600 Loker Disediakan Bagi Jemaah yang Ingin Laksanakan Iktikaf di Masjidil Haram

Mekkah, (gomuslim). Jika di Masjid Nabawi, pengurus telah menyediakan lemari kecil sebanyak 1.000 buah maka di Masjidil Haram hanya tersedia 600 lemari yang diletakkan di ruangan King Abdullah. Lemari-lemari ini diperuntukan bagi jemaah yang melaksanakan iktikaf di dalam Masjidil Haram pada 10 hari terakhir di bulan suci Ramadhan. Jika dilihat dari bentuknya yang semacam laci bertumpuk maka lemari-lemari ini lebih tepatnya dinamakan loker.

Loker yang disediakan oleh Pengurus Masjidil Haram disinyalir lebih berkualitas karena tahan dalam kondisi panas, basah, tidak karat dan anti rayap. Sehingga loker tersebut tentunya sangat membantu jemaah yang melaksanakan iktikaf agar barang-barangnya dapat tersimpan rapi dan aman. Dengan demikian keindahan Masjidil Haram dapat terjaga.

Selain itu, loker ini dilengkapi kunci dengan sistem canggih menggunakan sistem electric lock, kemudian terdapat lampu LED di dalamnya dan USB port untuk mengisi ulang baterai telepon genggam. Direktur Departemen Kebersihan Masjidil Haram Ir. Muhammad Al Waqdaniy, menjelaskan bahwa loker yang disediakan di Masjidil Haram lebih mengedepankan ketahanan durasi pemakaian dan fasilitas yang tersedia dapat mempermudah penyimpanan barang bagi pemakainya.

Dua hari sebelumnya Masjid Nabawi Madinah telah mengadakan 1.000 lemari kecil yang bersifat portable, namun dari segi fasilitas yang tersedia, 1.000 lemari  kecil di Masjid Nabawi tidak selengkap loker yang ada di Masjidil Haram. Kendati demikian, pemakaian lemari tersebut hanya 10 hari saja maka dari aspek manfaatnya masih dapat dikatakan bahwa lemari-lemari kecil tersebut sudah dapat membantu jemaah beriktikaf khususnya untuk penyimpanan barang-barang pribadi.

Pada dasarnya pengadaan lemari bagi para muktakif (orang yang melakukan iktikaf), adalah untuk menjaga ketertiban, kerapian dan keindahan masjid. Maka sejatinya pengadaan ini bukanlah untuk menonjolkan keunggulan pelayanan, namun lebih kepada asas manfaat dan pengabdian terhadap umat dan agama Allah.

Kedua masjid suci ini (Masjid Nabawi dan Masjidil Haram) merupakan satu manajemen kepengurusan yang dipimpin oleh seorang ketua umum, sehingga program yang dicanangkan pada Masjid Haramain selalu ditemukan kesamaan, seperti halnya pelayanan terhadap para jemaah yang melakukan iktikaf, takjil dan  penyediaan air Zamzam. (fh/gph)


Back to Top