1040 'Mursidah' Dikerahkan untuk Atur Muslimah di Masjidil Haram

Mekkah, (gomuslim). Berkumpulnya laki-laki dan perempuan di Masjidil Haram sulit untuk dihindari karena masjid ini merupakan tempat umum dan sudah menjadi milik umat Islam tanpa memandang jenis kelamin. Namun pada sisi lain Agama Islam memiliki aturan terkait posisi pria dan wanita dalam barisan shalat berjamaah. Sementara ini masih terlihat posisi yang belum teratur antara jemaah pria dan wanita di Masjdil Haram.

Baru-baru ini imam besar Masjidil Haram Syeikh Abdurrahman As-Sudais memberikan instruksi sebelum mengimami shalat. Isi instruksi tersebut mengarah pada jemaah wanita yang seyogyanya berada di barisan belakang jemaah pria karena berdasarkan sabda Nabi Muhammad SAW dijelaskan bahwa sebaik-baiknya shaf (barisan) dalam shalat bagi jemaah wanita adalah di belakang jemaah pria.

Atas dasar inilah maka 1040 mursidah (pembimbing wanita) yang telah terdidik dan terlatih dikerahkan untuk membimbing jemaah umrah Muslimah terkait adab ibadah diantaranya penempatan shaf dalam shalat. Seperti yang dilansir dari al-madina, Selasa malam, (21/06/2016) 1040 mursidah berlomba-lomba untuk membimbing jemaah wanita dalam hal pelaksanakaan ibadah di Masjidil Haram baik saat umrah maupun haji.

Seribuan mursidah  ini diketuai oleh Direktur Konseling Wanita Masjidil Haram Dr. Fatimah binti Zaid Ar-Rasyud. Menurutnya anggota yang disebar tersebut bergerak proaktif memberikan arahan tentang ibadah umrah khusus jemaah wanita. Kendati mayoritas para pembimbing tersebut merupakan Warga Negara Arab Saudi, tetapi mereka telah terlatih untuk berbicara bahasa Inggris, sehingga Muslimah dari Eropa yang tidak mengerti bahasa Arab dapat memahami arahan yang disampaikan oleh mereka. Sedangkan bangsa Arab yang di Saudi telah banyak yang mengerti bahasa Indonesia maka jemaah Muslimah Indonesia tidak perlu khawatir dengan persoalan bahasa.

Banyak hal yang perlu diperhatikan bagi setiap muslimah yang menjalani ibadah umrah maupun haji. Menurut Fatimah, setiap Muslimah wajib mengenakan hijab syar’i ketika menjalani ibadah di Masjidil Haram bukan hanya sekadar penutup kepala saja. Selain itu, bagi para Muslimah seharusnya lebih baik menghindari keramaian jemaah yang kerap terjadi di rukun Hajar Aswad, shalat di tempat khusus wanita dan tidak duduk di tempat yang dijadikan lalu-lalang jemaah.

Program bimbingan ini bekerjasama dengan Lembaga Perpustakaan Masjidil Haram, di mana perpustakaan membantu distribusi buku-buku pembelajaran tentang ibadah haji dan umrah.

Pembimbing wanita yang dikerahkan di Masjidil Haram ditempatkan berdasarkan tugas masing-masing. Bagi pembimbing Alquran maka ia akan membimbing jemaah tentang bagaimana membaca Alquran dan mendapati Alquran di dalam Masjidil Haram. Kemudian ada juga pembimbing yang ditempatkan di pintu masuk Masjid, tugas mereka adalah memberikan arahan tentang adab di dalam Masjid bagi kaum Muslimah.

Pembimbing wanita yang ada saat ini, tentunya dapat membantu jemaah wanita yang barangkali mereka sungkan untuk bertanya kepada petugas pria bahkan pada sisi lain jika ada Muslimah mendatangi petugas pria maka bagi kalangan bangsa Arab hal ini termasuk suatu aib. Oleh karenanya pembentukkan program ini dinilai sangat baik dan membantu jemaah wanita.

Program yang direncanakan oleh Dewan Kepengurusan Masjid Haramain ini sebenarnya telah dipublikasikan di situs resmi Pengurus Masjid Haramain (gph.gov.sa) pada hari pertama bulan Ramadhan. Namun hingga program ini berjalan, kesulitan masih dirasakan oleh pengurus terkait pemisahan shaf pria dan wanita, pasalnya terkadang jemaah pria yang ketinggalan rakaat shalat (masbuq) mengambil shaf shalat yang kosong tanpa memperhatikan wanita di dalam shaf tersebut. (fh/al-madina/gph)


Back to Top