Selama 24 Jam Penuh, Pergerakan Jemaah Umrah Selalu Dipantau Militer Saudi

Mekkah, (gomuslim). Jemaah umrah di bulan suci Ramadhan makin ramai, tenaga keamanan yang tersedia hanya 1 banding 30 orang. Jika tidak dilakukan upaya yang maksimal, tentunya kepadatan manusia di dalam Masjidil Haram dapat berpotensi pada kecelakaan. Untuk menyikapi hal ini maka penggunaan teknologi pun menjadi sarana untuk dapat mengurai penumpukkan jemaah di satu titik.

Otoritas keamanan Arab Saudi telah memasang sedikitnya 852 kamera CCTV di beberapa titik di Masjidil haram untuk dapat memantau pergerakkan jemaah yang tengah beribadah. Komandan Khusus Keamanan di Masjdil Haram Mayjen. Muhammad Wasel Al-Ahmadi menegaskan bahwa, dengan adanya CCTV maka hal ini sangat membantu pihak aparat keamanan untuk menangani kerumunan yang terkoneksi dengan 200 monitor di ruang pemantauan, “Kamera-kamera ini dikoneksikan dengan 200 monitor besar yang ada di ruang operasi pengawasan militer, untuk memantau situasi kepadatan jemaah baik di dalam maupun di luar masjid agar jemaah dapat merasakan kenyamanan dalam beribadah,” jelas Al-Ahmadi seperti yang dikutip dari Okaz/Saudi Gazzette.

Ahmadi pun menjelaskan bahwa mengawasi pergerakan jemaah lewat cara ini terbilang efektif, karena untuk mengatur ratusan ribu manusia hanya dengan cara memantau di satu ruangan khusus, “Ruangan operasional khusus yang digunakan sebagai tempat pemantauan sangat berguna untuk dijadikan sebagai petunjuk situasi keramaian di dalam Masjid,” kata Al-Ahmadi.

Dalam penetapan langkah strategi penanganan keramaian yang terjadi, Al-Ahmadi menjelaskan bahwa kebijakan yang akan diambil kerap berubah kapan pun tergantung situasi keramaian masjid, sehingga tidak berpegang pada satu sistem saja.

Adapun kondisi ruangan operasional pemantauan terlihat sangat kental dengan ritme kerja militer, semua peralatan dikendalikan oleh para anggota yang telah terkualifikasi, mereka akan memberikan instruksi kepada petugas lapangan untuk mengambil langkah antisipasi jika dinilai ada hal yang berpotensi dapat menimbulkan bahaya.

Sistem kerja yang diterapkan oleh militer seperti ini terus berjalan selama 24 jam penuh, para petugas yang bertugas memantau jemaah harus konsentrasi memantau situasi di dalam maupun di luar masjid, tentunya dilakukan dengan sistem bergantian. “Kita dapat melihat perkembangan di dalam dan di luar masjid kemudian kita diberi wewenang untuk memberikan instruksi langsung kepada petugas di lapangan demi memberikan pelayanan kepada mereka (para jemaah),” jelas Kepala Pengawas Ruangan Operasional Pemantauan Mayor Mansour Al Qahtani.

Seperti yang telah dipublikasikan oleh gomuslim sebelumya bahwa kepadatan jemaah di Masjidil Haram pada bulan suci Ramadhan benar-benar telah menarik perhatian pemerintah Arab Saudi khususnya petugas penjaga keamanan kota. Mengingat ada hampir 1 juta orang berkumpul dalam satu tempat maka hal ini dapat berpotensi menimbulkan bahaya jika tidak ada aturan yang mengikat.

Pada sisi lain, Komandan Keamanan Masjidil Haram Uqaid Muhdi Al Fahmi telah menyatakan bahwa anggotanya telah dibekali alat komunikasi yang dapat digunakan untuk menerima informasi dari satuan keamanan lain dan mereka adalah orang-orang pilihan yang telah dilatih untuk dapat sigap menangani kekacauan akibat penumpukan jumlah jemaah di satu titik.

Terjadinya insiden pada beberapa situasi di Mekkah ketika berlangsungnya musim haji dan umrah, sejatinya telah menjadi pelajaran berharga bagi Pemerintah Arab Saudi dalam mengambil langkah pengamanan jemaah pada musim berikutnya sehingga wajar saja jika pada musim umrah Ramadhan ini Pemerintah Arab Saudi memberikan tanggung jawab yang besar kepada militer terkait keamanan jemaah yang datang dari berbagai negara. (fh)


Back to Top