar de la Renta, Tommy Hilfiger, D&G, Zara, Mango, Uniqlo, dan H&M.

Saat ini, butik muslimah milik Vlog telah mengekspansi pasar-pasar di luar Amerika, seperti Perancis, Inggris, dan Australia, yang menjadi pertanda animo tinggi masyarakat terhadap busana muslim. Pelanggannya pun tidak datang dari kalangan muslimah saja, melainkan juga datang dari orang-orang non-muslim yang senang tampil keren, sederhana dengan bujet terjangkau.


Back to Top