Pulau Jeju dan Masa Depan Wisatawan Muslim di Korea Selatan

Jakarta, (gomuslim). Pada umumnya, pariwisata di sebuah negara tidak akan mengkhianati peran negara tersebut di dunia. Baik dari segi ekonomi, sosial, dan budaya. Atau dalam perspektif yang lebih sempit lagi, tingkat kunjungan wisatawan terhadap sebuah negara ditentukan oleh seberapa maju negara tersebut. Indonesia dengan segudang daerah-daerah atau spot-spot bagaikan hidden paradise (surga yang tersembunyi), bagaimanapun juga tetap saja tingkat wisatawan yang berkunjung ke Indonesia tidak sebesar negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara, seperti Jepang, Taiwan, Tiongkok, Macau, ataupun Korea.

Korea misalnya, seiring dengan membludaknya boyband-boyband asal Korea di berbagai negara, dan didukung oleh penataan kota yang baik dan perekonomian serta insdustri yang maju, seiring berjalannya waktu, industri pariwisata Korea pun perlahan mulai meningkat. Khususnya wisatawan Muslim yang mayoritas (sekitar 70 persen) berasal dari Muslim di Asia Tenggara yang berkunjung ke negara tersebut.

Merespon hal itu, indsutri-industri halal pun kemudian mulai bermunculan dengan perkembangan yang cukup pesat. Mulai dari sekolah, restoran, perusahaan jasa tour and travel khusus haji dan umroh, fashion, perhotelan, produk-produk halal, bahan pangan halal, lembaga sertifikasi halal, bahkan lokasi yang halal atau lokasi wisata di Korea yang diproyeksikan paling ramah terhadap wisatawan Muslim.

Untuk menarik lebih banyak lagi wisatawan muslim dari seluruh dunia ke Korea Selatan, Badan Pariwisata Korea (KTO) menambah jumlah fasilitas umum dan restoran halal yang menunjang kebutuhan wisatawan muslim.

Marketing Director KTO untuk Malaysia dan Brunei, Song Sunyong pernah mengatakan bahwa hal ini (menambah jumlah fasilitas Muslim) adalah krusial mengingat pentingnya memenuhi kebutuhan wisatawan muslim selama kunjungannya ke Korea mengingat jumlah mereka terus bertambah.

Salah satu tempat yang akan dijadikan role model atau pintu gerbangnya Pemerintah Korea Selatan dalam membangun fasilitas-fasilitas pendukung wisatawan Muslim adalah Pulau Jeju. Meskipun demikian, bukan berarti selain Pulau Jeju wisatawan Muslim akan kesulitan dengan fasilitas pendukung seperti tempat solat dan restoran. Tentu itu tidak benar. Di Seoul dan Itaewon, misalnya, sudah ada enam masjid besar dan restoran halal yang mulai menjamur di sana. Walaupun survey menunjukan di antara negara-negara mayoritas non Muslim di Asia Tenggara yang paling ramah terhadap Muslim adalah Jepang, mulai dari fasilitas dan keramahan penduduk, Pemerintah Korea tentu tidak akan tinggal diam.

Pada tahun 2015 Misalnya, Pemerintah Korea menggelontorkan dana sebesar 20 Juta Won untuk memperbaiki sarana dan prasarana bagi para wisatawan muslim seperti tempat berwudhu yang nyaman dan mushala yang baik.  Selain itu Pemerintah Korea juga melakukan kerjasama dengan berbagai negara-negara Muslim, seperti dengan Malaysia Islamic Development Department, Uni Emirat Arab (UAE), Indonesia, dan India.


Back to Top