Industri Makanan Halal di China: Antara Kontribusi untuk Negeri dan Dakwah Islam

Jakarta, (gomuslim). Ramadhan telah tiba. Jutaan umat Muslim di dunia menyambutnya dengan penuh keceriaan dan suka cita. Akan tetapi, tidak semua umat Muslim menyambutnya dengan sukacita. Ada juga yang menyambutnya dengan kekhawatiran mereka terhadap rezim tempat mereka berada. Khususnya di negara-negara minoritas Muslim. Salah satunya China, yang dalam waktu bersamaan sedang mengeliat industri makanan halalnya.

Otoritas China di Xinjiang menandai awal Ramadhan dengan larangan adat terhadap pegawai negeri sipil, mahasiswa, dan anak-anak setempat untuk mengambil bagian dalam puasa. Pemerintah China di Xinjiang mengumumkan hal itu melalui situs berita mereka pada Senin, (6/6/2016), hari dimulainya bulan suci Ramadhan. Partai komunis yang berkuasa di China secara resmi adalah Ateis. Selama bertahun-tahun mereka telah melarang pegawai pemerintah dan anak-anak Xinjiang untuk berpuasa.

Xinjiang adalah rumah bagi lebih dari 10 juta minoritas Uighur yang umumnya Muslim. Pemerintah China juga memerintahkan restoran untuk tetap terbuka untuk umum. Wilayah Xinjiang juga kerap menjadi medan konflik antara etnis Uighur dan pasukan keamanan negara itu.

Meskipun demikian, umat Islam diharapkan tetap menjalankan ibadah dengan khusyuk tanpa harus merasa terganggu dengan rezim yang mempersulit umat Islam dalam beribadah. Termasuk sulitnya mencari makanan halal di sana. Hanya beberapa kota saja yang banyak terdapat warga Muslim. Salah satunya Ningxia.

Ningxia adalah provinsi di China yang mendapatkan otonomi sejak 1958 karena etnis Hui identik dengan Muslim yang merupakan mayoritas dari 35 etnis China lainnya yang hidup di Ningxia. "Dari 6,3 juta warga yang tinggal di Ningxia, 2,25 juta atau 38 persen merupakan etnis Hui yang muslim, sisanya merupakan etnis Han, dan etnis China lainnya," kata Wang Shengjun selaku Ketua Komisi Makanan Halal Ningxia.

Ningxia punya dua kawasan industri halal di Wuchong, salah satu kota di provinsi itu. Nilai produk halal di Ningxia mencapai 50 juta yuan atau senilai Rp70 miliar. Disana juga terdapat industri halal yang sudah dilengkapi laboratorium paling canggih di China ditambah bantuan 15 pakar dan 300 staf. Semuanya sangat mendukung keseriusan China dalam mengembangkan industri halal guna memenuhi pasar makanan halal, baik untuk keperluan dalam negeri maupun luar negeri, seperti Malaysia, Arab Saudi, Qatar, Mesir, hingga Indonesia.

Perkembangan industri makanan halal yang tengah memasuki sentimen positif sebetulnya tidak terlepas dari kontribusi Asosiasi Muslim China dengan menjadi penasehat bagi para pelaku bisnis negara tersebut yang hendak melebarkan usaha mereka ke negara-negara Muslim.

Besarnya negara-negara mayoritas Muslim yang terlibat dalam jalur perdagangan tersebut akan menyediakan sarana bagi Muslim China untuk menjalankan peran penting sebagai ahli inisiatif. Mereka akan menggunakan konferensi internasional dan situs-situs dunia maya, untuk memperkenalkan langkah jalur perdagangan tersebut pada negara-negara yang dituju. Mereka pun akan melawan stigma negatif Pemerintah dengan berusaha menghindari perlawanan dengan cara yang negatif pula. Sebaliknya, melalui inisiatif yang baik semacam itu, Asosiasi Muslim China berharap dapat berkontribusi terhadap negara mereka sekaligus mempromosikan Islam dengan jalan damai.


Back to Top