Kemiripan Cara-Cara Rasulullah dan BJ Habibie Dalam Memulihkan Indonesia

Jakarta, (gomuslim). Beberapa hari yang lalu, film Rudy Habibie resmi dirilis. Animo masyarakat terhadap film itupun terbilang sangat tinggi. Tak hanya datang dari warga biasa, kalangan pejabat dan petinggi negara pun turut menyempatkan diri untuk menonton film tersebut disela kesibukan mereka. Tercatat, Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono, Gubernur Jakarta Basuki Tjahja Purnama, dan sejumlah tokoh serta pejabat lainnya. Di antara mereka ada yang memuji keceradasan habibie dalam hal akamdemik. Kemudian, ada juga yang mengagumi konsep ekonomi ala habibie atau dalam bahasa pers disebut Habibienomics. Konsep ekonomi habibie dinilai ampuh dan sangat tepat dengan situasi saat itu. Bahkan, dalam konteks agama, apa yang BJ habibie lakukan, mulai dari ia ditetapkan menjadi Presiden hingga di akhir masa jabatannya, beliau melakukan apa yang dahulu pernah Rasulullah lakukan. Disadari atau tidak, disengaja atau tidak, BJ habibie telah melakukannya.

Sebagaimana yang kita ketahui, di awal masa pemerintahannya, Krisis ekonomi yang terjadi saat itu sangat menghantam daya beli masyarakat, sejumlah koorporasi kolaps, pun perbankan luluh lantak. Kemiskinan dan kejahatan meningkat, banyak yanmg putus sekolah, dan tingkat ketidakpercayaan terhadap pemerintah yang tinggi, serta segudang permasalah lainnya. Menyikapi itu, pasca dilantik menjadi presdien RI ketiga, habibie memang fokus pada banyak hal, terutama ekonomi. Namun, jangan lupakan satu hal yang justru menjadi hal yang terpenting. Habibie juga memfokuskan kepada peningkatan SDM. Dalam hal ini, Ketua Dewan Direktur Center for Information and Development Studies (CIDES), Umar Juoro pernah mengatakan bahwa Habibienomics mulai diterapkan sebagai konsep baru yang mengunggulkan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Hal ini pun juga pernah dilakukan Rasulullah ketika di awal-awal mendidirikan komunitas muslim di negara Madinah, Rasulullah mengajarkan tatanan etik, moral, dan sosial bagi masyarakat atau peningkatan SDM sesuai dengan kebutuhan pada zaman itu, yakni cenderung kepada moralitas dan etika. Artinya, antara BJ habibie dan Rasulullah sama-sama memprioritaskan kualitas SDM sesuai dengan kebutuhan di zaman masing-masing.

Selanjutnya, dalam memulihkan situasi politk pun, Habibie merangkul semua lapisan masyarakat dengan baik. Terlihat dari komposisi kebinet pada saat itu, militer (ABRI), Golkar, PPP, dan PDI yang notabene kesemuanya adalah para pemain penting dalam perpolitikan Indonesia pada saat itu. Kemudian, indikasi lainnya terlebih dari angka partisipasi masyarakat yang meningkat dalam mengikuti pemilu dan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Dan hal serupa pun juga dilakukan Rasululah SAW ketika dalam proses memulihkan dan mempersatukan, beliau menghapus semua sentimen kesukuan dan sejenisnya hingga situasi pergolakan masyarakat pada saat itu dapat ditekan sehingga menimbulkan stabilitas politik yang baik.

Ketika di akhir masa jabatannya pun, apa yang dilakukan BJ Habibie juga dilakukan Rasulullah SAW. Ketika Presiden pengganti BJ habibie dilantik, apa yang telah beliau lakukan dan wariskan untuk pemerintahan selanjutnya adalah pemerintahan yang kokoh dan dapat dilanjutkan oleh siapapun penggantinya. Lagi-lagi, hal serupa pun juga dilakukan Rasulullah SAW. Dalam sejarah, justru Islam berkembang pesat hingga kekuasaannya mencapai 2/3 bagian bumi yang menandakan bahwa pondasi pemerintahan yang kokoh yang telah diwariskan oleh sang nabi telah memudahkan pemerintahan selanjutnya untuk mengembangkan negara tersebut. Hal ini pun diakui oleh seorang orientalis Barat terkemuka, William Montgomery Watt dalam bukunya yang terkenal bertajuk Muhammad: Prophet and Statesman. Dalam buku tersebut, dikatakan bahwa Muhammad telah melakukan tugas yang sempurna sebagai negarawan dengan cara-cara yang dapat diterima oleh rasio akal manusia.

Dalam konteks perekonomian pun juga demikian. Terdapat kesamaan antara yang dilakukan BJ habibie dan Rasulullah, yakni dalam hal menekankan pentingnya nilai tambah atau keunggulan kompetitif bukan justru menekankan pada murahnya biaya alias keunggulan komparatif. Dengan langkah-langkah yang dilakukan habibie dari awal hingga akhir masa jabatannya, Indonesia berhasil bangkit dari keterpurukan. Indikasi yang paling nyata adalah membaiknya nilai tukar rupiah terhadap dolar yang semula di posisi Rp 17 ribu menjadi Rp 7 ribu.


Back to Top