Makin Kabur, Garis Batas 'Tanah Haram' Mekkah Ditancapi 1.286 Tanda Baru

Jakarta, (gomuslim). Panitia Penetapan Garis Batas Tanah Haram Mekkah telah selesai meletakkan ‘tanda batas’ di 1,286 titik seluruh Mekkah, Ahad sore (19/06/2016)  waktu Saudi atau malam Senin waktu Indonesia.

Fuad Al-Dahas, professor di Islamic Civilization and History, Universitas Umm Al-Qura, Mekkah,  yang terlibat kepanitiaan menjelaskan, bahwa tim kerja telah meletakkan tanda batas di semua sudut-sudut baru kota Mekkah untuk memastikan area tersebut merupakan ‘tanah haram’ sebagaimana saat awal mula ditetapkan Nabi Ibrahim, kemudian ditegaskan kembali oleh Nabi Muhammad SAW. Demikian seperti dikutip Saudi Gazette, Senin dini hari ini.

“Sebanyak 650 penanda di sebelah Utara, batas  dari Al-Sharaie ke Al-Taneem, sementara bagian Selatan dan Timur  batas ditandai 299 tugu. Ada 38 penanda lagi di batas sebelah Barat yang dipatok di titik-titik baru agar makin jelas batas tanah haram karena belakangan menjadi kabur setelah banyak bangunan dan pemukiman baru,” said Al-Dahas.

Dijelaskan lebih lanjut, dalam setiap tanda batas disertai dengan papan bertuliskan ‘haram’ dan anak panah yang menunjuk ke Masjidi Haram. Batas itu menunjukkan area terluar tanah haram dan anak panah penunjuk semua diarahkan ke Masjidil Haram.

“Batas ini paling akurat. Kebijakan ini diambil dalam panel diskusi para ulama dan pakar dengan menimbang  topograpi area yang dikitari gunung dan lembah Mekkah,” tambah Al-Dahas. Penarikan garis batas ini merupakan hal baru, karena sebelumnya hanya ditandai di pintu-pintu gerbang masuk kota Mekkah, namun saat ini seluruh sudut ditandai agar jelas antara tanah haram dan yang bukan. Hal ini terkait ketentuan haji dan umrah, baik untuk ambil miqat makani (ambil start tempat berihram) maupun untuk ketentuan lainnya.

Dalam penjelasan kitab-kitab klasik, “Tanah Haram” merupakan bagian wiliyah kota Mekkah yang memiliki keistimewaan. Di antaranya, bagi orang yang ihram, baik untuk haji maupun umrah, semua syarat ihram wajib dipenuhi sebelum masuk melintasi batas Tanah Haram.

Demikian pula, pepohonan dan binatang yang berada di Tanah Haram tidak boleh diganggu-gugat. Ini merupakan bagian dari keberkahan yang Allah pada Kakbah dan daerah di sekitar Kakbah. Siapa saja yang memasukinya, diberi jaminan keamanan, sampai-sampai binatang dan tumbuhan yang berada di dalamnnya. Allah berfirman,  “Siapa saja yang memasukinya (Tanah Al-Haram) maka dia aman.” (QS. Ali Imran:97)

Orang yang pertama kali meletakkan batas Tanah Haram adalah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Beliau memasang tapal batas dengan dipandu Malaikat Jibril. Tapal batas ini tidak pernah diubah atau diganggu sampai zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ketika Fathu Mekkah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Tamim bin Asad Al-Khuza`i untuk memperbarui tapal batas tersebut. Sampai akhirnya, di zaman kekhalifahan Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu, beliau memerintahkan empat orang Quraisy untuk memperbarui tapal batas tersebut. Saat ini, tapal batas itu, dipasang dalam bentuk gapura besar di jalan-jalan utama menuju kota Mekah. (Al-Azraqi, Akhbar Makkah, 2:406), yang pada Ramadhan 2016 ini baru saja dilengkapi dengan peletakan 1,286 penanda baru untuk memudahkan Jemaah haji dan umrah yang makin banyak. Adpun tanda tapal batas berupa gapura lama yang saat ini juga masih ada itu adalah:

1. Arah barat: Jalan Jeddah–Mekkah, di Asy-Syumaisi (Hudaibiyah), yang berjarak 22 km dari Ka`bah.
2. Arah selatan: Di Idha`ah Liben (Idha`ah: tanah; Liben: nama bukit), jalan Yaman–Mekah dari arah Tihamah; berjarak 12 km dari Kakbah.
3. Arah timur: Di tepi Lembah `Uranah Barat, berjarak 15 km dari Kakbah.
4. Arah timur laut: Jalan menuju Ji`ranah, dekat dengan daerah Syara`i Al-Mujahidin, berjarak 16 km dari Ka`bah.
5. Arah utara: Batasnya adalah Tan`im; berjarak 7 km dari Kakbah. (Shafiyurahman Al-Mubarakfuri, Sejarah Mekkah, hlm. 167)

Penambahan 1,286 tahun ini menyempurnakan tanda tapal batas agar lebih banyak lagi karena banyak daerah baru yang dulu belum berpenghuni saat ini sudah padat penduduk dan banyak bangunan, agar tapal batas tetap diperhatikan Jemaah dan penduduk setempat. (mm)

 


Back to Top