Keuangan Syariah Masih Lesu

OJK Gencarkan Forum Riset Keuangan Syariah (FREKS)

Jakarta, (gomuslim). Forum Riset dan Keuangan Syariah (FREKS) XIV akan kembali diadakan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Kali ini tuan rumahnya adalah Kampus IAIN Imam Bonjol, Padang pada 9-10 Juni mendatang.

FREKS XIV akan fokus membahas industri keuangan non-bank syariah dengan tujuan lebih mempopulerkan produk dan layanan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) syariah pada masyarakat umum. Kegiatan tersebut merupakan agenda rutin yang diselenggarakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) setiap enam hukan sekali. Kegiatan ini juga merupakan wadah bagi para akademisi, praktisi, regulator, dan masyarakat untuk memberikan ide, gagasan, serta kritik yang membangun dalam pengembangan industri keuangan syariah khususnya pasar modal syariah.

“Selain kegiatan yang bersifat akademis, ini dalam rangka mengevaluasi sejauh mana perguruan tinggi membuka prodi syariah dan sesuai kebutuhan industri. Seperti diketahui saat ini 180 Perguruan Tinggi menawarkan 220 prodi syariah namun ternyata di lapangan, industri justru mengambil tenaga bukan dari keuangan syariah,” kata Deputi Komisioner Pengawas IKNB 1 Edy Setiadi di Menara Merdeka, Jakarta, Senin, 6 Juni 2016.

Selanjutnya, ia juga mengatakan bahwa sekarang ini pelaksanaan kegiatan sektor pendidikan dibarengkan dengan kegiatan di sektor industri. Forum rektor diikutsertakan juga dengan industri, apa yang diinginkan industri.

Selain soal sumber daya insani, rangkaian kegiatan FREKS juga akan membahas mengenai potensi sukuk bagi pengembangan ekonomi syariah.

“Selain itu kita belum mempunyai standar kompetensi keuangan nasional indonesia yang syariah, terkait perasuransian, dan manajemen risiko. Ini tantangan, sehingga depan kita bisa kembangkan ekonomi syariah,” tambah Edy.

Para profesional yang bekerja di industri keuangan syariah juga belum dilegalkan dengan standar kompetensi sehingga seringkali para profesional yang bekerja di industri keuangan syariah masih dianggap sebelah mata.

"Belum memiliki Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) keuangan syariah yang ada terkait dengan perasuransian, manajemen risiko, tentang syariah ini belum ada," ujar Edy.

Hingga Maret, aset perbankan dan IKNB syariah telah mencapai Rp359 triliun, yang terbesar dari perbankan syariah Rp290 triliun. Sementara IKNB Syariah tercatat Rp69 triliun dengan jumlah pelaku secara keseluruhan 29 lembaga keuangan syariah full pledge dan 91 Unit Usaha Syariah.

Sebelumnya, Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal I OJK, Sarjito mengakui bahwa belum ada insentif yang sangat nyata terhadap industri keuangan syariah.

"Makanya OJK berusaha sekali agar ada insentif yang nyata itu karena kami juga berkoordinasi dengan perbankan syariah, pasar modal syariah, dan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) syariah dan semuanya tentu saja akan kami kembangkan bersama-sama," tegas Edy.


Back to Top