Yogyakarta

Setelah Lama Menunggu, 184 Orang Batal Jadi Calon Jemaah Haji Tahun Ini

Jakarta, (gomuslim). Tak akan lama lagi, calon haji (Calhaj) untuk pemberangkatan gelombang I, II, dan III akan segera terlaksana. Berdasarkan jadwal pemberangkatan yang telah ditetapkan, gelombang I, II, dan III akan dilakukan pada tanggal 17, 18, dan 19 Agustus 2016 mendatang. Para calon jemaah haji dihimbau untuk mengikuti manasik haji terlebih dahulu mengingat masih ada waktu kurang lebih 1.5 bulan lagi untuk mempersiapkan diri menghadapi ritual keagamaan terbesar di setiap tahunnya.

Tentu saja ini menjadi kabar baik baik Calhaj yang sudah tak sabar ingin mengunjungi Kakbah Baitullah sekaligus menyempurnakan rukun islam yang kelima. Akan tetapi, di antara kabar baik bagi Calhaj, rupanya terdapat kabar yang tak mengenakan bagi sebagian Calhaj lainnya. Beberapa hari yang lalu, sebanyak 184 calon jemaah haji yang berasal dari Yogyakarta dipastikan gagal berangkat ke tanah Suci karena berbagai hal. Padahal, di antara mereka ada yang sudah menunggu hingga 7-10 tahun yang lalu. Salah satu penyebab kegagalan mereka untuk berangkat tahun ini yakni biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH) yang tidak terlunasi dan masalah kesehatan. Untuk kasus demikian, mereka dapat mengulang tahun depan, dan kesempatan hanya dua kali, setelah itu harus mengikuti antrian panjang dari awal.

Tahun ini sebanyak 168.800 orang Calhaj akan diberangkatkan yang  rinciannya adalah 155.200 jemaah haji regular dan 13.600 jemaah haji khusus. Sisanya adalah petugas haji Indonesia yang berjumlah 3.250 orang. Jumlah ini masih sama denngan jumlah tahun lalu yang masih terkena ptotongan sebesar 20 persen dari kuota haji yang semestinya didapatkan Indonesia karena pembangunan perluasan area Masjidil Haram yang masih berjalan hingga saat ini. Dengan kuota terbatas dan peminat yang membludak, wajar bila di Indonesia antrian Calhaj bisa sampai 35 tahun untuk yang paling lama dan 5 tahun lebih beberapa bulan untuk yang tercepat.

Di Sulsel misalnya, di sana daftar tunggunya bisa mencapai 35 tahun. Jadi, kalau daftar tahun ini, maka berangkatnya baru 35 tahun lagi. Hal ini tentu sangat kontras dengan kota-kota lain di Indonesia yang hanya berkisar 5-10 tahun. Anehnya, jumlah populasi penduduk di sana (Sulsel) hanya mencapai 7.200.938 jiwa, kalah jauh dibanding Sumatera Utara yang mencapai 8.579.830 jiwa, atau lebih jauh lagi bila dibandingkan dengan provinsi Jawa Tengah yang mencapai 31.328.341 jiwa, Jawa Timur dengan kisaran 36.113.396 jiwa, dan Jawa Barat sebesar 41.763.592 jiwa. Lebih aneh lagi ketika dibeberapa provinsi dikabarkan masih ada sisa kuota haji dalam jumlah yang besar. Seperti di provinsi Jawa Barat yang masih tersisa kuota haji sebanyak 1.760 orang. Tentu ini menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan dalam memaksimalkan manejemen penyelenggaran ibadah haji mengingat penyelenggaran ibadah haji di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir selalu mendapatkan rapor merah dari para pengamat, terutama dalam penetapan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) yang sarat dengan manipulasi.

Terkait dengan BPIH tahun ini, beberapa hari yang lalu, Pemerintah bersama DPR telah menetapkan besaran BPIH tahun ini yakni sebesar Rp34.641.304 atau US$2.585 dengan kurs Rp13.400 per dolar. Besaran ini mengalami penurunan sebesar US$132 dari tahun sebelumnya. Biaya ini nantinya akan digunakan setidaknya untuk berbagai keperluan para jemaah yang terbagi menjadi beberapa komponen. Adapun komponen yang Pertama, yakni tiket pesawat, airport tax, serta biaya angkut bagasi dari Jeddah ke pemondokan dan sebaliknya, yang menghabiskan biasa sebesar Rp25.434.354/jemaah. Kemudian, Komponen kedua yaitu pemondokan di Mekkah dengan biaya rata-rata 4.366 Riyal Saudi, setara Rp15.598.879. Jemaah hanya membayar 1.135 Riyal Saudi, setara Rp14.051.950 dan sisanya sebesar 3.231 Riyal Saudi, setara Rp11.543.742 dibayar menggunakan dana optimalisasi.

Sedangkan Komponen ketiga dan keempat yaitu pemondokan di Madinah dengan biaya rata-rata 850 Riyal Saudi, setara Rp3.036.886 dan biaya hidup sebesar 1.500 Riyal Saudi, setara Rp5.355.000. Biaya untuk komponen ini akan dikembalikan kepada jemaah menjelang keberangkatan ke Tanah Suci.

 


Back to Top