Film "Rudi Habibie"

Kisah Sang Jenius Gagas Industri Pesawat Terbang Indonesia

Jakarta, (gomuslim). Sosok dari Presiden RI ke-3 Prof. Dr. Ing. H. Bachruddin Jusuf Habibie tampaknya menyimpan banyak kisah inspiratif dari perjanalan hidup sejak kecil sampai perjuangan menuntut ilmu di German. Melalui Production House MD Pictures, Jumat, (24/06/2016) kembali diluncurkan satu film yang mengisahkan perjalanan seorang profesor Indonesia. Film berdurasi lebih dari 2 jam ini, sarat akan pesan-pesan yang sejatinya dapat dijadikan sebagai motivasi bagi generasi muda Nusantara.

Bachruddin Jusuf Habibi, sejak kecil dipanggil dengan sebutan Rudi Habibi maka film berjudul Rudi Habibie (Habibie & Ainun 2) Untuk Indonesia menceritakan Habibie muda yang energik, idialis dan religious. Dalam film ini dikisahkan pula bagaimana cerdasnya Habibie kecil yang memiliki rasa penasaran yang tinggi terhadap suatu pengetahuan, Ayahnya selalu berpesan padanya agar ia menjadi seperti mata air yang selalu memberikan kejernihan, kebersihan dan bermanfaat bagi banyak hal.

Rudi Habibie telah menjadi yatim saat ia masih duduk di bangku Sekolah Dasar, ketegarannya terlihat saat sang ayah meninggal ketika sujud dalam shalat berjamaah, kemudian ia menggantikan posisi imam sang ayah sampai selesainya shalat. Dari sini ibunya melihat bahwa dalam diri Habibie terdapat ketegaran dalam menghadapi cobaan hidup, yang semasa dewasa hal itu menjadi penyemangat Habibie ketika belajar dan memimpin organisasi di Jerman.

Film yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo ini melibatkan Reza Rahardian yang berperan sebagai Rudi Habibi. Bagi Reza memerankan tokoh Habibie pada film kedua ini merupakan satu langkah lebih mudah ketimbang film pertama yang berjudul Habibie dan Ainun. Namun dalam film Rudi Habibie, terlihat perbedaan alur cerita dimana film ini menceritakan kisah romantis tentang Habibie dan Ilona (Chelsea Islan) selain mengisahkan kecerdasannya ketika di hadapan profesor Jerman.

Ilona merupakan gadis Polandia yang tinggal di German dan menyintai Indonesia selain itu ia pun menaruh rasa cinta terhadap Rudi Habibie demikian pula sebaliknya. Namun cinta keduanya kandas karena kecintaan Habibie  jauh lebih besar untuk Indonesia dibanding rasa  cintanya terhadap Ilona.  Sikap nasionalisme yang ditonjolkan Habibie muda, tidak terlihat pada orasi-orasi pembakar semangat namun terlihat dalam bentuk gagasan pembangunan industry pesawat terbang untuk Indonesia. Ide ini makin terdengar setelah sering digaungkan olehnya ketika menjadi Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) cabang  Aachen, kala itu Habibie masih kuliah di Rheinisch-Westfaelische Technische University (RWTH).

Habibie muda berambisi untuk dapat mewujudkan industri dirgantara di Nusantara, lewat gagasan yang disampaikannya pada rapat PPI, ia menginginkan Indonesia yang baru merdeka harus membangun negeri dan salah satunya lewat kemandirian industri pesawat terbang hasil karya anak bangsa. Gagasannya ini sempat ditolak oleh rekan-rekannya di PPI namun semangatnya yang kuat tidak menggoyahkan niat mulianya.

yoyo

Selain menceritakan tentang gagasan Habibie, film yang berdasarkan kisah nyata ini di ambil dari buku berjudul  Rudi; Kisah Masa Muda Sang Visioner. Buku ini ditulis oleh Ginatri S. Noer, menurutnya penulisan buku ini telah melewati tahap riset yang panjang dan judul ini merupakan turunan dari hasil risetnya saat menulis Habibie dan Ainun. Terkait dengan proses produksi, Hanung selaku sutradara dalam konferensi pers menyampaikan bahwa tidaklah mudah untuk menyutradarai film ini, “Saya harus berpikir dalam bagaimana bisa men-direct film yang berkisah tentang pak Habibie, karena beliau ini sosok inspiratif, saya kenal beliau setelah jadi menteri dan banyak anak muda yang belum mengenal sosok beliau ketika menjadi mahasiswa di Jerman, nah dari sisi inilah yang saya angkat yakni untuk menginspirasi anak muda,” ujar Hanung di West Mall Grand Indonesia, Rabu, (24/06/2016).

Selain itu Manoj Punjabi selaku produser mengungkapkan bahwa sosok Habibie merupakan sosok inspiratif yang ia kenal secara pribadi, ketika ditanya tentang siapakah tokoh lainnya yang akan diangkat dalam sebuah film berikutnya ia hanya mengatakan, “Banyak tokoh Indonesia menginspirasi kita, namun untuk Eyang Habibie, saya lebih mengenal sosok beliau secara langsung dan nyata itu yang membuat saya tertarik  untuk terus memproduksi film tentang beliau,” ujarnya pada gomuslim usai konferensi pers di Grand Indonesia.

Manoj pun berharap agar film ini dapat laku di pasaran bioskop tanah air dan dapat terjual 10 juta karcis. Bagi Manoj film ini layak ditonton untuk semua umur dan film ini bukan film biasa melainkan film yang menyampaikan nilai pendidikan dan menginspirasi banyak orang, di mana putra bangsa Indonesia mampu menjadi bintang yang bersinar di Eropa maka ini merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi negeri ini.

Film yang diproduksi oleh MD Pictures ini baru akan diputar serentak seluruh Indonesia pada 30 Juni 2016. Untuk sound design film, ditangani langsung oleh Chris David seorang sound designer  film-film Hollywood seperti, The Expendables, Milk, Face off, Alien 3 dan banyak lagi yang lainnya. “Ini adalah film pertama Indonesia yang saya tangani langsung sound designnya sebelumnya belum ada film Indonesia yang sound-nya memiliki standard Hollywood,” ujar Chirs pada gomuslim.

MD Pictures mengklaim bahwa ini adalah film spesial yang pernah diproduksi, film yang menelan dana 30-an miliar rupiah ini diproduksi selama kurang lebih 3 bulan dan selama itu seluruh karyawan MD Pictures hanya fokus pada satu film ini saja karena ke depannya film tentang Habibie ini akan dijadikan semacam Habibie Universal yang ceritanya dapat ditayangkan dalam film yang terus berlanjut.

Tentunya sangat disayangkan jika melewati kisah perjalanan Habibie muda saat menuntut ilmu di Jerman, oleh karena itu saksikanlah Rudi Habibi di bioskop terdekat pada (30/06/2016). (fh)


Back to Top