Asuransi Syariah Makin Diminati Meski Rakyat 'Melek' Asuran Masih Sedikit

Jakarta, (gomuslim). Belakangan ini banyak bermunculan industri asurasnsi berbasis syariah yang telah melalui proses kajian yang ketat hingga pada akhirnya bisa menjadi sebuah produk terkini yang memberikan pilihan kepada masyarakat asuransi jiwa berbasis syariah.

Asuransi jiwa dan umum berbasis syariah pertama kali muncul pada tahun 1994, selisih 3 tahun dengan bank syariah pertama di Indonesia, yang dimotori oleh berbagai elemen masyarkat, seperti pengusaha muslim, Cendikiawan muslim, pemerintah, dan elemen lainnya dengan membentuk sebuah perusahaan syariah pertama bernama Takaful Indonesia. Barulah setelah itu banyak bermunculan asuransi berbasis syariah lainnya seperti ACA syariah, Adira Insurance syariah, AIG syariah, Allianz syariah, dan masih banyak lainnya yang tak kurang dari 45 industri asuransi berbasis syariah yang ada di Indonesia. Angka tersebut belum termasuk daftar perusahaan yang tengan menunggu untuk merambah pasar asuransi syariah di Indonesia.

Meskipun mencatatkan pertumbuhan pendapatan premi sebesar 4,4 % pada kuartal I tahun ini, bukan berarti peminat asuransi jiwa di Indonesia meningkat. Demikian juga dengan pangsa pasar asuransi syariah dari sisi aset yang terus mengalami pertumbuhan yang baik di setiap tahunnya, bukan berarti pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya asuransi jiwa serta berbasis syariah itu meningkat pula.

Justru, Warga negara Indonesia yang melek asuransi baru sedikit, apalagi dengan kondisi geografis negeri ini yang terdiri dari banyak pulau dan ditambah dengan tingkat kesenjangan ekonomi, kemiskinan yang masih tinggi, pembangunan yang masih terpusat di pulau jawa, serta minat yang rendah, membuat asuransi jiwa benar-benar bukanlah sesuatu yang menarik bagi sebagian besar masyarakat.

Hal ini tentu menjadi tantangan bagi para pelaku industri syariah selain mengekspansi secara masif ke masyarkat juga memberikan edukasi dan inovasi-inovasi khusus demi terciptanya masyarakat yang sadar asuransi di masa yang akan datang. Cara untuk mengedukasinya pun beragam. Dan salah satu yang sedang banyak dilirik para pelaku industry asuransi syariah adalah  financial technology atau perusahaan finansial berbasis teknologi internet, untuk meningkatkan nasabah asuransi sekaligus mengiformasikan produk-produk asuransi beserta pemahaman-pemahaman tentang asuransi.

Sebagai negara dengan latar belakang antropologi budaya yang sangat erat dengan agama, banyak di antara masyarakat Indonesia yang kemudian hidup di bawah stigmatisasi negatif dari agama itu sendiri. Seperti pada kasus asuransi jiwa. Banyak di antara masyarakat yang beranggapan bahwa jika menggunakan asuransi jiwa sama saja dengan melawan kehendak tuhan. Seolah-olah, dengan mengasuransikan jiwa sama saja seseorang telah menghindar dari kematian atau takut dengan kematian dan tidak percaya akan adanya qada' danqadar. (alp)


Back to Top