BI Harap Bank Syariah Lakukan Hedging Terhadap Valas

Jakarta, (gomuslim). Baru-baru ini, Bank Indonesia menghimbau serta mendorong lembaga keuangan dan bank syariah untuk menyediakan layanan hedging atau lindung nilai terhadap valuta asing (valas). Melalui beleid PBI No. 18/2/PBI/2016 tentang Transaksi Lindung Nilai Berdasarkan Prinsip Syariah pada 24 Februari 2016, Bank Indonesia menginkan transaksi yang aman bagi rupiah, mengingat rupiah dalam beberapa bulan terakhir mengalami fruktuasi yang hebat terhadap mata uang asing, dalam setiap transaksi yang menggunakan valas dengan memanfaatkan fasilitas hedging tersebut untuk meminimalisasi resiko gejolak kurs. Ketergantungan terhadap valas dalam setiap transaksi ekonomi ditingkat mikro maupun makro disinyalir membuat Indonesia selalu berada dalam pusaran ekonomi global yang sangat rentan dengan krisis.

Asisten Direktur Divisi Pengembangan dan Pengaturan Pasar Keuangan Syariah, Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia  Rifki Ismail Ph.D dalam kuliah umum yang dilakukan di salah satu universitas swasta beberapa waktu yang lalu pernah menyinggung soal besaran tingkat ketergantungan Indonesia terhadap mata uang asing dalam setiap transaksinya.

“Indonesia ini aneh sebenarnya. Apa-apa pake dollar AS. Mau ini pake dollar. Mau itu pake dollar. Hasilnya, ketika krisis ekonomi dan di saat yang bersamaan ekonomi mereka menguat, nilai tukar rupiah terus-menerus anjlok. Padahal, bila kita menggunakan rupiah dalam setiap transaksi makro maupun mikro, seperti misalnya haji kita ga perlu memakai mata uang dollar.” Ujarnya dengan nada yang sedikit menggelitik.

Lebih lanjut, ia mengatakan jika kita bisa memaksimalkan segala transaksi dengan rupiah, maka bila suatu saat nanti negara-negara asing mengalami krisis, maka kita tidak akan terkena imbasnya. “Biarin aja dia krisis ya krisis. Kita mah ya oke oke aja. Enggak ada urusan”, tandasnya dengan penuh keyakinan.

 

Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, pada tahun 2008, ekonomi dunia terus menerus mengalami penurunan percepatan pertumbuhan ekonomi karena berbagai hal, salah satunya sistem ekonomi kapitalisme-liberalisme yang pada faktanya telah mendarah daging bagi sebagian negara-negara di dunia. Dengan segala kekurangannya, konsep ekonomi yang menurut para ahli sangat tidak sehat ini, justru semakin banyak diterapkan di berbagai negara. Alhasil, ketika krisis ekonomi dunia terjadi, banyak negara yang juga terkena imbasnya. Begitupun juga dengan Indonesia. Indonesia, dengan ketergatungannya terhadap mata uang dollar AS dalam setiap transaksi dalam perdagangan dunia, membuat rupiah terus menerus jatuh dalam trtik terendah hingga mencapai angka Rp. 14.000/dollar AS beberapa waktu lalu.

Maka, sangat tidak masuk akal jika Pemerintah melalui Otoritas Jasa Keungan (OJK) sangat ingin melindungi nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing di satu sisi namun di sisi lain, Pemerintah selalu bergantung terhadap mata uang asing dalam transaksi-transaksi makro dan mikro, seperti ekspor impor, dan lain sebagainya. Bahkan, sampai hal-hal seperti ongkos naik haji pun selalu berpatukan kepada mata uang asing. Padahal, di Arab Saudi sendiri telah menerima dan mengenal rupiah dalam transaksi jual beli dan layanan jasa, serta sektor ekonomi lainnya.

 

Jadi, isu hedging untuk setiap lembaga keuangan dan bank syariah serta perangkat industri syariah lainnya sangat lemah kegunaannya bila tidak dibarengi dengan usaha untuk memaksimalkan rupiah dalam setiap transaksi makro maupun mikro. (alp)


Back to Top