Kejar Ketertinggalan, Pemerintah Pacu Terbentuknya Kawasan Industri Halal

Jakarta, (gomuslim). Makin tidak dapat dihindari, banyak negara non-Muslim mengakui halal sebagai gaya hidup sehat. Seperti halnya ekonomi syariah, gaya hidup halal telah menjadi tren dan menumbuhkan pasar tersendiri dalam dunia bisnis dan perdagangan dunia. Ada potensi pasar di Indonesia, namun perkembangan industrinya kurang cepat dibanding negara tetangga.

Direktur Halal Corner Aisha Maharani menilai, Pemerintah Indonesia hingga saat ini memang sudah mulai menunjukkan dukungan terhadap pengembangan industri halal di Tanah Air, namun langkahnya kurang akurat dan cepat alias masih berjalan lamban. “Perlu dipacu lagi, halal food, branding dan packing perkembangannya terlalu pelan,” ujar Aisha.

 

Sebagai gambaran, di Asia Tenggara saja, Indonesia masih menempati posisi ketiga sebagai produsen produk halal, tertinggal dari Thailand dan Malaysia. Ironisnya, Thailand sebagai negara yang mayoritas penduduknya non-Muslim, justru lebih dahulu menguasai industri ini. Bahkan Thailand dan Tiongkok termasuk negara pengeskpor industry halal terbesar ke Timur Tengah.

Dari sisi regulasi, Aisha mengatakan telah ada Undang-undang Jaminan Produk Halal (UU JPH) yang mengatur tentang sertifikasi halal hingga ke pedagang-pedagang kecil. Sayangnya, regulasi ini baru dapat dilakukan tahun 2019.  Hal lain yang kurang memantapkan situasi adalah sertifikasi halal masih bersifat sukarela dan dikeluarkan oleh LPPOM MUI yang berkedudukan sebagai lembaga swadaya masyarakat (LSM). Hal-hal demikian patut dikaji lebih mendalam untuk menguatkan perkembangan gaya hidup halal yang lebih merata.

Kawasan Industri Halal

Sementara itu, terkait tingkat kebutuhan industri halal, Direktur Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Imam Haryono mengatakan, pihaknya telah menyiapkan regulasi Kawasan Industri Halal bersama Kamar Dagang dam Industri (Kadin) Indonesia dan Majelis Ulama Indonesia (MUI).

“Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan zona industri halal karena besarnya permintaan. Saat ini, permintaan produk halal terus meningkat, terutama untuk makanan dan minuman (mamin) serta kosmetik,” kata Imam, belum lama ini seperti dikutip laman kemenperin.go.id.

Sebagai langkah awal, terang Imam, Kemenperin akan melakukan uji coba dengan membuat zona industri halal yang sudah mapan sebagai percontohan. Setelah itu diaplikasikan di kawasan industri berikutnya. “Zonasi halal tersebut bisa dari industri makanan dan minuman olahan, karena ini cukup mendesak kemudian ke industri berikutnya. Negara-negara lain seperti Malaysia, Thailand dan China sudah lebih dahulu berjalan,” kata Imam.

Menurut Imam, produk halal bukan hanya identik bagi masyarakat muslim saja, namun sudah dikonotasikan dengan treatment yang lebih baik, mulai dari pemilihan bahan baku, proses produksi, packaging, dan logistiknya. (mm)


Back to Top