Isu Brexit Tegaskan Kekuatan Ekonomi Syariah di Inggris Terhadap Dunia Internasional

Jakarta, (gomuslim). Sejak tahun 2004 lalu, Inggris telah mengambil kebijakan yang tak biasa. Sebagai negara yang terkenal sekuler tersebut, Inggris memutuskan untuk menerapkan konsep ekonomi syariah secara total di negaranya yang notabene sistem tersebut sangat erat kaitannya dengan konsep Islam, baik secara langsung maupun tidak langsung. Bukan hanya menerapkan, rupanya Inggris juga berusaha untuk melakukan inovasi-inovasi agar terciptanya perekonomian yang kuat melalui sistem syariah. Terbukti, kini Inggris menjadi negara terdepan dalam penerapan konsep ekonomi berbasis syariah.

Konsep syariah sendiri secara umum adalah konsep yang ketika melakukan transaksi jual beli yang harga pokoknya diinformasikan dan marginnya dapat dinegosiasikan atau yang biasa disebut murabahah. Selain itu, dalam ekonomi syariah juga menerapkan kjonsep-konsep seperti mudharabah, musyarokah, salam, istisna, dan ijaroh serta meninggalkan riba, penipuan, dan perjudian atau spekulasi atau dalam bahasa yang lebih populer yakni bermain valas dan emas. Dari sinilah kemudian praktik-praktik bermuamalah dengan syar’i atau sistem syariah dalam perekonomian dikenal luas hingga berkembang pesat.

Konsep ekonomi syariah inilah yang kemudian mengantarkan Inggris menjadi negara yang berwibawa, baik berwibawa dengan masa lalunya maupun berwibawa dengan masa depannya yang dinilai cerah. Maka tak heran, bila apapun isu-isu yang berkenaan dengan Inggris selalu berdampak positif dan negatif terhadap sosial, politik, dan ekonomi dunia. Tergantung isu apa yang digembar-gemborkan.

Sebagaimana yang ramai diberitakan oleh berbagai media, baik lokal maupun internasional, isu Brexit atau British Exite (isu keluarnya Inggris dari Uni Eropa) menyebabkan beberapa saham di berbagai negara ditutup menurun. Di Amerika, pada perdagangan minggu lalu, bursa saham S&P 500 beberapa kali ditutup menurun setelah sempat naik sehari sebelumnya. Demikian juga dengan indeks Dow Jones dan Nasdaq yang juga terpuruk akibat isu Brexit. Bursa saham di Eropa pun tak kalah kocar-kacirnya menghadapi isu Brexit, Indeks Stoxx Europe 600 dan indeks U.K. FTSE 100  misalnya, dalam beberapa hari ini sempat terpuruk karena dampak dari isu Brexit meskipun saat ini mulai menunjukan sentiment positif mengingat isu Brexit dalam beberpa hari terakhir mereda akibat pembunuhan salah seorang pejabat yang kontra terhadap Brexit. Hal yang sama juga terjadi di bursa saham Asia, Indeks MSCI Asia Pacific, Indeks Hang Seng Hong Kong , Jepang Topix, yang sempat terpuruk dan kini perlahan mulai membaik.

Penggiringan opini oleh orang-orang yang berkepentingan pun dilakukan untuk mensiasati “peperangan” yang tengah terjadi. Bagi kubu yang pro Eropa, tentu saja mereka mengeluarkan ungkapan-ungkapan miring terhadap Inggris bila mereka exit dari keanggotaan Uni Eropa. Adapun bagi pihak yang pro Inggris, mereka selalu mengedukasi warga mengenai keuntungan apa saja yang akan didapatkan Inggris ketika sudah keluar dari keanggotaan Uni Eropa.

Terlepas dari semua pendapat itu, baik pendapat kubu yang pro maupun kubu yang kontra terhadap isu Brexit ini, Inggris bukanlah negara sembarang di mata dunia. Negara dengan luas sekitar 130,395 km2 dengan populasi penduduk 53.013.000 jiwa, rupanya dalam beberapa tahun belakangan tengah menuju poros ekonomi terbaik di dunia. Terbukti, selain isu Brexit yang mempengaruhi pasar saham dunia dan beberapa komoditas lainnya, Inggris juga tergolong negara dengan perekonomian yang stabil dan terus menunjukan perkembangan yang baik hingga menyebabkan angka pengangguran di Inggris menurun dan mencapai level terendah sejak 2005 yang mengindikasikan kondisi dalam negeri yang sejahtera dan makmur.

Menurunnya pengangguran di Inggris bukanlah tanpa sebab, pasti ada yang memicu hingga menyebabkan adanya reaksi. Pemicu tersebut tak lain dan tak bukan adalah soal kebijakan perekonomian di Inggris (alp)


Back to Top