Kembali Pada Prinsip-Prinsip Alquran, Kunci Meningkatkan Kualitas Perbankan Syariah

Jakarta, (gomuslim). Berbagai inovasi telah dilakuakn yag perencanaannya dimulai dari dorum besar seperti Annual Meeting IDB, World Islamic Economic Forum (WEIF), Forum Riset Keuangan Syariah (FREKS) hingga forum kecil seperti rapat kerja OJK, perbankan syariah, dan lain sebagainya. Namun, perkembangan perbankan syariah tak kunjungan berkembangan dengan signifikan. Padahal, dalam perbankan syariah yang menerapkan sistem murabahah akad-akad seperti mudharabah, musyarokah, salam, istisna, dan ijaroh serta meninggalkan riba, penipuan, dan perjudian yang dipandang sebagai praktik bermuamalah yang terbaik ini, perbankan syariah seharusnya bisa terus mengalami perkembangan yang signifikan. Karena prinsip-prinsip itu pada dasarnya kembali kepada Alquran. Tentu saja tidak ada yang perlu diragukan lagi dengan kitab suci umat muslim itu.

Terkait perkembangan perbankan syariah khususnya dalam hal market share, Direktur Utama BNI Syariah Imam Teguh Saptono menyatakan prinsip dan nilai dari bank syariah harus kembali kepada kaedah Alquran dalam pengembangan ekonomi syariah. Kwmudian beliau menambahkan saat ini, mayoritas umat muslim tidak membuat bank syariah menjadi hebat, yang menjadi hebat dari bank syariah adalah prinsip dan nilainya dan tidak lain yang membuat hebat bank syariah atau ekonomi syariah adalah Alquran.

Berdasarkan data OJK sendiri, hingga Maret 2016, aset perbankan dan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) Syariah mencapai Rp 359 triliun dengan rincian perbankan syariah Rp 290 triliun dan IKNB Syariah Rp 69 triliun. Sedangkan sukuk negara telah mencapai Rp 376 triliun.

Tentu saja hal ini belum cukup besar bila dibandingkan asat perbankan konvensional yang mencapai ribuan triliun. Maka dari itu, perlu adanya semacam koreksi terkait problem ini. Terutama, kesadaran dari masyarakat dalam memajukan ekonomi syariah melalui perbankan syariah. Di Indonesia sendiri, kesadaran terhadap perbankan syariah memang ada namun persentasenya masih tergolong kecil. Kesadaran terhadap perbankan syariah ini kemudian membelah kriteri konsumen terhadap perbankan syariah menjadi dua, pertama disebut syariah loyalis dan floating nasabah. Syariah loyalis adalah nasabah yang memilih bank syariah terlepas dari apa pun pertimbangannya semata-mata karena pertimbangan keyakinan. Adapun floating nasabah, yaitu mereka yang memilih bank syariah karena memiliki benefit yang lebih baik dengan persentase sebesar 80 persen.

Dengan data tersebut, sebetulnya tidak ada yang salah dengan konsepsi masyarakat terhadap perbankan syuariah. Dari situ, konsumen perbankan syariah terindikasi bahwa mereka sudah lebih cerdas dan dapat membedakan positif negatif antara perbankan syariah dan konvensional dan tak ada yang salah dengan hal itu. Namun, jika ditelaah lebih lanjut, justru dengan data tersebut, masyarakat tidak menyadari pentingnya menjalankan prinsip-prinsip syariah yang notabene kembali kepada Alquran tersebut terlepas dari sisi benefit terlebih dahulu.

Jadi, perlu adanya sosialisasi ulang agar kesadaran masyarakat dapat menjadi lebih terarah ke arah yang positif, yakni kesadaran akan pentingnya melaksanakan prinsip-prinsip syariah, bukan berfokus kepada benefit. Di samping itu, konsep market share perbankan syariah pun harus dievaluasi terus menerus sehingga mengahasilkan pembaharuan-pembahuran yang menarik perhaian warga terhadap perbankan syariah dengan persentase yang lebih besar lagi.

 

 


Back to Top