Pemerasan Terhadap Jemaah

Biaya Sewa Kursi Roda di Masjidil Haram Capai 500 Riyal Arab Saudi

Makkah, (gomuslim). Ramainya pengunjung Masjidil Haram menjelang pertengahan bulan Ramadhan telah dimanfaatkan sebagai ladang bisnis bagi oknum nakal yang berspekulasi. Tidak tanggung-tanggung, oknum tersebut dengan teganya memeras jemaah yang tengah kesulitan untuk melakukan tawaf dan sa’i. Seperti yang telah diketahui bahwa Masjidil Haram telah menyediakan fasilitas berupa gerobak listrik maupun kursi roda untuk membantu jemaah yang hendak melakukan ibadah tawaf dan sa’i yang diberikan secara cuma-cuma.

Namun tingginya permintaan akan kursi roda justru disalahgunakan oleh pihak spekulan, pasalnya gerobak gratis yang telah disediakan oleh pengurus masjid jumlahnya sangat terbatas dan tidak berbanding lurus dengan angka permintaan. Dari sinilah akhirnya jemaah yang tidak kebagian jatah menggunakan gerobak atau kursi roda gratis akhirnya menjadi  peluang pihak tertentu untuk menaikkan harga penyewaan kursi roda berbayar.

Tarif resmi penyewaan kursi roda yang ditetapkan oleh Dewan Pengurus Masjid Haramain berkisar SAR 50 sampai 75, namun manakala ada jemaah yang sulit mendapatkan kursi roda akhirnya beralih ke layanan berbayar dan betapa kagetnya jemaah umrah yang dibebankan tarif sebesar SAR 500 untuk penyewaan kursi roda tersebut seperti yang telah dialami oleh beberapa jemaah umrah diantaranya Muhsin Ushairi seorang warga Saudi.

Muhsin mengatakan bahwa peningkatan tarif sewa yang dibebankan oleh penyewa kursi roda merupakan tindakan pemerasan terselubung yang terjadi pada musim umrah di bulan Ramadhan ini, “Saat saya masuk ke Masjidil Haram pada hari Rabu petang kemarin (minggu ini) aku mencari gerobak gratis untuk ibuku namun semuanya telah terpakai karena jumlahnya sangat sedikit tidak sebanding dengan jumlah penggunanya, maka saya putuskan untuk menyewa kursi roda. Namun betapa terkejutnya saya ketika penyewa kursi roda meminta tarif sebesar SAR 500 untuk pemakaian sa’i dan tawaf maka saya terpaksa harus membayarnya. Namun yang sangat menyedihkan adalah mereka yang tak mampu membayar dengan harga tersebut sedangkan mereka dari kaum rentan yang tidak mampu untuk tawaf dan sa’i dengan kedua kakinya,” ungkap Muhsin.

Selanjutnya seorang jemaah bernama Ahmad Rabaghi juga memaparkan adanya tindakan pemerasan yang dilakukan oleh oknum penyewa kursi roda di Masjidil Haram, “Saya mencari kursi roda namun tiba-tiba saya diminta untuk membayar SAR 200 kemudian saya berkata bahwa tarif biasanya hanya SAR 50, kemudian penyewa kursi roda mengatakan, ‘harganya memang sebesar itu (SAR 200)’,” tandas Ahmad.

Resah dengan hal ini, akhirnya Ahmad menemui petugas keamanan Masjidil Haram dan melaporkan ulah oknum tersebut. Namun petugas keamanan tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya menyarankan Ahmad untuk melaporkannya kepada Dewan Pengurus Masjid Haramain karena petugas tersebut, penetapan tarif ada di bawah wewenang pengurus masjid. Kemudian Ahmad mencari pengurus Masjidil Haram namun tidak satupun dari mereka dapat dijumpai, akhirnya ia menyampaikan pesan pada seorang tentara yang berjaga di sana.

Meskipun Ahmad tidak berjumpa dengan pengurus Masjidil Haram, namun kabar ini akhirnya didengar pula oleh Ketua Umum Dewan Pengurus Masjid Haramain Syeikh Abdurrahman As-Sudais. Kemudian ia pun memberikan instruksi untuk menindak tegas oknum yang telah melanggar aturan tersebut. Namun beberapa jemaah telah banyak yang dirugikan oleh oknum-oknum tersebut, bahkan berdasarkan penuturan jemaah bernama Husain Ash-Shibyani, akhir-akhir ini telah terjadi kekacauan dalam praktik penyewaan kursi roda di Masjidil Haram.

Ash-Shibyani pernah menyaksikan bahwa ada wanita Afrika yang menggunakan kursi roda di area sa’i dan ketika wanita itu melihat orang yang membutuhkan kursi roda lantas ia pun berdiri dan anaknya menawarkan jasa penyewaan kursi roda. Hal ini menggambarkan seolah ada pihak terkait yang hendak memonopoli penyewaan alat bagi orang yang membutuhkan.

Berdasarkan informasi yang disampaikan oleh Shahifah Madinah, hal semacam ini dapat terjadi karena adanya beberapa unsur sebagai berikut:

  • Minimnya jumlah pengawas;
  • Terbatasnya ruang pengaduan bagi jemaah umrah;
  • Banyaknya beredar kursi roda yang tidak resmi sehingga mereka menetapkan tarif sesukanya;
  • Tidak adanya sanksi bagi para oknum yang melanggar penetapan tarif resmi;
  • Karena dianggap seperti hal yang biasa saja, maka tarif SAR 500 nantinya bisa dianggap wajar.

Akibat ulah oknum yang tidak bertanggung jawab ini maka banyak jemaah yang resah dan menyayangkan hal ini terjadi di Masjid Suci, sehingga mereka pun menganggap bahwa oknum nakal ini telah menodai kesucian ibadah umrah di bulan Ramadhan pada musim ini. Seharusnya hal semacam ini dapat segera diatasi dengan cara yang bijaksana sehingga tamu Allah tidak dikecewakan ketika hendak melakukan kegiatan ibadahnya. (fh)


Back to Top