Untuk Memudahkan Pemantauan Jemaah Haji Tahun ini, Pemerintah Meluncurkan Gelang Berbasis GPS

Jakarta, (gomuslim). Penyelnggaran Haji tahun 1436 Hijriah lalu sudah berlalu, namun kesedihan dan kepedihan atas jatuhnya korban runtuhnya alat berat di Masjidil Haram masih sangat membekas di hati warga dunia, dalam hal ini Indonesia. Tahun lalu, sebanyak 109 anggota jemaah dilaporkan meninggal dan 184 orang lainnya menderita luka-luka. Sebanyak 11 dari 109 korban meninggal teridentifikasi berasal dari Indonesia dan puluhan lainnya tercatat mengalami luka-luka, mulai dari luka berat hingga luka ringan. Pencarian korban jemaah haji asal Indonesia dinilai lamban dan menimbulkan kekhwatiran yang berlarut-larut para keluarga jemaah haji yang berada di Indonesia. Belajar dari pengalaman lewat insiden itu, tahun ini Pemerintah akan meluncurkan gelang berbasis Global Positioning System (GPS). Gelang yang menggunakan chip ini berguna untuk mendeteksi atau mengetahui lokasi keberadaan jamaah, termasuk kesehatannya. Gelang ini nantinya akan diuji coba oleh jemaah haji yang tergolong rentan terlebih dahulu mengingat penyelenggaran ibadah haji tahun ini akan diramaikan oleh sekitar 34,88 persen jemaah atau 20.486 orang berusia lanjut di atas 60 tahun plus memiliki catatan penyakit.

Akan tetapi, selain diberikan pada kelompok rentan, data dari Pusat Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohatkes) menyebutkan uji coba gelang identitas yang dilengkapi chip atau RFID (Radio Frequency Identification) juga diterapkan untuk jemaah dari Provinsi Jawa Barat, yaitu Kota Depok, Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Cianjur serta Provinsi Gorontalo.

Gelang identitas yang dilengkapi chip itu selain memudahkan petugas memantau lokasi jemaah, nantinya juga dapat memberikan bantuan informasi kepadatan arus manusia kepada jemaah karena beberapa tahun yang lalu juga terdapat insiden terinjaknya jemaah hanya di mina yang menyebabkan puluhan korban jiwa asal Indonesia, sehingga jika insiden itu terulang diharapkan korban jiwa ataupun luka-luka asal Indonesia dapat diminimalisir.

Sebagimana yang telah diinformasikan oleh piah Panitia Penyelenggara Ibadah Haji 2016 (PPIH), kuota jemaah haji Indonesia tahun ini berjumlah 168.800, terdiri dari 155.200 jamaah haji reguler dan 13.600 jemaah haji khusus. Nantinya, jemaah haji reguler akan diberangkatkan dalam 384 kloter melalui 13 embarkasi, yakni: Embarkasi Aceh/BTJ (NAD), Embarkasi Medan/MES (Sumut), Embarkasi Batam/BTH (Riau, Kepri, Jambi, dan Kalbar), Embarkasi Padang/PDG (Sumbar dan Bengkulu), Embarkasi Palembang/PLM (Sumsel dan Babel), Embarkasi Jakarta Pondok Gede/JKG (DKI Jakarta, Banten, dan Lampung),  Embarkasi Jakarta-Bekasi/JKS (Jawa Barat), Embarkasi Solo/SOC (Jawa Tengah dan DIY),  Embarkasi Surabaya/SUB (Jawa Timur, Bali, dan NTT),  Embarkasi Banjarmasin/BDJ (Kalsel dan Kalteng), Embarkasi Balikpapan/BPN (Kaltim, Sulteng, dan Sulut), Embarkasi Makassar/UPG (Sulsel, Sultra, Sulbar, Gorontalo, Maluku, Malut, Papua, dan Papua Barat), dan Embarkasi Lombok/LOP (NTB).

Dari 168.800 jemaah haji yang akan diberankatkan dalam 384 kloter tersebut, nantinya proses pemberangkatan jemaah haji akan memakan waktu selama 28 hari dan terbagi dalam dua gelombang. Gelombang pertama jemaah akan langsung mendarat di Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA) Madinah. Sedang gelombang kedua akan mendarat di Bandara Internasional King Abdul Aziz (KAAIA) Jeddah. Adapun proses pemulangannya jemaah haji gelombang pertama akan dimulai dari Jeddah pada 17 September 2016 dan untuk pemulangan jemaah haji gelombang kedua dari Madinah mulai  30 September 2016. 


Back to Top