Menuju World Islamic Economic Forum

Industri Syariah Dalam Negeri Masih Fluktuatif

Jakarta, (gomuslim). Menuju perhelatan akbar bertajuk syariah yakni Forum Ekonomi Islam Dunia ke-12 (The 12th World Islamic Economic Forum/WIEF) Agustus mendatang, industri syariah di Indonesia masih fruktuatif. Tercatat, sektor-sektor potensial untuk mendukung pertumbuhan ekonomi syariah di Indoneisa seperti, industri kreatif, wisata Islam dan pasar makanan halal, perbankan syariah, asuransi syariah, fashion, dan sejumlah sektor lainnya masih belum bergerak mulus secara bersamaan. Seperti misalnya dalam hal fashion syariah. Fashion syariah di Indonesia telah diakui dunia sebagai salah satu yang paling potensial dalam ranah industri syariah. Alasannya adalah, saat ini produk-produk fashion syar’i dari Indonesia telah menembus pasar internasional hingga menjadikan Indonesia sebagai negara pengekspor produk fashion syar’i nomor 1 di dunia. Pertumbuhan konsumen fashion syar’i di dalam negeri pun juga tak kalah menggairahkan. Terbukti dengan banyak bermunculan pameran-pameran produk-produk fashion syar’i di negeri ini.

Demikian juga pasar makanan halal di Indonesia, terus mengalami perkembangan yang signifikan. Baik untuk konsumsi dalam negeri maupun untuk keperluan ekspor. Kekhawatiran warga atas beredarnya makanan yang tidak sehat serta perilaku dari oknum-oknum pengusaha “nakal” disinyalir sebagai salah satu faktor terbesar meningkatnya industri halal food di Indonesia. Selain itu, kesadaran masyarakat akan produk-produk syariah, dalam hal ini halal food, yang semakin meningkat juga memberikan sumbangsih yang tinggi terhadap perkembangan industri halal food di negeri ini. Masyarakat beranggapan bahwa jika sebuah produk makanan telah berlabel halal atau mendapat jaminan halal, maka produk itu hampir dapat dipastikan mutunya, mulai dari mutu keamanan produk hingga mutu kualitas produk tersebut. Peminat produk halal food pun saat ini tidak datang dari kalangan warga muslim saja, melainkan dari warga non-muslim yang juga mulai menyadari pentingnya produk-produk halal food.

Akan tetapi, sentimen positif fashion syar'i dan produk-produk halal food di Indonesia dalam membantu percepatan laju pertumbuhan industri syariah di Indonesia tidak lantas dibarengi pertumbuhan yang baik pula di sektor lain. Perbangkan dan asuransi syariah misalnya, saat ini kontribusinya dalam membantu percepatan pertumbuhan industri syariah dan perekonomian Indonesia khususnya, masih tergolong kecil. Untuk perbankan syariah kontribusinya hanya mencapai angka 5 persen dari total aset perbankan di Indoesia. Tak jauh berbeda dengan perbankan syariah, asuransi syariah di nusantara pun masih tergolong kecil. Meskipun kini banyak bermunculan asuransi syariah dengan produk-produknya yang beragam serta pertumbuhan aset asuransi syariah yang menyentuh angka 5.47%, bukan berarti hal itu mengindikasikan bahwa peminat asuransi syariah bertambah. Jangankan asuransi syariah, perbankan syariah saja banyak yang masih belum mengetahui secara persis perbedaannya dengan bank-bank konvensional pada umumnya.

Namun, secara umum, pertumbuhan industri syariah di Indonesia sudah sangat baik. Hanya saja, laju percepatannya yang memang harus ditambah. Mengingat, besarnya permintaan dari berbagai sektor industri syariah di dunia telah mendorong banyak negara untuk mengambil peluang tersebut, bahkan untuk negara-negara dengan mninoritas muslim sekalipun, seperti Tiongkok, Thailand, Vietnam, dan lain sebagainya.

Dukungan dari pemerintah pun diakui sebagai syarat mutlak untuk memenangkan persaingan menjadi negara dengan industri syariah yang produktif dalam memenuhi permintaan pasar dalam negeri dan global. Terlebih, kini dorongan untuk partumbuhan keuangan dan industri syariah tidak hanya datang dari pemerintah Indonesia, melainkan juga dari dunia melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagaimana yang telah mereka sepakati mengenai pentingnya peran industri dan keuangan syariah dalam pembangunan berkelanjutan secara global untuk mencapai tujuan dari Sustainable Development Goal's (SDG's) di 2030 yang menargetkan tercapainya pengentasan kemiskinan, dunia tanpa kelaparan, kesehatan yang baik dan kesejahteraan, pendidikan yang berkualitas, kesetaraan gender, ketersediaan air bersih dan sanitasi, energi bersih dan terjangkau, pertumbuhan ekonomi dan pekerjaan yang layak. (alp)


Back to Top