Olahan Daging Pilihan?

Wagyu Yang Tak Diperbolehkan Oleh Wahyu

Jakarta, (gomuslim). Ramadhan bulan penuh berkah. Ramadhan datang, semua orang Islam dan bertaqwa menjalankan ibadah puasa karena Tuhannya. Tak ada satupun dari mereka yang berpuasa kecuali mereka berharap ibadah puasa mereka dapat diterima oleh Yang Maha Kuasa. Tentu saja, ibadah puasa yang dijalani harus terjaga dari hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT, salah satunya dalam menjaga hidangan makanan untuk bersantap sahur ataupun berbuka.

Di zaman yang sudah modern seperti sekarang ini, dengan perkembangan tekonologi informasi yang sangat cepat di segala bidang, sebut saja bidang militer, otomotif, gadget, pangan, hingga kuliner, kreatifitas terkadang memberikan ruang-ruang untuk menciptakan sebuah inovasi yang justru menjadi titik balik dalam mencapai sebuah tujuan. Namun, di samping itu, terkadang inovasi juga menimbulkan kekeliruan di bidang yang lain. Tak terkecuali inovasi yang dilakukan terhadap sapi Wagyu asal Jepang.

Sapi asal Jepang yang biasa disebut Wagyu ini dalam segi ras mengacu pada beberapa ras sapi. Satu ras di antaranya memiliki kecenderungan genetik berupa pemarmeran (marbling) tinggi dan memproduksi lemak tak jenuh berminyak dalam jumlah besar. Sapi Wagyu terkenal karena pola marmer pada dagingnya dan kualitasnya. Daging jenis ini umumnya dijual mahal. Di beberapa daerah di Jepang, daging diberi nama sesuai wilayah produksinya, contohnya daging Kobe, Mishima, Matsusaka, Ōmi, dan Sanda.

Kecenderungan genetik ras Wagyu menghasilkan daging dengan kandungan asam lemak omega-3 dan omega-6 yang lebih tinggi daripada daging sapi pada umumnya. Pemarmeran terus-menerus juga memperbaiki rasio lemak tak jenuh tunggal dan lemak jenuh

Sekilas, tak ada yang salah bukan? Justru sapi Wagyu secara genetik merupakan sapi nomor wahid dari tekstur maupun ukuran. Akan tetapi, Karena daratan Jepang tidak rata dan terisolasi, berbagai teknik pembiakan dan pemberian pakan diterapkan seperti memijat atau menambahkan bir atau sake ke pakan mereka. Hal ini diduga dilakukan untuk membantu pencernaan dan menambah nafsu makan saat musim hujan, namun tampaknya tidak berpengaruh pada rasa daging. Pemijatan dilakukan untuk mencegah kram otot di sejumlah peternakan di Jepang yang hewan ternaknya tidak diberi cukup ruang untuk memanfaatkan otot-otot mereka. Disitulah letak kejanggalan sapi Wagyu ini. Celakanya, sapi ini sudah banyak sekali diimpor dari Australia dan dijadikan menu andalan dibeberapa restoran di Indonesia serta banyak dikonsumsi kaum Muslim di Indonesia. Kemudian, bagaimanakah status kehalalan sapi jenis Wagyu ini?

Di Indonesia, Wagyu sudah beberapa tahun ini menjadi menu favorit di beberapa restoran yang menyediakan daging olahan Wagyu. Restoran yang menyediakan menu itupun sudah menyebar di beberapa daerah di Jakarta, seperti di Senopati, Pancoran, Senayan, Mampang, dan daerah serta kota-kota lainnya di Indonesia. Harganya pun tak main-main, berkisar antara Rp. 310.00/gram hingga Rp. 2 Juta/gram. Dengan model pemberikan pakan yang seperti itu, wajar bila Wagyu harganya selangit dan rasanya pun memiliki kekhasan tersendiri sehingga banyak pecinta kuliner yang terpikat olehnya. Namun, dibalik semua itu, sadarlah wahai kaum muslimin, Wagyu menyimpan bahaya besar untuk keimanan anda.

Hewan yang memakan makanan atau mengkonsumsi apapun yang haram maka dapat dipastikan hewan itu juga akan menjadi haram. Dalam bahasa agama, hal ini disebut dengan Al-Jalalah. Hal ini merupakan pendapat mayoritas dari Syafi’iyyah dan Hanabilah yang kemudian mendaatkan penegasan dari Ibnu Daqiq Al-‘Ied dari para fuqaha’ serta dishahihkan oleh Abu Ishaq Al-Marwazi, Al-Qoffal, Al-Juwaini, Al-Baghawi dan Al-Ghozali. Pendapat ini diperkuat dengan adanya sabda Rosulullah Sholallahu Alaihi Wassalam :

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليهوسلم- عَنْ أَكْلِ الْجَلاَّلَةِ وَأَلْبَانِهَا

Artinya “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari memakan jallalah dan susunya.” [Hadits Riwayat. Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Adapun alasan mengapa Al-Jallah diharamkan adalah karena adanya pengaruh dari kotoran atau minuman DAN makanan yang haram, yang dimakan hewan-hewan tersebut pada perubahan bau dan rasa dari daging dan susu yang dihasilkan dari hewan-hewan tersebut. Wallahu ‘Alam


Back to Top